
Haris baru saja pulang dari rumah bosnya, segera berjalan menuju kamarnya dengan wajah di buat se natural mungkin. Ia harus menyembunyikan kekesalannya. Pasalnya anggota keluarga nya yang punya bakat tertimbun itu, bisa tiba tiba mengeluarkan bakat nya. Yaitu menjadi cenayang, dan membaca isi hari nya.
"Haris sudah pulang kamu?" tiba tuan pak Shing muncul dari kamarnya, saat Haris hendak menaiki tangga.
"Iya pa," kata Haris segera turun dari tiga anak tangga yang telah di naikinya.
"Bagaimana? Sudah di sampaikan salam papa kepada calon menantu papa?" Goda pak Shing membuat Haris bingung sendiri.
"Menantu? Yang mana," Haris bingung sendiri dengan papanya.
"Itu loh Ris, Wanita ember dengan tinggi 150, mirip anak SD itu, yang imut itu loh," ucap pak Shing tersebut mengejek.
"Ya ampun pa, jangan ngaur deh, orang tu kurcaci sudah punya pacar," Haris menjawab dengan nada lesu, entah kenapa memikirkannya saja membuat harus tak bersemangat.
"Apa?!" Pak Shing sungguh terkejut, pantas saja wajah anaknya sedikit di tekuk saat ini. Meskipun Haris berusaha tampak biasa saja dari luar, namun Haris tetap merasa tidak nyaman dengan kedekatan Arnita dengan laki laki yang mengaku Bambang.
"Apa nya apa pa?" Haris pura pura tak mengerti maksud dari kekagetan pak Shing. Haris lebih memilih untuk diam, jika tidak maka papanya ini akan terus berusaha menggali informasi dari nya.
Mulai kepo ni papa, ya ampun mau istirahat. Haris mengeluh di dalam hatinya.
"Apa? Dia sudah punya pacar? Ayo sini deh duduk kita yuk duduk, coba cerita sama papa," pak Shing menarik Haris menuju sofa yang ada di ruang keluarga.
"Untuk apa sih pa?" Sudah Haris tebak, jika papanya ini akan mengintrogasi nya, layaknya seorang saksi dalam kasus besar.
"Ayo papa penasaran gimana anak papa yang guantengnya poll ini di tikung. Seganteng apa memangnya dia?" Pak Shing sudah mulai heboh sendiri, dan berbicara layaknya ibu ibu yang suka nongkrong di gerobak sayur keliling.
"Mana ada ganteng gantengnya, jauhlah gantengan Haris ke mana mana pa," Haris tak terima mendengar laki laki itu di sebut ganteng. Terlebih mereka mulai membandingkannya.
"Terus dia kok bisa suka sama itu orang, kurcaci kesayangan kamu itu loh," Pak Shing benar benar menservis Haris habis habisan, menanyakan tentang kekasih Arnita, calon menantu idamannya. Yang tak pernah ia ketahui wajahnya.
{Jika saja othor yang tiba tiba muncul di depan pak Shing dan mengatakan bahwa. "Pah ini aku Arnita, wanita yang selama ini sering di panggil kurcaci oleh Haris." Mungkin pak Shing langsung percaya, wkwkwk}
"Mana Haris tahu, orang Haris jauh di atas tu orang," sewot Haris, membuat pak Shing semakin tersenyum.
"Memang selama ini kami gimana dengan dia?" Pak Shing sudah bertekad untuk mencari tahu tentang calon menantu mereka, yang berhasil membuat Haris seperti orang aneh.
"Tidak ke orang orang, ke kurcaci kesayangan kamu itu," pak Shing sedikit gemas dengan jawaban bertele tele Haris. Pak Shing mulai curiga dengan bahasa Haris yang berputar putar.
"Ya gitu lah," jawab Haris sekenanya, semakin membuat pak Shing gemas.
"Tidak kamu ajak bertengkar terus kan? Atau kamu ledekin terus kan?" Pak Shing kembali membuka mata ketiganya, yang mampu menembus pemikiran dari Haris. "Tu kan? Pantas saja dia dengan yang lain, orang kamu gitu sih."
"Apaan sih pa," Haris masih pura pura tak tahu maksud dari pak Shing.
"Ya sudah tapi sebelum Janur kuning melengkung si kurcaci masih bisa kita tikung, giring ke gawang kita," pak Shing mulai kembali bersemangat, tanpa memperdulikan ucapan Haris yang seolah olah tak mengerti maksudnya. Dirinya sangat mengenal Haris, mana mungkin pria itu tak mengerti maksudnya.
"Pa, papa salah faham. Haris tidak suka dengan dia, dia bukan selera Haris pa. Papa lihat ini," Haris mulai membuka internet, dan mencari wajah Ariana Grande. "Ini yang selera Haris."
"Oh, ya sudah kalau begitu kita do'akan dia dan pacarnya langgeng terus hingga ke pelaminan," pak Shing tampaknya tak henti hentinya menguji Haris.
Mari kita lihat, apakah selera mu mampu membuatmu pura pura tak perduli? Dasar anak ini benar benar keturunan mamanya. Pak Shing menggeleng sendiri melihat anaknya.
"Papa kok jadi do'a in mereka sih?" Tu kan, sudah pak Shing duga akan hal ini, Haris hanya saja tak mau untuk mengakuinya.
"Kan kamu juga suka yang seperti itu," pak Shing mulai menunjuk ke arah foto Ariana Grande.
"Ya tapi kenapa harus mereka sih? Mereka itu sama sekali tidak cocok pa," ucap Haris tak terima, mengingat bagaiman tadi ke mesraan mereka, membuat Haris kesal sendiri.
"Lalu si kurcaci kesayangan kamu cocok dengan siapa?" Pak Shing mulai kembali memancing Haris.
"Ya tidak tahu pa. Pokonya mereka tidak cocok pa," ucap Haris kesal, ingatannya tentang tingkah mereka tadi masih membuat Haris kesal setengah mati.
"Ya sudah papa do'a in supaya si kurcaci dapat jodoh yang terbaik, ga kayak kamu," pak Shing kembali memancing Haris.
"Ih apa apaan sih pa, kok pakai pengecualian gitu?" Haris menjadi kesal sendiri mendengar doa doa dari papanya.
"Ya kan harusnya kamu ga usah se sewot itu dong, kan kamu ga suka dengan dia," ucap pak Shing telak mengenai Haris.
Maaf guys susah hadir akhir akhir ini, pasalanya othor magang jadi emak emak, soalnya mamak othor keluar kota, jadi yang ngurusi rumah, contohnya, masak, nyuci piring, nyapu rumah, ngepel, dan lain lain jadi tugas othor, mana selain othor itu hanya laki laki, jadi mereka hanya bisa bantu dikit, setelah othor berubah jadi wonder woman, mulutnya kalau ngoceh wkwkwk.