
...Selamat datang di novel karya...
...πππ’ππ ππππ¦πβππ/PIMOYαΆ α΅βΏβΏΚΈ πΌ...
...semoga kalian suka ya βΊοΈ....
...Like, Vote, Koment, & klik β₯οΈ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya βοΈ...
...π»ππππ¦ π ππππππ...
...............
"Moona......" mama Nita seketika berhambur memeluk moona.
Dia tidak menyangka moona sudah sadarkan diri dari komanya. Mama Nita begitu bahagia melihat moona yang sudah bisa mendatangi kamar putranya meskipun masih dengan bantuan kursi roda. Dan bersama dengan seorang pemuda yang mengenalkan dirinya sebagai teman sunny.
"Maafkan mama yang belum sempat melihat kondisi kamu sayang. Apakah kamu sudah merasa lebih baik?" tanya mama Nita dengan mata yang masih menangis.
Dia begitu bahagia sekaligus terharu dengan apa yang sudah putranya lakukan kepada Moona. Gadis yang dia sukai dan digadang-gadang ingin dijadikan calon menantunya.
"Moona yang justru meminta maaf kepada mama. Karena gara-gara menyelamatkan moona, sunny sekarang terbaring koma di sana. Maafkan moona ma, moona sudah membuat sunny terluka parah seperti ini. Maafkan moona mama...hiks...hiks...hiks..."
"Tidak sayang. Jangan katakan seperti itu sayang," ucap mama Nita sambil memeluk moona dengan perasaan sayang.
"Mama tidak menyalahkan kamu dengan apa yang terjadi pada anak mama. Dia melakukan ini semua karena dia begitu mencintai kamu moona. Mama ikhlas dan pasrah dengan apa yang sudah menjadi takdir sunny. Mama hanya ingin anak mama segera sadar dan kembali seperti dulu lagi. Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri sayang. Bukan kamu yang membuat kalian berdua sampai sama-sama terluka dan koma. Tetapi sudah ada yang seharusnya bertanggung jawab dengan tindakannya itu. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri ya sayang. Kalian berdua hanyalah korban di sini," ujar mama Nita berusaha menenangkan moona yang terisak-isak menangis.
Moona memang masih merasakan rasa bersalah atas apa yang menimpa diri sunny. Dia tidak kuasa melihat sunny yang hanya terbaring di ranjang rumah sakit dengan banyak alat penunjang kehidupan di sana.
Kedua perempuan beda generasi itupun menangis bersama di depan ruang perawatan orang yang sama-sama mereka cintai. Keduanya juga saling menguatkan untuk tetap tegar menghadapi ujian dari Sang Maha Pencipta. Ini semua adalah takdir dan mereka berdua harus tetap memohon kepadaNya agar sunny segera dikembalikan ke tengah-tengah mereka kembali. Dan hanya atas kuasa Tuhan YME semua itu akan menjadi mungkin.
πΌπΌπΌ
"Apaaaaa?"
Brug!
"Sayang!" pekik Vano saat melihat istrinya terjatuh di kamar saat menerima telepon di pagi hari.
Vania lemas tak berdaya dan Vano segera memapah tubuh sang istri untuk duduk bersandar di ranjang.
"Ada apa sayang?" tanya Vano melihat raut wajah yang tampak pucat dari sang istri.
"Mas, kita harus ke kantor polisi sekarang juga. Mereka menghubungi katanya Sora melakukan tindakan bunuh diri semalam. Dia mengalami pendarahan di kepalanya mas. Kita harus segera kesana mas. Aku kepikiran dengan dia mas," ujar Vania sambil menangis memegang lengan sang suami dengan erat.
Vano menghela napasnya panjang. Masalah yang belum selesai-selesai dari kemarin membuat Vano merasa kasihan dengan kondisi sang istri. Apalagi istrinya ini sedang hamil muda. Vano tidak ingin membuat sang istri merasa tertekan dengan kasus yang menimpa keponakannya tersebut.
"Baiklah, kita akan segera ke sana."
...----------------...
Bersambung πΌ