
...Selamat datang di novel karya...
...πππ’ππ ππππ¦πβππ/PIMOYαΆ α΅βΏβΏΚΈ πΌ...
...semoga kalian suka ya βΊοΈ....
...Like, Vote, Koment, & klik β₯οΈ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya βοΈ...
...π»ππππ¦ π ππππππ...
...............
Plaaakk!
"Mas sandi!!"
Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi Sora. Dan yang melakukan hal tersebut adalah ayahnya sendiri. Seorang ayah yang sudah lama tidak memperdulikannya.
Ayah yang hanya memberikan materi saja. Tanpa peduli dengan kondisi mentalnya selama ini. Apalagi sejak sang ibu tiri memiliki anak laki-laki yang begitu diperhatikan oleh sang ayah. Jujur saja Sora sebenarnya sangat iri dengan adik tirinya tersebut. Tetapi apa boleh buat? pengaruh sang ibu tiri membuat dia sendiri jauh dari kasih sayang dan juga perhatian seorang ayah. Dia seperti hidup seorang diri sejak kematian sang kakak, Soni.
"Mas Sandi apa-apaan sih? Mas sandi bukannya datang dengan kepala dingin. Malah main tampar sembarangan saja," ujar dokter Vania yang juga merupakan Tante dari Sora.
Adik sepupu Sandi tersebut tidak habis pikir dengan kelakuan kakaknya tersebut. Dia sudah cukup berbesar hati mengatakan apa yang terjadi dengan sora. Tetapi sikap Sandi yang datang-datang ke kantor polisi justru asal main fisik saja. Cukup membuat Vania merasa kecewa akan sikap sang kakak sepupu.
"Jangan ikut campur kamu Vania. Inilah akibatnya kalau kamu sering memanjakan dia. Apa yang sudah dia lakukan ini mencemarkan nama baik papanya. Bahkan keluarga besarnya. Dimasukkan kedalam penjara dengan tuduhan rencana pembunuhan. Ini benar-benar gila. Otak kamu taruh mana Sora. Hanya karena seorang lelaki kamu gila seperti ini. Kamu ini kurang apa selama ini dari papa hah? papa sudah berikan semua materi yang kamu butuhkan. Papa kerja dari pagi sampai malam demi semua anak-anak papa. Tidak ada yang papa beda-bedakan. Tetapi apa yang papa dapatkan saat ini, hah???? Apa?? Kamu memang anak yang tidak bisa diuntung ya!" ujar sandi dengan nada geram. Dia datang ke kantor kepolisian dengan amarah yang menggebu-gebu saat sang istri mengatakan jika anaknya tersandung kasus hukum.
Sora hanya terdiam sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras sang papa. Bukan hanya fisiknya yang sakit tetapi juga hatinya terasa perih dengan ucapan yang terlontar dari mulut sang papa. Begitu pedas dan juga menyakiti hatinya. Sedangkan Vania hanya bisa memeluk gadis remaja itu dan menyalurkan kekuatan agar gadis itu tegar menghadapi amukan dari kakak sepupunya tersebut.
"Kamu mengecewakan papa, Sora. Kamu sudah mencoreng nama baik papa dihadapan semua rekan-rekan bisnis dan juga keluarga besar kita. Kamu memang anak yang tidak tahu diuntung. Soni dulu terlalu memanjakan kamu. Jadinya begini, Kamu terlalu dimanjakan menjadi bodoh. Tidak punya otak dalam bertindak. Papa menyesal sudah mamamu sudah melahirkan anak seperti kamu!"
"Cukup pa! Cukup!!!!!" teriak Sora yang sudah tidak kuat lagi mendengar cacian dari sang papa.
Sora tidak terima jika sang papa membawa-bawa nama sang mama. Dalam hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan mamanya dan juga kakaknya. Mereka berdua adalah orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Ya, kenapa!" tantang Sora dengan air mata berlinang. Dia menatap sang papa dengan berani. Ucapan papanya menyinggung almarhumah mama dan almarhum kakaknya tidak bisa Sora terima.
"Papa selalu saja menyalahkan orang lain. Papa tidak pernah berkaca kepada diri papa sendiri. Papa hanya mengatakan sudah bertanggungjawab dengan materi. Sudah memberikan ini itu. Memberikan fasilitas yang nyaman. Memberikan segalanya kepadaku. Oke! Fine! Aku akui itu memang benar pa. Aku ucapkan terima kasih atas semua fasilitas dan materi yang sudah papa berikan kepadaku," Sora mencoba menghela napas kemudian melanjutkan perkataannya.
"Tetapi papa lupa satu hal. Papa melupakan bahwa aku juga manusia pa. Aku bernyawa, aku hidup, aku memiliki perasaan. Aku ini anak perempuan papa. Aku juga ingin disayangi, diperhatikan, dihargai keberadaannya. Aku tidak pernah mendapatkan itu dari papa!" teriak Sora dengan berderai air mata.
Vania yang ada di belakang Sora ikut menangis mendengar curahan hati keponakan tersebut.
"Aku selama ini berharap papa mau menghubungiku. Menanyakan bagaimana kabarku? Apakah aku baik-baik saja? Tetapi papa tidak pernah melakukan hal itu. Setiap kali aku menghubungi papa, apa jawaban papa. Papa selalu sibuk. Selalu sedang rapat. Bahkan di hari ulang tahunku saja papa nggak pernah ada. Papa nggak pernah ada ...hiks...hiks...hiks... Hanya kak Soni yang selalu ada buat aku. Kakak selalu mengatakan kalau papa bekerja demi kami. Aku berusaha memaklumi itu semua pa. Aku percaya bahwa papaku mencintaiku. Hiks ..... hiks... hikss ....." Sora menjeda kembali dan menangis dengan tertahan sambil memukul-mukul dadanya. Sungguh sakit rasanya saat dia teringat dengan apa yang pernah dia alami. Kesakitan, kesepian dan sendirian dengan segala kemewahan yang dia dapatkan.
"Aku hanya butuh papa.....hiks...hiks...a...aku hanya butuh papa sekedar menanyakan ku saja bahkan papa nggak ada waktu. Papa sudah melupakan aku dan kakak sejak papa menikah kembali. Apalagi setelah kak Soni pergi. Perhatian papa hanya terfokus dengan adik Steven saja. Sedangkan aku justru kalian berdua abaikan. Aku kalian singkirkan dan tidak pernah kalian anggap," ujar Sora sambil menangis tersedu-sedu. Baru kali ini dia mengakui semua perasaannya kepada sang papa.
"Ingin rasanya aku mengikut mama dan kakak saja pa. Aku sudah tidak kuat hidup sendirian seperti ini. Maaf jika aku hanya bisa mengecewakan papa saja. Aku memang bukan anak yang baik buat papa. Selamat tinggal pa."
"Sora...."
"Sora! Soraaaa!" Vania hendak menarik lengan Sora tetapi keponakannya itu sudah masuk kembali ke dalam sel tahanan. Polisi juga melarang dia untuk masuk.
"Puas kamu mas!! Puasssss kamu sudah menghancurkan hati anakmu sendiri!" seru Vania tertahan karena mereka masih berada di kantor kepolisian.
"Kamu sudah lama menganggap anak itu mati. Kamu tidak peduli bagaimana psikis dia selama ini. Sora itu anakmu juga mas. Dia anak kandungmu. Benih cintamu dengan almarhumah. Tetapi kamu sia-siakan dia. Sampai dia seperti ini. Kamu orang tua yang tega mas. Dan kamu lebih mementingkan keluarga barumu daripada mereka. Semoga saja Allah tidak memberikan kamu karma atas semua yang sudah kamu lakukan kepada kedua anak kamu mas."
"Vania...."
Sandi hendak menghentikan langkah dokter Vania tetapi wanita itu sudah lebih dulu menghindar. Sandi hanya bisa tertunduk lesu di meja ruang tunggu tersebut. Dia merasa gagal menjadi seorang ayah. Setelah kehilangan Soni, putra pertamanya. Dan sekarang dengan apa yang menimpa putrinya.
"Maaf Stefani... maaf .. aku nggak bisa menjaga anak-anak kita," lirih sandi mengenang almarhumah istri pertamanya.
...----------------...
Bersambung πΌ