
...Selamat datang di novel karya...
...πππ’ππ ππππ¦πβππ/PIMOYαΆ α΅βΏβΏΚΈ πΌ...
...semoga kalian suka ya βΊοΈ....
...Like, Vote, Koment, & klik β₯οΈ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya βοΈ...
...π»ππππ¦ π ππππππ...
...............
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu ruangan dibuka dari dalam.
Ceklek
"Keluarga pasien silakan masuk. Ada yang ingin dokter sampaikan kepada keluarganya."
Ketiga orang yang berada di luar ruangan itupun masuk. Mereka ingin tahu keadaan moona yang sebenarnya.
"Kondisi pasien tidak apa-apa. Pasien sudah melewati masa kritisnya. Dan sementara jangan diajak banyak berbicara dulu. Pasien masih merasakan pusing di kepalanya akibat benturan yang cukup keras. Jadi saya harap keluarga bisa membiarkan pasien banyak beristirahat terlebih dahulu. Saat ini pasien baru saja saya berikan suntikan untuk kembali beristirahat. Jadi nanti jangan kaget kalau pasien merasakan kantuk kembali. Masih ada yang ditanyakan sampai sini?" tanya dokter yang menangani kondisi moona.
"Tidak ada dokter, terimakasih sudah berusaha demi kesembuhan putri kami," ujar papa Rico mengucapkan terimakasih kepada dokter yang telah merawat putrinya selama koma.
"Sama-sama bapak, itu sudah menjadi kewajiban kami. Kalau nanti ada sesuatu dengan pasien. Bisa langsung tekan tombol emergency. Kalau begitu kami semuanya pamit, permisi," dokter dan beberapa perawat meninggalkan ruangan yang ditempati oleh Moona.
Papa Rico, Mama Aica dan juga Juna mendekati brankar milik moona. Kedua orang tua moona berada di samping kanan dan kirinya. Sedangkan Juna berdiri di dekat kaki moona. Kedua orang tua moona mencium tangan sang putri dan juga mengucapkan terimakasih karena putri mereka telah kembali. Moona sudah sadarkan diri dan bisa kembali bersama mereka.
"Terimakasih sayang sudah kembali kepada kami," ucap papa Rico sambil memberikan kecupan hangat di kening sang putri yang masih terbalut oleh perban di kepalanya.
"Apa yang terjadi denganku sebenarnya pa?" tanya moona yang tidak ingat dengan apa yang telah menimpanya.
Dia benar-benar tidak bisa ingat kecuali ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Dan setelah itu dia merasakan tubuhnya yang melayang dan sakit karena membentur sesuatu. Setelah itu dia hanya merasakan gelap dan tidak ingat apa-apa lagi.
"Kamu mengalami kecelakaan nak, kamu tidak sadarkan diri selama tiga hari. Kamu mengalami luka yang cukup berat di kepala. Makannya kamu mengalami sakit di kepala seperti sekarang ini," kata mama Aica menjelaskan kepada sang putri apa yang sebenarnya telah dia alami.
Moona hanya ber-oh saja mendengar apa yang sudah dia alami. Dia sendiri masih merasakan puzzle-puzzle yang menimpa dirinya seperti apa. Dia masih belum bisa mencerna dengan baik dengan kejadian yang telah menimpa dirinya.
"Aku mengantuk ma," lirih moona kepada sang mama.
Mama Aica segera mendekat dan menepuk-nepuk pelan tangan sang putri.
"Tidurlah nak, mama dan papa akan menjaga kamu di sini. Tidurlah sayang," ujar mama Aica menidurkan sang putri layaknya putrinya dulu masih kecil.
Tidak lama kemudian moona sudah kembali terlelap. Mama Aica masih menepuk-nepuk pelan tangan sang putri dan sesekali menciumnya karena tangan itu tidak ada saluran infusnya.
Papa Rico menghela napas panjangnya. Dia menoleh kepada Juna yang sedari tadi terdiam di dekat kaki sang putri.
"Kita duduk di sana saja Juna," ajak papa Rico mengajak Juna untuk duduk di luar ruangan moona. Dia tidak mau nantinya menceritakan hal yang tidak seharusnya di dengar moona. Apalagi kondisi anaknya yang belum membaik itu. Moona masih membutuhkan banyak istirahat setelah koma yang dia derita.
"Baik om," Juna mengikuti langkah papa moona.
Dia meninggalkan ruangan rawat inap moona setelah mengusap perlahan kaki moona. Juna menatap moona dengan pandangan sedih. Dia tidak menyangka hal ini akan menimpa orang yang dia cintai. Semoga saja nanti moona kuat menerima apa yang telah terjadi kepada sunny. Dan Juna akan selalu berada di sisi moona. Apapun yang terjadi nanti.
...----------------...
Bersambung πΌ