
...Selamat datang di novel karya...
...πππ’ππ ππππ¦πβππ/PIMOYαΆ α΅βΏβΏΚΈ πΌ...
...semoga kalian suka ya βΊοΈ....
...Like, Vote, Koment, & klik β₯οΈ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya βοΈ...
...π»ππππ¦ π ππππππ...
.....................
"Aku merasa kasian dengan sunny ma," ucap Moona setelah dia mendengar semua cerita sunny.
Mama Aica menghela napas panjang. Dia sebenarnya tadi juga menguping pembicaraan kedua anak itu. Tetapi dia sudah lebih dulu tau dari Nita, mama Sunny.
"Sunny juga merasa tertekan oleh rasa bersalahnya selama ini. Dia selalu saja menyalahkan dirinya sendiri. Dengan apa yang telah terjadi dengan Soni, kakak dari Sora. Bahkan kedua orang tuanya sempat membawa dia ke seorang psikiater. Karena sunny mengalami depresi berat. Itu yang pernah Nita katakan kepada mama," ucap Aica.
"Jadi mama sudah tau lebih dulu cerita ini?" tanya Moona dan Aica menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kenapa mama tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku," protes Moona.
"Karena mama dan juga Tante Nita ingin sunny lebih terbuka dengan kamu. Selama ini dia selalu memendam perasaannya sendiri. Tante Nita bahkan sudah kehabisan cara untuk membuat dia menjadi sunny yang lebih terbuka dengan perasaannya. Seperti dulu, seperti sebelum kejadian buruk itu menimpanya. Kamu tau nak, menurut Tante Nita, sejak kedatangan kamu di sekolah. Hal itu membuat sebuah perubahan sedikit dalam hidup sunny," kata Aica dengan tersenyum penuh arti.
Moona hanya melongo mendengarkan cerita mamanya. Dia tidak menangkap maksud ucapan mamanya barusan.
"Perubahan apa? menurutku dia tetap saja kulkas ma, bahkan dia selalu tampak menyebalkan di mata moona," sungut Moona kala mengingat sikap sunny selama ini kepadanya.
"Kamu yakin dia menyebalkan bukannya ngangenin ya," ujar mama Aica sambil mencolek dagu putrinya itu.
"Iyuuuuhhhh... mama ini kenapa sih? mendadak jadi suka kek gini. Aku nggak suka deh dengan tatapan menggoda mama ini. Aku nggak bakalan tergoda ya," ujar moona dengan acuhnya.
"Sudahlah, mama cuma bercanda. Gitu aja diambil hati sih kamunya. Intinya kamu jangan ribut teruslah sama sunny. Berteman baiklah dengannya. Lagian ya Mon, mama dan Tante Nita dulu punya janji lho sewaktu kami sama-sama hamil dulu," kata mama dengan tersenyum mengingat janji Meraka dulu.
"Janji apa emangnya ma?" tanya moona dengan raut wajah gelisah. Kenapa dia merasakan hawa tidak nyaman ya disini.
Sepertinya jawaban mama cukup akan membuatnya syok nanti.
"Mama dan tante Nita sepakat kalau nanti bayi kami berbeda jenis kelamin. Kami ingin menjodohkan kalian berdua. Dan benar saja dong, kalau ternyata bayi kami berbeda kelamin. Kamu perempuan dan sunny laki-laki," ujar mama Aica antusias.
Plak!
Moona menepuk jidatnya sendiri mendengarkan penjelasan sang mama. Tuh kan benar apa yang dia pikirkan tadi. Dia sudah merasa nggak enak duluan tadi.
"Ini jaman udah bukan jaman Siti Nurbaya lagi ma, yang bisa dijodoh-jodohkan kayak gitu. Udah jamannya Siti Badriah ini ma," ujar Moona dengan menggebu-gebu.
"Apa-apaan kamu itu. Lagian apa jeleknya seorang sunny. Dia itu tampan, pintar, kaya, rajin, Sholeh lagi dan yang lebih penting adalah dia dari keluarga baik-baik Mon," kata Aica membuat moona menjadi pusing memikirkan ucapan mamanya.
"Udahlah ma, lagian moona juga masih akan berusia tujuh belas tahun. Moona mau mikir perayaan ulang tahun moona aja yang jelas-jelas sebentar lagi harinya. Daripada mikirin perjodohan yang masih nggak jelas kapan terjadinya itu," ujar moona tidak mau lagi berdebat dengan sang mama.
Mama Aica hanya menyengir mendengar protes dari sang putri.
"Ya, mama sih nggak nolak kalau bakal mantu mama adalah sunny," ujar mama bersekekeh.
Plak!
Moona kembali memukul jidatnya menanggapi ucapan sang mama.
"Astaga mama....."
TBC πΌ