SUNMOON

SUNMOON
SM 25



...Selamat datang di novel karya...


...π‘†π‘žπ‘’π‘Žπ‘‘ π‘ƒπ‘’π‘›π‘¦π‘–β„Žπ‘–π‘Ÿ/PIMOYᢠᡃⁿⁿʸ 🌼...


...semoga kalian suka ya ☺️....


...Like, Vote, Koment, & klik β™₯️ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya ✌️...


...π»π‘Žπ‘π‘π‘¦ π‘…π‘’π‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘”...


......................


"Ini perpustakaan Moona, jaga nada bicaramu," bisik Sunny yang masih mendekap moona dengan erat.


Moona hanya bisa melirik ke arah sunny yang ada di sampingnya. Mendekap erat tubuhnya dan juga mulutnya. Astaga, posisi apa ini? batin moona dengan perasaan berdebar aneh.


"Siapa itu! Jangan berisik ini perpustakaan!" ujar penjaga di perpustakaan memberikan peringatan.


"Kamu dengar itu," bisik sunny tepat ditelinga moona.


Mendengar suara sunny membuat bulu kuduk moona mendadak berdiri. Dan Moona hanya bisa menjawab dengan anggukan kepalanya. Gimana mau bicara kalau mulutnya saja masih dibekap oleh sunny.


"Jauh-jauh kamu!" ucap Moona saat sunny sudah melepaskan tangannya.


Moona mendorong tubuh sunny agar mereka tidak terlalu dekat lagi. Gila, berdekatan dengan sunny bikin dia spot jantung aja. Pake adegan berpelukan segala. Dikira Teletubbies apa ya.


"Kerjakan soal itu segera!" perintah sunny yang sudah duduk kembali di seberang moona.


"Apakah tidak bisa dikurangi soalnya. Aku nggak yakin bisa mengerjakan semuanya dalam waktu lima belas menit," pinta moona.


Jangankan mengerjakan soalnya. Dia aja nggak paham gimana cara ngerjainnya. Poor moona. Dalam pelajaran matematika memang dia sungguh payah.


"Kerjakan saja sebisamu," jawab Sunny.


"Tapi...."


"Dimulai dari sekarang!" potong sunny yang tidak mau mendengarkan lagi ucapan moona.


'Sebisaku kan ini, bodo amatan lah, aku aja nggak paham dengan bentuk-bentuk akar ini. Astaga ini apaan juga persamaan kuadrat? busyeeeeeeeettttt puyeng banget sih ah? lagian belajar ginian juga buat apa lagi? kalau di real aja ntar yang dihitung uang langsung bukan kuadrat, bentuk akar yang bikin baper gini, haiiissshh ' ucap Moona dalam hati.


Sunny sendiri sambil menunggu moona selesai mengerjakan tugasnya. Dia juga meyelesaikan tugas rumah yang tadi diberikan oleh guru biologinya.


Setelah lima belas menit kemudian.


"Kamu asal jawab ya?" tanya sunny sambil memicingkan matanya menatap ke arah Moona.


Yang ditatap pun mengalihkan pandangannya. Sungguh tatapan sunny membuat dirinya mendadak ciut.


"Kalau aku pintar, nggak mungkin kamu disuruh bu Aina buat ngajarin aku," jawab Moona dengan asal.


Tetapi emang masuk akal juga sih yang dia katakan. Kalau moona pintar matematika juga nggak mungkin sunny ditunjuk jadi tentornya.


"Kamu benar-benar parah. Mengerjakan soal semudah ini saja nggak bisa," gerutu sunny sambil mengecek hasil pekerjaan moona yang acak-acakan.


"Kalau kamu seperti ini terus. Kamu akan lama belajar denganku nantinya," kata Sunny menatap datar moona.


"Haiiissshh, maksudmu apa bicara seperti itu, hah?" tanya moona dengan geram mendengar perkataan sunny.


Dia aja udah nggak betah hanya duduk lima belas menit dengan si manusia kulkas satu itu. Ini malah dia berkata yang enggak-enggak. Bikin engap aja.


"Kalau kamu nggak suka aku Deket sama kamu. Cepatlah jadi pintar, sehingga aku nggak perlu lagi ngajarin kamu," kata sunny.


Moona menatap sunny yang juga menatapnya. Tatapan datar manusia kutub selatan itu membuat moona mengenal napas panjangnya.


"Baiklah, aku akan membuktikan hal itu," ucap Moona dengan menggebu.


"Oke, aku tunggu waktu itu tiba," ujar Sunny dengan seringai tipisnya.


Sunny masih ingat betul, apa yang tadi dia dengar saat moona curhat kepada kedua temannya di kelas.


TBC 🌼