SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Mari kita menikah setelah ini.



perlahan lahan Arnita membuka matanya, Arnita tampak belum sadar sepenuhnya segera membalikkan tubuhnya. Alangkah terkejutnya ternyata Haris tengah ber*te*lan*jang dada tengah memeluknya. Arnita mengerjapkan matanya hingga beberapa kali.


"Aaaaaa...," Arnita berteriak histeris, terlebih ketika melihat tubuhnya juga dalam keadaan te*la*nja*ng juga. "Kau... Apa yang kau lakukan?"


"Nit... kenapa kau berisik sekali? Aku masih mengantuk," Haris semakin mempererat pelukannya, bahkan menelusup kan wajahnya di leher Arnita. "Diam ya, kita tidur lagi."


Arnita terbengong dengan hal tersebut, ini seolah mimpi baginya, bagaimana bisa terjadi seperti ini. Arnita kembali bereaksi dengan mendorong tubuh Haris sepenuh tenaga, air mata Arnita sudah hampir tumpah, namun ia tahan. "Apa yang kau lakukan cepat katakan?!" bentak Arnita memandang tajam ke arah Haris.


"Aku? Harusnya aku yang harus bertanya, kau yang menggoda ku semalam, lagian aku hanya menolong mu. Seseorang hendak menjebak mu, dan untung saja aku yang menemukan mu. Jika tidak! Mungkin pagi ini bukan aku yang di hadapan mu," ujar Haris semakin memeluk tubuh Arnita dengan erat. "Kita akan segera menikah tenang saja."


Arnita mengedipkan matanya berkali kali, mencoba mengingat ingat kembali apa yang terjadi. Kini ingatan Arnita kembali pada aktivitas yang tidak seharusnya semalam. Arnita segera melihat ke arah selimut yang hanya menutupi perutnya, sementara tangan Haris memeluk erat tubuhnya, tangan Haris tepat berada di atas da danya. Mata Arnita membuat, membuatnya kembali memandang ke arah Haris.


^^^Ini tidak mungkin bagaimana ini? Arnita gelisah ingin bangun, namun tangan kekar harus terus menahannya.^^^


"Nanti saja, aku sangat lelah semalam, kau terus memintanya, aku sedikit kewalahan," ujar Haris tanpa membuka matanya.


Arnita semakin tercengang ingin segera beranjak dari tempat tidur. Namun Haris lagi lagi menahannya. Arnita mencoba menarik selimut ke agar menutupi tubuh polosnya. Arnita malu jika di lihat oleh Haris.


Namun terlambat Haris telah membuka matanya, dan melihat tubuh Arnita kembali. Haris tersenyum menawan, mata coklatnya memberi tatapan tajam kepada Arnita. Membuat Arnita malu sendiri. Arnita berusaha menarik selimut kembali, namun tangan kekar Haris dengan cepat mencegahnya. Haris segera menindih Arnita.


Haris mengusap lembut pipi Arnita, kemudian mengecup pipi gadis itu. Arnita kembali memberontak, membuat Haris menahan kedua tangan Arnita.


"Apa yang coba kamu lakukan ha?!" bentak Arnita mencoba lolos dari Haris.


"Aku?" Haris tersenyum miring, kemudian mendekatkan wajahnya ke arah cuping Arnita. "Izinkan aku untuk bertanggung jawab."


Tubuh Arnita tiba-tiba meremang mendengar Haris mengatakan bertanggung jawab. Namun Arnita kembali menggeleng khawatir dengan apa yang di maksud oleh Haris. "Jangan menipu ku!" Geram Arnita.


"Aku sedang tak menipumu, aku ingin kau akan selalu seperti pagi ini, menyambut hari hari ku, seperti tadi malam, berbagi kehangatan dan kenikmatan bersama ku, Memiliki anak dan menghabiskan waktu hingga hari tua," Haris menggigit cuping Arnita, pasalnya gadis itu benar benar memerah, mendengar gombalan dari perutnya.


"Tapi... Tapi aku tak ingin kau terpaksa," ujar Arnita.


"Apa wajahku terlihat terpaksa? Kau mengenal karakter ku sejak SMA, pastinya kau mengenal wajahku jika serius bukan?" Haris mencoba meyakinkan Arnita.


"Tapi kau tidak pernah menginginkan ku selama ini kan? Aku hanya tak ingin kau terbebani, kau begini juga menolongku," ujar Arnita mengalihkan pandangannya.


Jantung Arnita berdegup kencang, kala merasakan hangatnya kulit tubuh Haris, wajah Arnita semakin memerah, Haris tahu itu melalui cuping Arnita. Haris kembali mengecup puncak kepala Arnita. "Jadilah ibu dari anak anak ku, belum lagi bisa jadi di sini sudah ada Haris junior ku."


"Kau..." belum sempat Arnita protes, kini tangan Haris mulai kembali memegang bukit kembar Arnita, dan sesuatu yang di bawah sana menegang.


"Sayang sekali lagi ya," ujar Haris melepaskan pelukannya ke arah Arnita.


"Tapi ini... ini dosa Ris," ucap Arnita berusaha menolaknya, walaupun sebenarnya dirinya juga telah timbul keinginan yang sama.


"Lalu bedanya dengan semalam apa?" Haris kembali menindih tubuh Arnita.


"Tap..."


Belum sempat Arnita kembali protes, tiba tiba Haris menyambar bi bir Arnita, me*lu*mat*nya dengan rakus, menyentuh titik sensitif dari Arnita, Haris sudah mempelajarinya sejak semalam, bagian mana yang sensitif untuk Arnita.


"Ah... Ha... ah Ris..." Arnita terus men*de*sah di balik ciuman, membuta Haris yakin bahwa Arnita mulai terpancing. Haris terus memijat titik sensitif Arnita, membuat wanita itu terbang melayang layang.


Tanpa Haris Arnita sadari kakinya telah terpaut di pinggangnya Haris, membuat laki laki itu tersenyum. "Kau sudah siap sayang?"


"Haris... ah jangan," Arnita tetap menjaga akal sehatnya, meskipun tubuhnya sangat menginginkannya.


"Tapi mereka menginginkannya sayang, kau nikmati saja," Haris kembali menenggelamkan miliknya ke dalam Arnita.


"Ris ini..." Arnita terkejut, membuat Haris me*lu*mat Bibir Arnita, tanpa menutup matanya, Haris terus menatap mata sayu milik Arnita. Setelah semua tenggelam, harus baru melepaskan pa*ngu*tan nya.


"Ah, ah...uh Haris..." Arnita terus meracau kala merasakan kenikmatan yang belum pernah di rasakan dalam keadaan sadar sepenuhnya.


"Nita sayang, Hm... my love," Haris tak kalah meracau kala menekan irama semakin kencang, dan bibirnya terus bermain di bukit kembar milik Arnita. Arnita menikmati dengan mata terpejam, dan tangan yang terus me*re*mas rambut Haris.


"Ah... ah... Haris..."


"Hm... ah... Nit, Nita sayang.."


Racauan bersahut sahutan disertai dengan dengan de*sahan panas di dalam kamar hotel itu kembali. Hingga mencapai empat puluh menit, Haris kembali tumbang dan membuang laharnya di dalam sana. "Mari kita menikah setelah ini."