
Aliya Dan Chandra baru saja melakukan ritual sucinya, dan kini mood Chandra kembali membaik. Bahkan Chandra mengingat jadwal mereka, jadwal untuk bermain sky. Chandra segera beranjak dari tempat tidur, dan pergi ke kamar mandi,untuk membersihkan dirinya. Setelah tiga puluh menit, Chandra segera keluar.
Chandra menggeleng ketika melihat Aliya masih meringkuk di bawah selimut hangat mereka. Chandra segera mengenakan pakaiannya, kemudian mendekati Aliya. Chandra mengusap lembut pipi Aliya, dan mencoba membangunkan Aliya.
"Al bangun, Al," ucap Chandra lembut, karena hatinya tengah berbahagia.
"Hm," hanya itu yang keluar dari bibir Aliya.
"Ayo Al bangun kita mau pergi sky lagi," pinta Chandra, masih mengusap lembut kepala Aliya.
"Iya gue tidur dulu," pinta Aliya menarik selimut hingga ke bawah dagunya.
"Lo udah tidur setengah jam tadi," kata Chandra mulai menyingkap selimut Aliya. "Kutil kita pergi main sky yuk," ah, tampak nya, Chandra mulai kesal.
"Ngantuk, capek," jawab Aliya kembali menarik selimutnya, agar dirinya bisa kembali tertidur.
"Ayo lah, untuk hari ini aja," Chandra sedikit menurunkan nadanya, dan kembali membujuk Aliya.
"Ih curut gue ga mau," kesal Aliya
"Ayolah nanti gue beliin sesuatu," Chandra tiba tiba menjanjikan sesuatu yang akan membuat Aliya segera bangun.
"Sumpah demi apa?" Aliya sebenarnya malas untuk bangun, belum lagi dirinya tak begitu percaya dengan janji yang di buat oleh Chandra.
"Demi cinta ku pada mu," Chandra cengengesan ketika mengatakan hal tersebut.
"Eleh lebai, lo Rut," walhasil Aliya kembali menarik selimut, dan mencoba untuk kembali tertidur.
"Ayolah Al kita pergi," bujuk Chandra sembari menarik kembali selimut Aliya.
"Gue capek, lo habis nginves langsung ngajak pergi, ga mikir apa lo gue masih capek," kesal Aliya, kembali menutup matanya.
"Lah gue kan juga sama, tapi masih semangat semangat aja," jawab Chandra enteng.
"Beda curut sableng," kesal Aliya segera membuka matanya, hendak melototi wajah tengil suaminya.
"Sama, sama sama bekerja keras," jawab Chandra, tersenyum santai. Chandra kemudian berjalan menjauhi Aliya, dan berjalan menuju lemari, mengambil pakaian dan jaket berbulu untuk Aliya.
"Beda sableng," kesal Aliya, mencebikkan bibirnya, kesal dengan sikap Chandra, yang menurutnya tak mengerti dirinya sama sekali. "Lo lama lama ngeselin ah."
"Oh jadi lo milih di garap lagi? Di inves lagi? Gua mah dengan senang hati," Chandra berbalik menuju meja yang ada di kamar mereka.
"Dasar sableng lo," kesal Aliya kembali menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Kalau gue sableng lo apa?" Chandra berjalan mendekat ke arah Aliya, yang kini menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Gue ga sableng ya," kesal Aliya dari balik selimut. "Ingat kalau istri lagi kesal jangan di tanggapi."
"Iya tapi lo mau ya," bujuk Chandra sembari tersenyum ke arah Aliya.
"Ga, gue ga mau," Aliya semakin mengeratkan selimut yang menggulung dirinya.
"Ayolah ga usah nolak, nanti sampai sana lo juga bakalan seneng kok," kata Chandra berusaha membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya.
"Ga ya ga," kekeh Aliya tak ingin pergi.
"Gue pitting kepala nya, kok imut imut mau jadi pelakor," benar saja Aliya terdengar sedikit kesal, namun tetap mempertahankan selimutnya. "Emang ya sekali palsu tetap palsu, muka aja palsu, apalagi hati."
"Makanya lo ikut gue," akhirnya Chandra berhasil menyingkap selimut yang di kenakan oleh Aliya.
"Gue gampang kok, kalau lo mau sama cewek cewek imut lo, gue tinggal ngubungin teman gue, biar gue bisa dekat sama anak BTS, kesukaan lo," ancam Aliya memandang garang ke arah Chandra.
"Lo jangan coba coba ya, coba aja lo, gue garap lo di depan dia," Chandra balik mengancam Aliya.
"Idih lo mau badan istri lo, yang molek, dan cantik ini di lihat sama orang lain?" Aliya sewot sendiri mendengar ancaman suami somplak nya ini. "Kalau gitu sekalian aja gue, pakai baju minim, atau pakai bi*kini kalau ke pantai."
"Lo jangan gitu ya, kalau lo lakuin itu gue buat lo ga bisa jalan selama satu bulan. Ga keluar, ga keluar deh lo," yah, ancaman Chandra tak akan jauh jauh dari yang namanya urusan ritual suci.
"Lo ancaman lo kenapa sih ke arah sana mulu," kesal Aliya yang selalu di ancam dengan ritual suci yang mengenakkan.
"Ya iyalah, cuman itu ancaman yang pas, dan mantap buat lo," Chandra tampak santai ketika mengatakan hal tersebut. "Gue lebih suka ngehukum yang enak enak untuk istri gue."
"Lo yang ke enakan," kesal Aliya cemberut ke arah Chandra.
"Eleh, lo juga ah ah aja kok," Chandra benar benar sableng bahkan mengingat hal tersebut.
"Berisik lo," Aliya segera melempar Chandra dengan bantal.
"Ga, gue ga berisik, yang berisik itu lo. Yang mulutnya suka cerewet," balas Chandra segera menepis serangan Aliya.
"Gue yang cerewet? Kalau gue cerewet lo apa?" Aliya kembali meradang karena di sebut cerewet.
"Gue cuman menasehati lo," jawab Chandra dengan wajah kalem, semakin membuat Aliya kesal.
"Ga, ga ada lo jangan ngadi ngadi ya," kesal Aliya bermaksud menarik kembali selimutnya, namun dengan cepat Chandra menahannya.
"Eleh, cepat siap siap sana," Chandra memberikan kode kepada Aliya untuk segera mandi.
"Ga mau," bantah Aliya.
Chandra yang geram, karena keras kepala dari istrinya segera menggendong Aliya, Chandra membawa Aliya ke kamar mandi untuk segara membersihkan dirinya.
"Curut," kesal Aliya berusaha untuk melepaskan dari Chandra.
"Apa? Ga ada alasan," balas Chandra tersenyum ke arah Aliya, yang berada di gendongannya.
Chandra kemudian menurunkan Aliya, tepat di bawah pancuran shower, kemudian menghidupkan kran air hangat untuk Aliya. "Baca do'a," kata Chandra segera meninggalkan Aliya, yang memasang wajah kesal.
"Iya, iya. Bawel banget sih," kesal Aliya segera memejamkan matanya, merapatkan do'a mandi wajib.
"Ini buat lo," kembali lagi Chandra bersuara, membuyarkan doa yang telah terpasang di otak Aliya.
"Ya udah sana keluar," kesal Aliya, karena harus merapatkan dari awal do'a mandi wajib tersebut.
Setelah tiga puluh menit, akhirnya Aliya keluar dengan mengenakan handuk. Aliya segera menyambar pakaiannya, dan mengenakannya. Chandra yang melihat tingkah istrinya, hanya menggeleng sembari tersenyum. Chandra benar benar bersyukur, karena kehadiran Aliya mampu memberikan sesuatu hal yang baru di hidup Chandra, seperti sebuah warna yang mampu membuat Chandra bersemangat kembali. Setelah melihat Aliya selesai mengenakan pakaiannya, Chandra segera berdiri yang menggandeng tangan Aliya.
"Ayo kita berangkat."