
...Selamat datang di novel karya...
...πππ’ππ ππππ¦πβππ/PIMOYαΆ α΅βΏβΏΚΈ πΌ...
...semoga kalian suka ya βΊοΈ....
...Like, Vote, Koment, & klik β₯οΈ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya βοΈ...
...π»ππππ¦ π ππππππ...
.....................
"Bagaimana keadaan sora dokter?" tanya Sunny setelah dokter Vania memeriksa kondisi Sora.
Gadis itu sudah tertidur akibat obat penenang yang diberikan oleh dokter.
"Kita bicara diluar saja," ujar dokter Vania.
Sunny mengikuti langkah dokter Vania keluar dari kamar yang ditempati Sora. Sebelumnya bik minah dimintanya untuk menemani Sora selama sunny berbicara empat mata dengan dokter Vania.
"Dia kembali mengalami depresi. Sehingga membuatnya kacau seperti hari ini. Apakah ada sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini?" tanya dokter Vania.
"Ada, dia seringkali membuat keonaran di sekolah," jawab sunny.
"Memangnya apa pemicunya?" tanya dokter Vania mengernyitkan kedua alisnya.
"Dia tidak menyukai salah satu siswi yang dekat dengan saya dokter."
Dokter Vania menghela napasnya panjang. Kondisi Sora masih sama seperti dulu. Dia menginginkan sunny begitu posesif. Hal ini sudah pernah dikonsultasikan kepada kedua orang tuanya. Entah kenapa kedua orang tua Sora justru menanggapinya dengan respon yang datar-datar saja.
"Sebaiknya memang Sora dilakukan perawatan. Kalau dibiarkan saja, saya takut dia akan berbuat diluar dugaan kita semua. Saya hanya berharap hal buruk itu tidak terjadi. Tetapi kalau dia tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Akan sangat berbahaya buat kamu dan juga orang disekitarnya. Saya akan coba kembali menghubungi kedua orang tuanya. Entah apa yang ada dibenak kedua kakak sepupuku itu sampai-sampai dia melupakan bahwa mereka masih memiliki putri disini. Yang mana putri mereka justru membutuhkan uluran tangan keduanya," curhat dokter Vania yang sudah tidak habis pikir dengan kelakuan kedua orang tua Sora yang masih kerabatnya sendiri itu.
"Terimakasih banyak sunny, kamu sudah meluangkan waktumu untuk mengurusi Sora hari ini. Saya akan panggilkan beberapa perawat untuk menjaganya. Kamu bisa kembali ke sekolah. Maaf sudah merepotkan kamu," ujar dokter Vania meminta maaf.
"Tidak apa-apa dokter."
Setelah kepergian sunny, dokter Vania kembali mengecek kondisi Sora.
"Bu dokter ini kompresannya sudah bibik ganti yang baru," ujar bik Minah kepada dokter Vania.
Bik Minah menunduk mendengar ucapan dari adik sepupu majikannya tersebut.
"Maaf Bu dokter, soalnya bibik panik. Non Sora terus berteriak-teriak dalam kamar. Sebenarnya tadi saya sudah menghubungi Bu dokter tapi handphone nya mati," ujar bik Minah jujur.
Dokter Vania mengusap wajahnya kasar. Ini semua gegara kelakuan suaminya yang mesum. Suka sekali mematikan handphone nya kalau sedang pengen.
"Maaf ya bik, tadi juga aku sibuk mengurusi pasien mendadak di rumah sakit," ujar dokter Vania berbohong.
"Iya Bu dokter."
"Bibik sudah coba hubungi mbak Sarah atau mas Sandi?" tanya dokter Vania.
"Tadi bibik menghubungi tidak diangkat Bu dokter."
"Astaga mereka berdua ini. Apakah mereka pikir putra mereka hanya Steven saja. Apa mereka lupa jika masih ada Sora disini. Mereka tidak lagi memikirkan putri mereka di Indonesia malah sibuk dengan putra mereka di Singapura," ujar dokter Vania geram.
"Baiklah bibik bisa kembali lagi ke dapur. Nanti kalau ada apa-apa saya akan panggil bibik ya."
"Baik Bu dokter, saya permisi."
"Hmmm."
Dokter Vania mencari handphonenya di dalam tas. Kemudian mendial nomor sang kakak sepupu.
Tut
Tut
Tut
Cukup lama Vania mendengar nada tunggu tersebut. Namun...
"Halo...."
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kakak," ucap dokter Vania to the point.
TBC πΌ