SUNMOON

SUNMOON
SM 31



...Selamat datang di novel karya...


...π‘†π‘žπ‘’π‘Žπ‘‘ π‘ƒπ‘’π‘›π‘¦π‘–β„Žπ‘–π‘Ÿ/PIMOYᢠᡃⁿⁿʸ 🌼...


...semoga kalian suka ya ☺️....


...Like, Vote, Koment, & klik β™₯️ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya ✌️...


...π»π‘Žπ‘π‘π‘¦ π‘…π‘’π‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘”...


.....................


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, eh sunny. Masuk aja, nak," ujar Aica yang melihat kedatangan Sunny.


"Tunggu ya, Tante panggilkan moona dulu. Dia masih dilamarnya," ucap Aica.


"Iya Tante," sahut Sunny.


"Moona."


Tok


Tok


Tok


"Sunny sudah datang itu," ujar Aica sambil mengetuk pintu kamar putrinya.


Ceklek.


"Iya ma, suruh tunggu aja, bentar lagi aku turun," jawab Moona.


"Baiklah, kalau begitu," sahut Aica kemudian turun ke lantai satu menemui sunny kembali.


"Tunggu ya Sunny, sepertinya moona baru bangun tidur. Kamu mau Tante buatin minum apa?" tanya Aica.


"Apa aja Tante."


"Kamu tunggu aja di ruang belakang sana. Lebih enak belajar di sana nggak keganggu suara apapun. Nanti Tante antarkan cemilan dan minuman buat kalian kesana," kata Aica dan sunny pun mengikuti apa katanya.


Tak lama moona turun dan belajar bersama sunny. Namun, tiba-tiba saja moona meletakkan peralatan tulisnya dan menatap sunny dengan tajam.


"Sebenarnya aku malas sudah berkelahi terus dengan cewekmu itu. Bisa tidak katakan saja ke Bu Aina kalau kita tak perlu lagi belajar bersama seperti ini," ujar moona sambil melipatkan kedua tangannya di dada.


Sunny menatap moona. Sepertinya dia harus menjelaskan sesuatu agar moona tak lagi salah paham dengannya.


"Aku akan jelaskan kepadamu sesuatu yang pernah terjadi antara aku, Sora dan almarhum kak Soni."


Moona terdiam dan mendengarkan saja. Dia tak paham siapa itu Soni? ada hubungan apa juga dengan si Sora?


Siang itu di lapangan basket. Beberapa anak sedang berlatih basket bersama seorang senior yang sudah begitu ahli dan sering menjuarai perlombaan pertandingan basket.


"Bang Soni," seseorang yang dipanggil Soni itupun menoleh.


"Tumben kamu terlambat hari ini?" tanya Soni karena tidak seperti biasanya sunny terlambat.


Pemuda itu merupakan anak yang disiplin dan selalu tepat waktu setiap latihan.


"Jangan bilang kalau semalam kamu habis balapan liar ya?" tebak Soni sambil memicingkan matanya.


Soni tau betul kalau Sunny mempunyai keahlian bermotor yang bagus. Skill balapannya tidak lagi diragukan. Tetapi karena usianya yang masih dibawah umur dan apalagi itu balapan liar membuat Soni seringkali meminta sunny berhenti. Dia tidak mau jika sampai terjadi sesuatu dengan cowok yang seusia dengan adik perempuannya itu.


"Hehehehe... iya bang," sahut Sunny sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Berhentilah sunny, kalau orang tuamu tau bisa-bisa kamu dihukum nanti," ujar Soni kembali memperingatkan.


"Lagipula dunia balapan liar itu nyawa taruhannya. Aku akui kamu memang jago tapi usiamu masih terlalu muda. Takutnya ada masalah dikemudian hari," jelas Soni kembali.


"Iya bang, tapi aku merasa senang bisa balapan begitu. Merasa jika aku bisa mengalahkan lawan itu sungguh menyenangkan," ujar sunny bersemangat.


Sedangkan Soni hanya geleng-geleng kepala mendengarkan penjelasan sunny.


"Dasar memang ya, jiwa muda selalu begitu. Semangat menggelora dan tidak mengenal rasa takut. Kalau pengen main balapan yang legal aja. Aku kenalin nanti sama temenku yang pembalap. Balapannya disirkuit bukan di jalanan. Nanti digerebek polisi bisa bonyok kamu, sun," tutur Soni.


"Hehehe... baiklah bang."


"Oya sunny, hari ini kamu sibuk nggak?" tanya Soni kembali.


"Nggak bang, kenapa emangnya?"


"Anterin aku ya, hari ini Sora ulang tahun. Aku nggak tau musti kasih hadiah apa. Tapi dia kemarin sempat bilang salah satu pernak-pernik cewek. Aku malu kalau datang sendirian ke toko itu. Temenin ya," pinta Soni.


"Baiklah bang."


"Terimakasih sunny, ya sudah ayo latihan," ajak Soni sambil menepuk bahu sunny sekilas.


Lalu keduanya berjalan menuju lapangan basket bersama. Soni mengajari beberapa teknik terbaru buat sunny agar permainan basketnya lebih baik lagi.


Dan setelah latihan selesai. Sunny pun menemani Soni untuk membelikan kado ulang tahun buat Sora. Tanpa disadari oleh keduanya jika keberadaan mereka saat ini sedang diincar oleh gerombolan di ujung jalan.


"Benar anak itu?" tanya seorang pria dengan tindik di telinga dan bibir bawahnya. Jangan lupakan tato yang ada di sekujur tubuhnya.


"Iya bang, dia yang sudah mengalahkanku semalam. Aku nggak terima bang, dia sok banget setelah mengalahkanku. Beri dia pelajaran agar nggak bisa lagi sombong," tutur seorang pemuda berusia tujuh belas tahunan itu.


"Hmmmm," lelaki bertindik dan bertato itupun mematikan puntung rokoknya.


TBC 🌼