
Chandra dan Aliya kembali lagi kepada pekerjaan mereka. Kedua pasangan suami istri ini sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun mulut Aliya yang tak henti hentinya mengunyah. Chandra hanya tersenyum sesekali memandang ke arah istrinya.
Pintu ruangan terbuka tanpa di ketuk, membuat Chandra seketika kesal di buatnya, Chandra memandang ke arah pintu, bersiap untuk marah. Namun saat melihat siapa yang datang, Chandra seketika menurunkan emosinya, karena jika tidak ia yang akan kena semprot anti septik.
"Siang sayang," nyonya Mona segera menghambur ke meja menantunya, melihat pekerjaan menantunya, sekaligus memeriksa keadaan menantunya.
Setelah laporan kedatangan ulet keket tadi nyonya Mona segera pergi ke kantor anaknya. Nyonya Mona khawatir dengan mantunya yang tengah hamil muda. Namun nyonya Mona juga penasaran bagaimana reaksi ulet keket itu ketika melihat ban mobilnya bocor. Bahkan nyonya Mona belum mengetahui bonus dadakan dari Haris dan juga bantuan dari alam.
"Siang ma, mama kok tumben ke sini," Aliya wajar bingung, tak biasanya mertuanya tiba tiba mampir ke kantor ini, bahkan selama Aliya mengawal Chandra, hanya tuan Omer yang sering ke sini. Ibu mertuanya? Wanita itu hampir seperti Chandra yang lebih memilih untuk ke salon jika waktu senggang. Bahkan lebih memilih untuk berkumpul bersama ibu ibu sosialitanya, membahas arisan, dan sinetron yang tadi malam di tonton nya.
"Mama ga boleh ke sini?" Nyonya Mona memulai dramanya, berpura pura sedih. Bukankah orang hamil lebih mudah tersentuh?
Chandra hanya menggeleng, ia tahu itu drama dari mamanya. Mereka sering menonton film dan drama Korea bersama. Itu jelas adalah salah satu cara mamanya menutupi sesuatu. Chandra dapat menduga, bahwa mata mata mamanya, si penghianat yang setianya juga bisa di ajungi jempol, Haris.
Ya, asisten nya yang setia, sering kali merangkap menjadi cctv hidup untuk kedua orang tuanya, terlebih kepada nyonya Mona. Chandra jelas tahu disitu ada uang plusnya. Namun beruntungnya Chandra, laki laki itu tahu kepada siapa dia harus berkhianat, dan dalam waktu apa dirinya harus berkhianat.
Karena jika bukan karena Haris yang saat itu berkhianat, membocorkan hubungannya dengan Brayen kepada nyonya Mona, mungkin saja hingga saat ini ia masih menjadi CEO belok, dan sudah pasti ia belum menikah, dan memiliki istri yang tengah hamil muda.
Jadi secara garis besar Chandra menyukai mengkhianatan sekertarisnya, yang sebenarnya membantunya hingga menemukan tambatan hatinya. Ah, rasanya ia ingin memberikan Haris sebuah hadiah, tapi tidak sekarang. Karena pastinya Haris akan ia butuhkan akhir akhir ini, hingga alien versi Chandra menghilang dari kehidupannya.
Kembali lagi kepada drama ibu mertua, yang tingkahnya seperti ajuma ajuma di drama Korea. Memasang wajah memelas, dengan alis yang turun, dan bibir yang sedikit cemberut.
"Dasar ajuma dramatis," desis Chandra kembali melanjutkan aktifitasnya. dirinya tak ingin larut dengan drama mamanya.
"Engga ma, mama boleh kok, tapi tumben, biasanya pergi ke salon atau ngumpul sama temen ma," benar saja Aliya menjadi tidak enak sendiri dengan ibu mertuanya yang sejak tadi cemberut.
Nyonya Mona tersenyum, tampaknya ia berhasil, menantunya sedih melihat dirinya memandang wajah menyedihkan. Tak rugi dirinya menonton drama Korea, ternyata ada ilmu per_ektingan yang turun kepadanya, dan saat ini telah terpakai. Terbukti menantunya menjadi bersimpati kepadanya.
"Ya udah ga apa apa, mama ngerti kok, tapi kamu udah makan siang kan?" Nyonya Mona berpura pura mengalihkan perhatian dari Aliya.
"Udah mah. Mama dari rumah udah makan?" Aliya bertanya dengan penuh perhatian, tampaknya ia sudah lupa dengan kesedihannya.
"Sudah tadi," nyonya Mona tersenyum senang ke arah Aliya. "Ah, mama bawa cemilan, kamu semangat kerja sama ngemilnya sayang, jangan capek capek, kalau capek istirahat," nyonya Mona menggenggam tangan Aliya.
"Iya ma, kalau capek Al langsung istirahat kok," ucap Aliya tersenyum senang.
"Ya udah, mama pergi dulu ya, ada arisan soalnya," nyonya Mona segera pergi, tanpa pamit kepada anaknya, yang sejak tadi memang tidak terlalu memperhatikan nya.
"Hati hati mah," Aliya berucap ketika nyonya Mona hendak keluar dari ruangan mereka.
Menyadari pintu terbuka, Haris segera memandang ke arah pintu. Haris membungkuk hormat, sembari tersenyum. "Nyonya tadi dari ruangan tuan muda?"
Nyonya Mona segera duduk sebrang meja Haris, sembari memberikan cemilan untuk kerja bagusnya. Haris tersenyum, nyonya nya ini memang pintar menyenangkan hati.
"Bagaimana ulat keket itu?" nyonya Mona segera ke intinya saja.
"Beres nyonya, tadi dia mencak mencak di bawah, mobilnya kempes, satpam bilang kalau bengkel jauh, jadi dia manggil bengkel yang biasa servis mobilnya," Haris menjeda sedikit bicaranya, laki laki itu sedikit menarik nafasnya, hendak melanjutkan kejadian yang begitu menarik. "Terus, satpam itu saya suruh jangan sampai dia berteduh di pos mereka. Jadi si ulet keket dedemit itu segera ke pohon situ."
Haris menunjuk pohon di samping pagar mereka, nyonya Mona mengikuti petunjuk arah tangan Haris, dengan tak kalah antusias.
"Terus..."
Pintu terbuka, menampakkan tuan Omer yang tampaknya mengetahui kedatangan sang istri. Haris kembali berdiri, membungkuk memberi hormat kepada tuan Omer.
"Tuan," Haris tersenyum ke arah tuan besar nya.
"Mama ngapain di sini?" Tuan Omer justru menanyai istrinya, tidak ada rasa cemburu, hanya ada rasa khawatir. Kalau kalau terjadi sesuatu dengan anak dan menantunya.
"Ini loh pah, ada ulet keket tadi di sini," ucap nyonya Mona, membuat tuan Omer mengangguk. Tuan Omer cukup paham dengan istilah istrinya. "Lanjut ris."
"Jadi Haris telfon anak buah Haris buat bikin genangan, biar baju mahalnya keciprat air, untungnya mereka berhasil. Eh satpam pergi ngintip tu dedemit, terus dia kesal ngeliat tu satpam, dia mau mungut botol air, eh malah kejatuhan kotoran burung."
Nyonya Mona terkekeh begitupun tuan Omer, sungguh pasti itu sangat lucu, melihat ekspresi wajah dari Haris.
"Kamu ngintip dari mana?" Nyonya Mona penasaran dengan hal tersebut.
Haris menunjukkan sebuah teropong membuat nyonya Mona terkekeh. "Niat banget."
"Nyonya tenang saja, sudah banyak amunisi yang saya siapkan kalau ulet keket dedemit itu balik lagi," kata Haris membayangkan apa yang akan ia perbuat, jika ulet keket dedemit tuan mudanya kembali. Pastinya akan lebih seru dari hari pertama nya.
"Ya sudah selamat bersenang senang, kami pergi dulu," nyonya Mona segera menarik tangan suaminya agar keluar dari ruangan Haris.
"Mantap kan pa, sekertaris pilihan mama, bisa di andalkan," ucap nyonya Mona berbangga hati. Tuan Omer mengangguk, Haris memang sekertaris pilihan dari istrinya. Memang istrinya cukup jeli, dari awal ia melihat Haris, istrinya itu sudah yakin ingin Haris menjadi sekertaris Chandra.
"Iya mama emang mantap."