
...Guys tolong budayakan like dan komentar ya, tahukah anda menurut nopidia memberi like dan komentar akan menambah semangat author untuk berkomentar....
Bunyi ketukan membangunkan Aliya, Aliya segera meraih ponselnya, dan ternyata sudah waktunya untuk makan siang, Aliya segera berjalan menuju ruang ganti, dan mengenakan pakaiannya. Pasalnya tadi ia hanya mengenakan bi ki ni. Saat pintu di buka, ternyata itu merupakan salah satu maid.
"Non, maaf sudah waktunya makan siang," kata maid tersebut sopan.
"Iya tunggu sebentar bangunin Chandra," Aliya kembali menutup pintu kamar, berjalan ke tempat tidur, dan membangunkan Chandra. "Curut bangun dong."
"Hm..." Chandra membuka sedikit matanya, memandang ke arah Aliya. "Kenapa hm?"
"Makan siang, udah di tungguin nih," kata Aliya segera menarik tangan Chandra.
Dengan segala ke enggan, Chandra mengikuti Aliya. Mereka menuju ke kamar mandi, demi membasuh wajahnya, menghilangkan kantuk yang menerjang. Chandra dan Aliya segera turun dan menemui ketiga orang tua yang telah menyantap makanannya terlebih dahulu.
"Kirain belum mau makan," kata nyonya Mona ketika melihat anak dan menantunya baru saja turun.
"Sorry ma soalnya ketiduran, kecapean selama di perjalanan," kata Aliya tersenyum tidak enak.
"Iya ga apa apa sayang, ayo makan," jawab nyonya Mona santai.
Setelah mereka makan siang, mereka segera berbincang bincang di ruang keluarga. Para laki laki antusias membicarakan tentang bisnis dan politik, sementara para wanita hanya mendengarkan. Aliya merasa bosan mendengar pembicaraan mereka, segera meletakkan kepalanya di bahu Chandra.
Chandra yang menyadari kepala istrinya bersandar, segera memperbaiki posisi duduknya. Para orang tua yang melihat hal tersebut tersenyum senang. Mereka tak menyangka sebuah perjodohan bisa berakhir semanis itu, Chandra yang dulunya menyukai sesama jenis, kini telah berubah seratus delapan puluh derajat. Lihat saja, bahkan Chandra dengan sengaja memperbaiki posisi duduk nya demi kenyamanan istrinya.
"Sebenarnya kakek ingin berhenti, kakek ingin memberikan perusahaan kepada Al," kata kakek Rio tiba tiba, membuat Chandra mengangguk setuju, karena memang sudah saatnya kakek Rio untuk beristirahat.
"Kakek tenang aja, nanti Chandra yang akan membantu Al kalau ada kesulitan," kata Chandra meyakinkan. Meskipun ia tahu akan merepotkan dirinya, namun ini semua demi kebaikan keluarga. Terutama demi kesehatan kakek Rio.
"Terimakasih Al, nanti biar asisten kakek yang memberitahu semuanya," kata kakek Rio tersenyum.
Kakek Rio sungguh senang, akhirnya dirinya bisa pensiun mengurus perusahaan besar tersebut. Tak sabar rasanya ingin menikmati masa masa tuanya. Ah, andai sangat istri tercinta masih ada, pasti akan lebih menyenangkan. Tapi tak apa lah ini yang terbaik dari sang khalik.
"Al minum obat ya Chand?" Kakek Rio memandang ke arah Aliya bingung.
"Engga kek, dia ga lagi sakit," kata Chandra tak kalah bingung, setahunya selama di negri gingseng tersebut Aliya tak pernah mengkonsumsi obat apa pun.
"Lah kok sekarang tiduran mulu, kayak habis minum obat tidur," kata kakek Rio menyadari keganjalan cucu kesayangannya.
Pasalnya Aliya selama ini tidak pernah begitu. Aliya selama ini tidak terlalu suka tidur tiduran seperti itu. Hanya saja ketika ia meminum obat akan terjadi hal seperti itu.
"Mungkin masih kecapean kali," kata Chandra mencoba mengerti situasi Aliya. Namun dirinya diam diam juga bingung dengan sikap Aliya, tidak biasanya wanita ini begitu penidur, sehingga bisa di juluki putri tidur.
"Hm, besok suruh olah raga, biar ga tidur tiduran mulu," kakek memberi ide untuk Chandra.
"Boleh juga," Chandra menyetujui keinginan kakek Rio, begitupun nyonya Mona dan tuan Omer, yang menyetujui nya dengan anggukan.
Aliya tiba tiba mengerjapkan matanya, memandang ke arah Chandra. Chandra yang melihat Aliya terbangun menjadi bingung sendiri, pasalnya biasanya harus di bangunkan telebih dahulu.
"Kenapa hm?" Chandra memandang ke arah istrinya, rasanya ada hawa hawa permintaan yang cukup sulit, dari pandangan mata istrinya.
"Es krim mau?" Chandra segera memberikan sebuah opsi.
"Ga ga mau, eneg rasanya," bahkan Aliya membayangkan nya saja sudah terasa mual.
"Tumben lo? Puding puding deh," kata Chandra kembali menawarkan makanan.
"Hm boleh sih, tapi rasa mangga sama strawberry kayaknya enak deh," kata Aliya membayangkan puding mangga dan strawberry di dalam mulutnya. Ah, membayangkannya saja terasa sangat menggiurkan.
"Ya udah tunggu bentar," Chandra segera memandang ke arah dapur. "Bik Na," Chandra memanggil salah seorang asisten rumah tangga.
"Iya den," bik Ina datang sembari menenteng sebuah celemek, pasalnya dia baru saja selesai membersihkan meja makan.
"Bik tolong minta koki masakin puding rasa strawberry sama mangga," kata Chandra tersenyum ke arah bik Ina.
"Buat yang kayak di tv tv ya bik," kata Aliya tiba tiba menambahkan opsi dalam permintaan nya.
Alis semua orang mengerut karena ini kali pertama Aliya meminta yang aneh aneh, biasanya dia tidak butuh bentuk. Namun kalau di master chef itu, yang terpenting adalah flavor, namun kali ini permintaan Aliya sungguh luar biasa.
"Eh iya non, nanti saya minta sama koki. Ada lagi non?" Bik Ina siap menerima permintaan Aliya selanjutnya.
"Hm itu aja deh," kata Aliya tampak berfikir mengetuk dagunya.
Chandra menggeleng melihat kelakuan istrinya. Bik Ina hanya mengangguk mengiyakan. Namun belum sempat bik Ina melangkah, tiba tiba Aliya kembali menghentikan bik Ina.
"Bik mau mie ayam juga ada di depan komplek rumah kakek," kata Aliya menghentikan langkah bik Ina, tampaknya ia memiliki permintaan lainnya, yang terlintas di benaknya. "Yang mie ayam kaki lima."
"Kamu olah raga deh Al, makan mulu. Entar membengkak badanmu," kakek Rio mencoba menasehati Aliya. Berhasil membuat Aliya merengut dengan mata yang berkaca kaca.
"Al ga gemuk kok kek, Al kurus aja tuh," kata Aliya mencubit perutnya yang tertutup oleh kaus milik Chandra.
"Kamu ngapain sih pakai kaus punya Chandra?" Bukannya merasa bersalah, kakek Rio justru menanyakan perihal kaus yang di kenakan oleh Aliya.
"Mau aja, keren soalnya," kata Aliya tiba tiba cengengesan.
Mood Aliya yang tiba tiba seperti angin berlalu, membuat semua orang semakin bingung. Biar bagaiman pun ini diluar dari kebiasaan Aliya, yah walaupun suka makan itu memang kebiasaan Aliya sejak dulu, namun Aliya bukan termasuk yang suka memilih.
Nyonya Mona tiba tiba melebarkan pupil matanya, dirinya tampak antusias melihat tingkah Aliya. Dirinya seperti mendapat angin segar karena tingkah menantunya.
"Imah," nyonya Mona segera berteriak karena kegirangan.
"Iya nyonya," bik Imah tampak berlari dari arah dapur.
"Ayo sini ikut saya," nyonya Mona berdiri, dan berjalan menuju kamarnya.
Tak lama kemudian bik Imah berjalan keluar, dengan sedikit berlari. Karena perintah urgent dari nyonya Mona.
Ayo tebak si mah di suruh apa? Kyuk komen rame rame di bawah, biar othor semakin semangat.