SUNMOON

SUNMOON
SM 24



...Selamat datang di novel karya...


...π‘†π‘žπ‘’π‘Žπ‘‘ π‘ƒπ‘’π‘›π‘¦π‘–β„Žπ‘–π‘Ÿ/PIMOYᢠᡃⁿⁿʸ 🌼...


...semoga kalian suka ya ☺️....


...Like, Vote, Koment, & klik β™₯️ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya ✌️...


...π»π‘Žπ‘π‘π‘¦ π‘…π‘’π‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘”...


......................


Kriiiiiiiing....


Dering bel pelajaran berakhir pun berbunyi. Semua siswa bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Begitupun dengan para siswa dari kelas XI-3.


"Ku tunggu di perpustakaan," ucap sunny saat melewati bangku yang ditempati oleh Moona.


Mendengar perkataan itu, moona hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah orang yang mengajaknya berbicara. Melihat reaksi moona yang dingin padanya. Sunny pun pergi dan berjalan keluar kelas.


"Mon, gitu amat respon kamu diajak bicara sama sunny," ujar Hana sambil mencolek lengan moona.


"Biarin, aku males tau Han. Kamu dan kira apa nggak bisa gitu temenin aku selama aku belajar di perpustakaan sama dia?" pinta Moona dengan wajah memelasnya.


"Kamu tau sendiri kan Mon, aku ini kalau sepulang sekolah musti bantuin orang tuaku di warung. Maaf ya moona," ujar Hana sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.


Moona menghela napas panjangnya.


"Coba kamu tanya si kira, siapa tau dia bisa menemani kamu?" tanya Hana.


"Kira juga nggak mungkin bisa. Dia musti bantuin ibunya di salon kan kalau sepulang sekolah," sahut Moona.


Moona juga tau kalau dia teman baiknya itu bukanlah dari golongan keluarga yang berada. Mereka ikut membantu orang tuanya setelah sepulang sekolah. Karena mereka sekolah di sana juga dengan menggunakan jalur beasiswa.


"Ya sudahlah, nggak apa-apa. Aku akan persiapkan diriku dulu. Huhhhh..... aku pasti akan bertemu dengan lampir tukang nyinyir dan juga komplotannya itu," ucap Moona mempersiapkan diri jika saja nanti si Lampir keluar taring lagi saat melihatnya dengan sunny kembali.


"Tentu saja. Harus!" jawab Moona dengan semangat empat limanya.


🌼🌼🌼


Moona berjalan dengan cepat menuju ke ruang perpustakaan. Eh tanpa dia duga, dia justru melihat sunny masih duduk di bangku yang ada di depan perpustakaan.


"Ngapain tuh anak di luar perpustakaan? bukannya udah sedari tadi dia berangkat ke perpustakaan. Malah duduk-duduk di luar," gumam Moona sambil berjalan cepat ke arah ruang perpustakaan.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Moona saat sudah berada di depan sunny.


Mendengar suara moona, sunny mendongak. Kemudian dia memasukkan buku yang barusan dia baca ke dalam tas ranselnya.


"Nungguin kamu," jawabnya singkat.


"Lah, kenapa harus ditungguin segala. Orang aku juga masih beres-beres tadi di kelas," kata Moona sambil melepaskan sepatunya.


"Takutnya kabur-kaburan," jawab sunny kembali dengan raut wajah yang datar.


"Hadehhhh... emang aku anak kecil apa suka main kabur-kaburan," sahut Moona jengkel. Karena sunny nggak pernah berkata yang manis kalau sedang bersama dirinya. Eh, tapi nggak ke dia aja. Ke semua orang juga itu anak sikapnya datar dan juga dingin.


"Itu tau jawabannya," perkataan sunny sukses membuat moona melototkan matanya kesal dengan ucapan sunny yang memojokkan dirinya.


"Dasar kulkas lima belas pintu. Nggak pernah ada baik-baiknya kalau sama aku, heran dah!" geram Moona meski yang diajak bicara sudah masuk duluan ke dalam perpustakaan.


Keduanya mengambil tempat duduk yang berseberangan. Sunny pun memberikan beberapa soal untuk dikerjakan oleh moona dalam waktu lima belas menit.


"Apaaaa?? Hmmmmppp..." moona seketika menghentikan teriakannya karena mulutnya yang dibekap oleh tangan besar sunny secara tiba-tiba.


"Ini perpustakaan Moona, jaga nada bicaramu," bisik Sunny yang masih mendekap moona dengan erat.


TBC 🌼