SUNMOON

SUNMOON
SM 78



...Selamat datang di novel karya...


...π‘†π‘žπ‘’π‘Žπ‘‘ π‘ƒπ‘’π‘›π‘¦π‘–β„Žπ‘–π‘Ÿ/PIMOYᢠᡃⁿⁿʸ 🌼...


...semoga kalian suka ya ☺️....


...Like, Vote, Koment, & klik β™₯️ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya ✌️...


...π»π‘Žπ‘π‘π‘¦ π‘…π‘’π‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘”...


...............


Juna sampai di kediaman om dan tantenya. Dia mendadak dihubungi oleh Vania yang sedang bingung mencari keberadaan keponakannya. Juna memarkir motornya di garasi rumah sang om.


"Assalamualaikum," Juna mengucapkan salam meski pintu di rumah itu terbuka.


"Waalaikumsalam," terdengar sahutan dari dalam.


Tampak om nya yang sedang panik menenangkan tantenya yang menangis. Juna merasa ada yang tidak beres di sini. Kenapa keduanya tampak sedih dan juga panik seperti itu.


"Om Vano? Tante Vania? kok pada berkumpul disini? Ada apa om kok Tante Vania menangis?" tanya Juna yang ikut duduk di sofa berseberangan dengan pasangan suami istri itu.


Vania masih menangis sambil mencoba menghubungi teman-teman keponakannya. Tetapi tidak ada satupun yang tahu tentang keberadaan Sora. Bagaimana Vania nggak panik kalau diberitahu sama pembantu di rumahnya sang kakak kalau keponakannya belum pulang. Padahal jam sudah melebihi jam pulang sekolah. Kalaupun mau keluar juga nggak mungkin larut semalam ini. Apalagi teman-temannya nggak ada yang tahu.


"Sora menghilang? kok bisa?" tanya Juna yang masih bingung dengan penjelasan om dan tantenya.


"Tantemu sudah menghubungi semua teman-temannya. Tetapi nggak ada satupun yang tau kemana Sora pergi. Katanya tadi ada si sekolah. Tetapi sepulang sekolah nggak ada yang tahu Sora. Katanya malah sudah pulang," ujar Vano menjelaskan apa yang dia ketahui dari cerita teman-teman Sora yang ditanyainya.


"Kamu tadi ketemu Sora di kelas nggak sih Jun?" tanya Vania yang masih terisak karena panik akan kemana perginya sang keponakan.


"Ada Tante, dan waktu dia keluar kelas juga aku tahu. Cuma waktu itu dia buru-buru keluarnya. Ku kira dia buru-buru mau pulang mungkin ada keperluan. Aku nggak tahu lagi kemana dia karena aku ini tadi sibuk mengurusi temanku yang kecelakaan depan sekolah," ujar Juna menjelaskan.


"Bagaimana ini mas? bagaimana kalau Sora mengalami kecelakaan. Apalagi dia kan sudah lama nggak bawa mobil sendiri ke sekolah. Terus dia tadi pagi berangkat sekolah membawa mobil. Bagaimana kalau hal buruk sedang menimpanya mas," ujar Vania memeluk lengan suaminya sambil berderai air mata.


"Tenang sayang, mungkin saja..."


"Tunggu! Apakah Sora tadi berangkat sekolah menggunakan mobil?" tanya Juna memotong pembicaraan om dan tantenya.


"Kata bibi tadi pagi Sora sekolah membawa mobil. Itulah kenapa tantemu takut terjadi sesuatu dengan Sora," jawab Vano.


"Kita harus lapor polisi saja mas. Aku takut Sora kenapa-napa," ujar Vania merengek kepada sang suami.


"Tapi sayang ini belum 2x24 jam sejak Sora menghilang. Kalau lapor sekarang juga belum tentu akan diproses," ujar Vano.


"Tapi aku merasa telah terjadi sesuatu dengan Sora mas," ujar Vania masih memohon kepada sang suami.


"Apakah semua teman-temannya sudah dihubungi om?" tanya Juna kepada omnya.


"Sudah Jun," jawab Vano yakin.


Juna tampak berpikir dan dia merasa sesuatu yang janggal. Juna berusaha menepis pikiran dia saat ini. Tetapi insting dia yang tajam seringkali benar.


"Aku akan mencoba bertanya ke teman terdekatnya om, Tante. Aku pamit dulu," ujar Juna berpamitan kepada pasangan suami istri di depannya.


"Semoga dugaanku tidak benar. Tetapi jika memang benar dia nekat melakukan hal ini. Aku sendiri yang akan memberikan hukuman untuk anak gila itu," geram Juna sambil menghubungi anak buah papanya.


...----------------...


Bersambung 🌼