SUNMOON

SUNMOON
SM 41



...Selamat datang di novel karya...


...π‘†π‘žπ‘’π‘Žπ‘‘ π‘ƒπ‘’π‘›π‘¦π‘–β„Žπ‘–π‘Ÿ/PIMOYᢠᡃⁿⁿʸ 🌼...


...semoga kalian suka ya ☺️....


...Like, Vote, Koment, & klik β™₯️ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya ✌️...


...π»π‘Žπ‘π‘π‘¦ π‘…π‘’π‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘”...


.....................


Cukup lama Vania mendengar nada tunggu tersebut. Namun...


"Halo...."


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kakak," ucap dokter Vania to the point.


"Ada apa Vania?" tanya suara seorang wanita diseberang sana.


"Aku mau membahas tentang Sora kak Sarah," jawab dokter Vania.


Terdengar helaan napas dari ujung telepon.


"Ada apa lagi dengan anak itu? membuat ulah? nggak kapok-kapok dia sudah ditegur sama papanya juga tapi masih saja seperti itu. Aku sudah capek ngomelin dia terus," cerocos Sarah sebelum mendengarkan penjelasan dari dokter Vania.


"Sora sakit kak, dia membutuhkan kak Sarah dan mas Sandi. Aku minta kalian atau paling nggak salah satu dari kalian, pulanglah. Sora juga membutuhkan kalian sebagai orang tuanya. Bukan hanya Steven yang membutuhkan kakak," pinta dokter Vania dengan lembut.


Sambil menahan gemuruh dalam dadanya yang juga kesal mendengar ucapan kakaknya barusan.


"Kamu tau sendiri kan keadaan Steven di sini bagaimana. Dia juga membutuhkan pengawasan extra dari aku dan juga mas Soni. Dia masih kecil sedangkan Sora sudah besar. Sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Kalau dia nggak bisa menjaga dirinya sendiri ya sudahlah. Terserah apa mau dia saja. Sudah dulu ya Vania, ini dokter Steven sudah datang. Aku tutup dulu, bye," ujar Sarah kemudian menutup sambungan teleponnya.


Vania menghela napasnya panjang. Percuma juga dia memberikan penjelasan panjang lebar kalau berujung sia-sia. Nanti dia akan mencoba menghubungi Sandi. Mungkin hati seorang ayah akan tergerak mendengar apa yang telah terjadi dengan anaknya. Sedangkan kepada Sarah, memang Vania tidak bisa berharap banyak. Vania cukup memaklumi posisi Sarah dalam keluarga ini.


"Semoga kebahagiaan akan segera menghampirimu. Kamu harus kuat menghadapi ini semua," ujar Vania menggenggam jemari tangan Sora.


🌼🌼🌼


Kelas XI-1


"Sora nggak masuk sekolah kayaknya ya?" tanya Nara kepada Yuki yang masih asyik berdandan.


"Iya sepertinya, kalau masuk sekolah pastinya sudah datang sedari tadi. Ini sampai jam istirahat begini. Nggak mungkin telat juga kan," sahut Yuki.


"Kamu udah coba hubungi wa nya belom?" tanya Nara sambil duduk dibangku sebelahan dengan Yuki.


"Udah, tapi belum ada balasan dari dia. Eh... dia kenapa ya Nara? aku kok jadi cemas sama dia ya?" tanya Yuki menatap Nara yang hanya mengendikkan bahunya tanda tak tahu.


"Jadi kepikiran juga aku Nara. Tapi semalam juga nggak ada kabar apapun dari dia," ucap Yuki kembali.


Nara menghela napas panjang.


"Sudahlah, aku laper. Kita ke kantin aja yuk. Nantikan juga bisa menghubungi dia lagi. Mungkin aja dia ketiduran. Bangun kesiangan gitu, jadinya sekalian aja bolos," celetuk Nara.


"Hmmm .. ya kemungkinan itu bisa juga sih," sahut Yuki.


"Ya sudahlah, aku mau makan, laper," ajak Nara kemudian berlalu meninggalkan Yuki yang masih duduk di bangkunya.


"Eh, Nara tungguin aku dong!" teriak Yuki sambil mengejar langkah Nara yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


'Hmmm... sepertinya dia nggak masuk karena chat wa yang ku berikan semalam. Pasti dia sedang bersedih meratapi kedekatan Sunny dengan Moona. Ini bagus, aku bisa buat dia semakin menunjukkan kegilaannya. Dengan begitu akan semakin cepat dia dikeluarkan dari sekolah ini karena dianggap gila.'


TBC 🌼