SUNMOON

SUNMOON
SM 81



...Selamat datang di novel karya...


...π‘†π‘žπ‘’π‘Žπ‘‘ π‘ƒπ‘’π‘›π‘¦π‘–β„Žπ‘–π‘Ÿ/PIMOYᢠᡃⁿⁿʸ 🌼...


...semoga kalian suka ya ☺️....


...Like, Vote, Koment, & klik β™₯️ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya ✌️...


...π»π‘Žπ‘π‘π‘¦ π‘…π‘’π‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘”...


...............


Juna dan anak buah papanya segera menuju ke lokasi villa yang dimaksud oleh Nara. Mereka segera meringkus Sora yang meringkuk di sofa ruang tamu seperti orang pesakitan. Bahkan gadis itu terus meracau dan berkata hal-hal yang terdengar miris.


Rencana awal Juna yang ingin menakut-nakuti gadis itu seketika berganti dengan menghubungi pihak kepolisian saja. Gadis itu pasrah saat tahu dirinya diringkus oleh pihak yang berwajib. Dia tidak melawan sama sekali. Bahkan terkesan menyerahkan diri.


Juna dan anak buahnya mengamankan bukti mobil yang digunakan oleh Sora. Mobil itu juga masih terdapat noda darah dari sunny yang saat kejadian sempat terlempar ke kaca depan mobil Sora.


Juna menghubungi om Vano dan tante Vania. Seketika tangis Vania pecah saat mendengar keterangan dari Juna. Tentang apa yang sudah dilakukan oleh keponakannya. Vania tidak bisa berbuat banyak karena Sora memang bersalah. Dan bukti sudah mengarah kuat. Lalu dia harus membela Sora dengan cara apalagi. Jika si pelaku sendiri juga mengatakan bahwa dia memang melakukannya.


Ya, di kantor polisi Sora juga mengakui perbuatannya. Meskipun saat ditanya oleh pihak kepolisian tatapan mata Sora seakan kosong. Dia sudah tidak memperdulikan masa depannya kembali. Bahkan ketika Vania menangis memeluknya. Gadis itu sudah seperti mayat hidup. Tak merespon sama sekali. Dia diam seperti kosong pandangannya. Vania semakin merasa bersalah karena dia merasa tidak bisa membantu apapun untuk keponakannya.


"Mas, bagaimana ini? Kasihan sekali Sora? aku tiga tega melihatnya seperti itu mas...." ujar Vania sambil berderai air mata dalam pelukan sang suami.


"Dia harus belajar dewasa dengan apa yang menimpanya ini sayang," hanya itu yang bisa dikatakan Vano kepada sang istri.


Vania juga tidak bisa berbuat banyak. Semaunya sudah diakui oleh Sora. Bahkan dia tidak bisa berdalih karena bukti mobil yang dipakainya dengan bekas darah segar masih tampak nyata.


"Lalu bagaimana dengan orang tua Sora. Mas sandi harus tahu apa yang terjadi dengan putrinya," ujar Vano bertanya kepada sang istri.


Vania mendongak dan menganggukkan kepalanya.


"Aku sudah mengatakan semuanya kepada mas sandi. Dia akan segera datang ke Indonesia. Rasanya aku pengen marah kepada orang tua seperti mas sandi. Dia sudah tidak memperhatikan Sora. Sampai-sampai putrinya seperti ini. Dia justru hanya fokus dengan putranya bersama istri barunya itu. Aku jadi menyesal mas, dulu mengijinkan wanita itu masuk dalam keluarga mereka. Sekarang sudah tampak sifat aslinya bagaimana. Dia hanya menginginkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri tanpa memperdulikan anak-anak dari almarhumah kakaknya. Sungguh ini sangat menyakitkan hati. Melihat Soni dan Sora harus mengalami hal-hal yang menyedihkan. Aku nggak tega lihat Sora sampai seperti itu mas," Vania kembali menangis di dada bidang sang suami.


Vano hanya bisa menenangkan istrinya dengan pelukan dan usapan hangat. Dia juga merasa kasihan akan nasib keponakan-keponakan istrinya tersebut. Tetapi apa mau dikata. Mungkin ini semua sudah menjadi takdir yang harus mereka jalani.


Sementara itu di rumah sakit.


Eugghhh....


...----------------...


Bersambung 🌼