
Haris telah berhasil di bawa pulang oleh pak Shing, dan duo kembar. Haris yang sejak tadi berdiam diri membuat mobil yang mereka kendarai mendadak hening, lebih hening di bandingkan mengheningkan cipta saat upacara bendera.
"Astaghfirullah ya Allah, kalian kenapa? Tak panggil pak ustadz ya," ucap mama Wanda saat melihat ke empat orang yang biasanya ribut, kini tiba tiba hening.
"Untuk apa ma?" ucap pak Shing bingung sendiri melihat tingkah istrinya.
"Kamu siapa? Koe sopo? bojo lan anak-anakku nang endi?" mama Wanda panik bukan kepalang, mengira keluarganya di rasuki makhluk halus, pasalnya ini sangat aneh. Ke tiga anak anaknya yang suka ribut, terlebih si kembar yang tak pernah diam, kini tiba tiba diam. Terlebih Haris dengan wajah lesu namun dingin, pandnagan lurus, namun tak fokus.
"Mah kenapa sih? Ini kami loh," pak Shing semakin pusing di buatnya.
"Ora! Kowe sopo? Sampeyan mesti setan rumah sakit ya? Aku bisa nundhungi dhemit, ing kene kowe kabeh. Kuntilanak bagean endi?" mama Wanda panik segera berlari menuju dapur.
Ketiga anaknya dan suaminya mengikuti mama Wanda ke arah dapur, mereka penasaran dengan apa yang akan mamanya lakukan.
Saat menyadari dirinya di ikuti, mama Wanda semakin panik, segera mengambil air di gelas, lalu di sembur nya ketiga anak nya dan suaminya.
"Sadar kalian," ucap mama Wanda.
"Mama...!" ke empat orang tersebut segera berteriak kesal, mama Wanda terlihat mengeluarkan nafas leganya. "Pungkasane sampeyan ngerti, aku duwe bakat dadi dukun."
"Mamah bukan bakat jadi dukun, tapi mama itu kebanyakan nonton film horor," kesal Tiwi, niatnya ingin mengerjai sang mama kini dirinya terkena semburan.
"Nasib nasib, sudah mendapatkan rintangan restu yang sulit, saingan para dokter tampan, sekarang kena sembur. Itu lah nasib kak Haris," ujar Tika cekikikan.
"Tika..." Haris menggeram sendiri, segera meninggalakan ruangan tersebut, Haris segera beranjak ke lantai dua, ke kamar miliknya.
Mama Wanda yang di tinggalkan syok sendiri, pasalnya dirinya tak tahu apa apa. Bahkan salah paham kepada anak anaknya yang tiba tiba diam seperti bukan diri mereka.
Pak Shing segera berjalan menuju wastafel, dan mencuci wajahnya, kemudian mengambil handuk kecil, demi mengusap wajahnya yang basah.
"Mama kenapa sih? Ada yang salah?" ujar pak Shing mendekati istrinya.
"Mulaiiiii!!! Si buhen pak Shing beraksi," ejek kedua kembar tersebut segera kembali ke kamar mereka.
"Sini yuk duduk dulu, baba hari ini lama tidak memeluk mu," ujar pak Shing si raja bucin di rumah tersebut.
"Eh malu tau," ujar mama Wanda, dengan wajah yang memerah.
"Ya sudah kita ke kamar dulu ya," ujar pak Shing.
Jika sudah menyangkut urusan kamar, mama Wanda jelas tahu pada akhirnya mereka akan olahraga. "Di sini saja," tolak mama Wanda.
"Ayo lah, ini urusan anak anak," bujuk pak Shing, akhirnya di setujui mama Wanda. Pak Shing tersenyum penuh kemenangan.
^^^Aduh dapat jatah nih siang siang.^^^
"Anak anak kenapa pa?" tanya mama Wanda penasaran.
"Ini masalah si Haris, dia suka sama si kurcaci yang tempo kemarin di ceritakan. Terus ada dokter yang sangat dekat dengannya, Haris cemburu, dan menjelek jelekkan laki laki itu. si kurcaci calon mantu marah. Dan mama tahu laki laki itu siapa nya?" pak Shing sengaja membuat teks teki dadakan, seperti dosen yang ingin menguji pengetahuan mahasiswa nya.
Pak Shing membawa mama Wanda ke dalam pangkuannya, dengan memeluknya erat. "Kakaknya mah," ujar pak Shing tangannya mulai menjelajah ke segala arah.
"Pah ah," mama Wanda sudah mulai merem melek dengan kemampuan pak Shing yang semakin hebat.
Pak Shing tahu jelas titik kelemahan mama Wandi, dan itu yang membuat pak Shing lebih mudah mendapat keinginannya.
"Mah baba mau," ujar pak Shing menelusup kan tangannya ke balik celana mama Wanda.
"Pah ini siang," ujar mama Wanda mencoba mempertahankan kesadaran nya, yang mulai hilang.
"Mah dosa loh," ujar pak Shing mulai mengusap lembut pusat kenikmatan mama Wanda.
"Eh, tapi mama boleh meminum obat encok dulu tidak?" ujar mama Wanda, di ambang kesadaran nya.
"Iya mah, sekalian papa buka baju dulu."