
...Selamat datang di novel karya...
...πππ’ππ ππππ¦πβππ/PIMOYαΆ α΅βΏβΏΚΈ πΌ...
...semoga kalian suka ya βΊοΈ....
...Like, Vote, Koment, & klik β₯οΈ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya βοΈ...
...π»ππππ¦ π ππππππ...
...............
"Moona jangan pergi dulu. Kamu harus mengerti kondisimu sendiri moona," cegah Juna saat sang mama Aica tidak mampu menghentikan langkah moona yang memaksa ingin bertemu dengan sunny.
"Lepasin aku Jun! Lepasiiiin!" moona berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Juna.
Juna berusaha menggenggam tangan moona tetapi selalu ditepis oleh gadis tersebut. Juna bahkan melihat selang infus yang sudah dilepas secara paksa oleh Moona. Sehingga menyebabkan darah segar keluar dari pergelangan tangan moona bekas diinfus tersebut.
"Moona... tapi kamu masih sakit moona. Aku mohon ya, kamu harus mengasihani dirimu juga moona," pinta Juna kali ini dengan nada lembut dan memohon.
Juna mencoba dengan cara yang lebih halus untuk membujuk moona yang baru tersadar dari komanya. Juna tidak ingin jika moona sampai ngedrop kembali.
Dia tahu moona itu anaknya begitu keras kepala dan dia tidak akan bisa membuat moona luluh jika Juna juga menggunakan kekerasan. Bahkan kalau semakin dipaksa maka moona akan jauh lebih keras kepala nantinya.
"Baiklah moona aku akan katakan yang sebenarnya. Dan aku berjanji akan membawamu ke tempat sunny di rawat asalkan kamu mau menuruti omonganku. Kamu berjanji melakukan itu semua?" tanya Juna dengan lebih sabar lagi menghadapi Moona. Menjadi teman dekat dan mantan kekasihnya membuat Juna belajar banyak cara menghadapi keras kepalanya seorang moona.
Moona sangat terkejut saat mendengar penjelasan dari mama Aica kalau sunny lah orang yang sudah menyelamatkan moona. Sehingga kecelakaan yang menimpa moona saat itu tidak terlalu menyebabkan luka yang lebih parah. Tetapi justru sunny yang berkorban demi moona. Sunny menderita luka yang cukup parah dan serius daripada moona.
"Sunny sedang koma saat ini," ucapan Juna membuat moona seketika menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang di dengarnya.
"Tidak... Tidak... itu tidak benar kan Jun..." air mata moona jatuh tak tertahankan lagi.
Mendengarkan sebaris kalimat yang terlontar dari bibir Juna. Pemuda itu tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya. Moona yang melihat ekspresi Juna seketika meyakini kalau Juna tidak sedang bermain-main dengannya. Pemuda itu sedang serius dengan apa yang telah disampaikannya.
"Jadi... jadi waktu mengalami kecelakaan. Sunny lah orang yang menyelamatkan aku waktu itu? Apakah benar sunny yang sudah mendorongku dan mengorbankan dirinya sendiri?" moona sudah tak kuasa menahan tangis.
Bayangan demi bayangan saat dia akan ditabrak mobil itu kembali berputar di otaknya. Dia sekarang baru mengerti bahwa ada sebuah dorongan yang cukup keras membuat tubuhnya oleng ke samping dan dia juga sempat melihat sekilas bayangan pemuda yang menyelamatkan dirinya. Hanya saja kejadian itu berlangsung begitu cepat sehingga moona tidak bisa mencerna dengan baik. Karena dia juga seketika pingsan setelah mengalami benturan keras dikepalanya.
"Sunny ada di ruangan yang tidak jauh dari sini. Aku akan mengantarkanmu ke ruangan sunny. Akan tetapi kamu harus mau dipasang infus dulu sebelum kamu pergi ke sana. Kamu juga masih sakit moona. Jangan abaikan kesehatan kamu sendiri. Jangan membuat sunny bersedih karena kamu yang bandel. Dia sudah mengorbankan dirinya demi keselamatan kamu moona. Hargai pengorbanan dia dengan menjaga kesehatan kamu. Sehingga kamu bisa benar-benar pulih dan menjaga dia yang masih koma di sana," ujar Juna memberikan motivasi kepada Moona.
"Sunny......" ujar lirih moona dalam tangisannya.
Gadis itu sampai meremat baju rumah sakit yang dia kenakan. Dadanya terasa sakit mendengarkan nasihat dari Juna, mantan kekasihnya. Tetapi apa yang dikatakan oleh lelaki itu benar adanya. Dia harus kuat demi bisa menjaga sunny yang sedang membutuhkan dia saat ini.
'Moona.... semoga kamu kuat menghadapi semua ini. Aku hanya berdoa yang terbaik untuk kebahagiaan kamu. Jika dia memang orang yang bisa membuat kamu bahagia. Aku ikhlas merelakan kamu untuknya. Dia juga sudah membuktikan kepadaku. Bahwa dia rela menukar nyawanya demi keselamatan orang yang dia cinta'
...----------------...
Bersambung πΌ