
...Selamat datang di novel karya...
...πππ’ππ ππππ¦πβππ/PIMOYαΆ α΅βΏβΏΚΈ πΌ...
...semoga kalian suka ya βΊοΈ....
...Like, Vote, Koment, & klik β₯οΈ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya βοΈ...
...π»ππππ¦ π ππππππ...
.....................
Tap
Tap
Tap
"Selamat pagi sayang," sapa mama Nita saat melihat sunny sudah rapi dengan seragam sekolah putih abunya.
"Selamat pagi juga ma, pa," balas sunny sambil duduk di meja makan.
"Ini mama buatin makanan kesukaanmu sayang. Pasti kamu suka," ujar Nita dengan senyum merekah.
"Wah, kesukaan anak terus yang dibuatin. Kalau kesukaan papa kapan dibuatinnya ma?" tanya papa pura-pura merajuk.
"Astaga, suka banget papa buat drama di pagi hari ya. Sudah ayo kita sarapan bersama," ujar mama Nita mengajak anak dan suaminya segera makan masakannya.
Drrrtttt
Drrrtttt
Drrrtttt
Terdengar suara dering handphone. Sunny melihat handphonenya dan membaca nama yang masuk. Seketika sunny menekan tombol hijau.
"Halo?"
"Halo den sunny, ini bibik den, maaf menggangu ya den, bibik sama mang Paijo sudah tidak bisa membujuk non Sora agar mau makan. Semalam non Sora sakit demam dan sampai sekarang masih begitu. Bibik bingung den sunny, tolongin bibik ya den. Bibik bingung harus menghubungi siapa?" ujar bik Minah.
"Apakah orang tuanya tidak bisa dihubungi bik?" tanya sunny meletakkan sendoknya.
Seketika nafsu makannya sudah tidak lagi ada mendengar cerita bik Minah. Mama Nita tampak mencuri dengar pembicaraan sang anak dan dia sudah nampak geram.
Samar-samar juga Sunny mendengar suara teriakan Sora dan barang-barang yang pecah.
Sunny menghembuskan napas panjang sebelum menjawab pertanyaan bik Minah.
"Sebentar lagi aku kesana bik," ujar sunny.
"Baik den, bibik tunggu."
"Baik bik."
Sunny mematikan sambungan teleponnya dan bersiap untuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat Nita mencegahnya.
"Kamu mau kemana sunny. Makan dulu, kamu belum sarapan nak," ucap Nita yang melihat anaknya akan meninggalkan meja makan begitu saja.
"Aku harus pergi ke rumah Sora, ma. Dia sakit dan tidak mau makan. Bik Minah dan Mang Paijo sudah membujuknya tetapi tetap tidak mau juga."
"Lalu kemana orang tuanya? kenapa musti kamu yang selalu mengurus anak mereka yang tinggal satu-satunya itu," geram mama Nita yang tidak habis pikir dengan pemikiran kedua orang tua Sora.
Anak tinggal satu bukannya dirawat dan dijaga dengan baik. Ini malah ditelantarkan begitu saja.
"Mereka masih diluar negeri ma," jawab sunny setahunya.
Brak!
Papa dan Sunny seketika terdiam mendengar suara gelas yang dihentakkan dengan keras ke permukaan meja makan.
"Sekarang kamu sedang sarapan. Habiskan makanan kamu, sunny. Dengar ya, sebagai mamamu, orang tua yang sudah melahirkan kamu. Mama tidak mengijinkan kamu keluar dari rumah ini. Sebelum mama yakin anak mama sudah sarapan dengan benar," ucap Nita dengan raut wajah garangnya.
Melihat sang mama yang sudah mode galak membuat sunny seketika mengurungkan niatnya untuk pergi. Sang papa juga mengkode agar sunny menuruti apa mau sang mama.
"Orang tua yang sebenarnya adalah orang tua yang selalu memastikan bahwa kondisi anak-anaknya baik-baik saja. Kalau sudah berani memiliki anak, maka harus berani bertanggungjawab atas hidup anak itu sendiri. Dan kebahagiaan anak bukan hanya soal materi saja. Ini sudah menjadi orang tua malah nggak ada tanggung jawabnya sama sekali. Nyuruh anak orang lain mengurusi kehidupan anaknya. Cukup ya sunny. Mama nggak suka kamu diperbudak seperti ini," ucap mama Nita dengan amarah yang masih terdengar di setiap intonasi perkataannya.
"Iya ma," sunny hanya menjawab singkat dan melanjutkan sarapannya dengan segera.
"Sudah ma, sarapan dulu lagi. Nggak baik marah-marah di depan rejeki sepagi ini," bujuk sang suami.
"Astaghfirullah... mama cuma kesal pa, sepagi ini lho sudah membuat drama. Dikiranya anak kita baby sister anak mereka apa ya?" gerutu mama Nita yang masih terdengar.
Sang suami menarik napas panjang kemudian kembali melanjutkan sarapannya.
TBC πΌ