
Chandra baru saja terbangun ketika matahari mulai terik, Chandra menggeliat menaikkan selimutnya hingga ke area dada, pasalnya saat ini dirinya tak mengenakan pakaian, dirinya hanya di tutupi oleh selimut saja. Chandra meraba tempat dimana Aliya semalam tepar olehnya. Namun istri cantiknya tidak ada, dirinya menghela nafas kasar, cemberut. Niatnya ingin membuka mata, seketika melihat istri di sampingnya, namun yang ia temua malah bantal guling.
"Bangun tidur liat muka istri kek, ini ga. Dia paling lagi di bawah, sok sok an mau belajar masak lah, inilah itu lah," Chandra terus mengoceh tak jelas, hanya karena Aliya yang tak berada di sampingnya saat bangun tidur.
Semenjak Aliya hamil, bahkan Chandra lebih cerewet dari biasanya, terkadang membuat Aliya pusing sendiri. Chandra melihat sekeliling, dan memperhatikan barang Aliya yang sedikit berantakan. Chandra segera merapikannya, dan membereskannya. Hingga ruangan mereka menjadi tertata rapi dan bersih.
"Huft, nasib punya istri ga bisa beres beres," Chandra segera keluar dari kamarnya, setelah semua beres, kemudian turun menyusul istrinya. Benar saja ternyata istrinya berada di dapur, bersama dengan nyonya Mona.
"Cih lihat dia, sibuk bantu mama, suami sendiri ga di perhatikan," kesal Chandra melirik Aliya, segera berdiri di belakang istrinya.
"Allahuakbar," Aliya terkejut, hampir saja melayangkan pantat panci yang sudah menghitam di wajah tampan Chandra.
"Apa? Mau mukul pakai panci?" Chandra mendengus kesal, melihat Aliya yang sudah mengangkat panci hitam, hampir melayang ke wajahnya.
"Lagian sih tiba tiba di belakang, kan kaget," ucap Aliya mengusap perutnya.
"Lagian ngapain sih?" Chandra segera mengambil alih panci di tangan Aliya.
"Ya masak lah," ucap Aliya bingung. Memangnya ngapain lagi dirinya berada di dapur? Jika bukan untuk memasak? Aliya menggerutu di dalam hatinya, namun tak mau mengeluarkannya takutnya bapak singa nya marah, dan mencakar wajahnya.
"Eh Chandra baru bangun?" Aliya menghela nafas ketika mendengar suara ibu mertuanya.
"Memangnya jam berapa sekarang?" Chandra tampaknya tak menyadari waktu telah menjelang siang, dan makan siang sudah matang.
"Jam setengah dua belas Curut," Aliya segera mengambil alih panci dari tangan Chandra.
"Apa?!" Chandra sungguh sangat terkejut di buatnya.
"Apa?!" Aliya meniru teriakan Chandra, sehingga membuat nyonya Mona terkiki geli. Tampaknya kali ini, ia akan menonton drama series lama yang ia rindukan. Ya itu kembalinya pertengkaran kucing dan tikus. Nyonya Mona suka melihatnya, seolah itu adalah hiburan terbaik, melebihi acara di televisi.
"Apa apanya? Apa? Lo itu yang gue tanya apa? Lo ngapain ga bangunin gue?" Chandra berkacak pinggang memandang kesal Aliya.
"Hm, nanti gue capek banget, gue masih mau tidur, duluan aja lo," ucap Aliya meniru gaya bicara Chandra saat dirinya di bangunkan oleh Aliya.
"Masa sih? Alasan aja lo," ucap Chandra kesal.
"Enak aja, gue ganteng gini di bilang kebo," ucap Chandra tak terima.
"Emang yang gue bilang tampang lo? Idih lo aja yang sewot, tersinggung lo ya?" Aliya juga kini ikut berkacak pinggang, setelah meletakkan panci hitam di gantungan khusus panci.
"Emang gitu kok," Chandra semakin sewot di buat Aliya.
"Ngebantah lo ya, gue usap pan tat panci hitam baru tau rasa lo," ucap Aliya.
"Coba kalau berani lo, biar dapat dosa yang banyak lo," Chandra kini kembali menantang Aliya.
"Idih, mau nyoba Lo?" Aliya kini benar benar bersiap mengambil panci hitam milik mertuanya.
Sementara nyonya Mona? Kini tengah memakan kerupuk opak yang baru saja ia goreng dengan mengguntingnya kecil kecil terlebih dahulu. Nyonya Mona seakan tengah menonton film pendek, pertengkaran suami istri di siang hari, nyonya Mona bahkan mengambil kursi dan mengangguk ngagguk melihat pertengkaran, yang menurutnya sayang untuk di lewatkan apalagi di hentikan.
"Mah kok ribut ribut," tuan Omer datang dari arah taman belakang, yang langsung terhubung dengan dapur. Dirinya penasaran mendengar pertengkaran dari dua orang yang cukup lama tak terdengar.
Ketiga orang yang sibuk dengan aktivitasnya, tak mendengarkan pertanyaan dari tuan Omer. Nyonya Mona justru sekarang menambah perhelatan tontonan akbarnya, dengan minuman jus jeruk, dirinya seakan sangat menikmati tontonan nya saat ini. Tuan Omer menggeleng, bukan nya di pisahkan, nyonya Mona justru ikut menonton.
"Mah," tuan Omer segera menyentuh pundak nyonya Mona dari arah belakang.
"Allahuakbar," nyonya Mona terkejut, segera memandang ke sumber yang menepuknya.
Mendengar teriakan nyonya Mona, sontak saja kedua orang yang asyik bertengkar tadi segera memandang ke arah nyonya Mona. Perhelatan akbar pun di hentikan.
"Mah pisahin," tuan Omer memandang jengah ke arah istrinya.
Nyonya Mona segera memandang ke arah Chandra dan Aliya, yang saat ini justru berhenti bertengkar, dan memandang bingung ke arahnya.
"Tu kan papa, kucing sama tikusnya berhenti berantem," ucap nyonya Mona kecewa.
"Mama," tuan Omer, Chandra dan Aliya berteriak serentak, tak percaya dengan apa yang di nyonya Mona katakan.