SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Sahabat sejati



"Teruntuk suamiku tersayang. Hari ini aku menulis kata-kata untuk imamku penjagaku yang tidak sedetikpun meninggalkanku di saat aku menangis tiada henti, padahal aku tahu kamu pun merasakan hal yang sama di saat kita datang penuh kebahagiaan dan pengharapan untuk melihat perkembangan anak kita..tapi ternyata semua itu sirna di saat harus mendengar calon bayi kita hilang detak jantungnya," (kutipan dari Fairuz)


Mungkin kata kata mutiara yang di ambil dari Fairuz lah yang tepat untuk menggambarkan perasaan Aliya saat ini. Kepergian seorang anak sungguh pukulan yang berat baginya. Cintanya, separuh nyawanya seakan pergi entah kemana.


Namun kehadiran Chandra, sang suami yang selalu ada di sampingnya, membuatnya menjadi wanita kuat, wanita yang mampu menerima cobaan yang telah di berikan.


"Allah tidak pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya," kata kata dari nyonya Mona selalu membekas di kepalanya, kata kata itu salah satu penguat dari Aliya, agar dapat bertahan sejauh ini.


Aliya selalu berfikir bahwa dirinya tak boleh kalah dengan keadaan saat ini, setidaknya dirinya harus berjuang, meski separuh nafasnya telah hilang, namun setidaknya Chandra akan selalu mengisi separuh nafasnya yang kosong.


"Allah percaya bahwa kakak bisa melewati ini semua, karena itu cobaan yang berat ini di ujian kepada kakak, tinggal kakak aja lagi percaya diri atau ga? Kalau Angel sih percaya sama kakak, kalau kakak percaya ga sama diri kakak?" kata kata Angel yang kadang nyeleneh terkadang membuat Aliya terkekeh geli.


"Berperang emang berat kak, tapi cobaan kakak ini ga kalah berat. Sekarang kan kakak udah sering berperang, jadi pasti cobaan segini mah buat kakak berat, tapi bisa di jalani kok," ucapan ambigu Aska yang terkadang membangongkan, namun tetap mampu membuat Aliya terkekeh.


"Kehilangan adalah sesuatu hal yang menuntun kita menjadi dewasa. Namun menjadi dewasa adalah pilihan, untuk memulai sadar bahwa orang-orang terdekat tak selamanya bersama kita, meskipun kita dalam masalah besar, ingat kau tak pernah sendirian Al," kata kata mutiara yang penuh kebijakan datang dari Juwita tentunya.


Membuat Aliya sadar bahwa banyak yang menyayangi nya, dirinya tak perlu bersedih berlarut larut, dan tak perlu terlalu mengumbar kesedihannya.


Kata kata mutiara dari para sahabat, dan tingkah lucu sahabatnya yang membuatnya menjadi kuat hingga saat ini. Dirinya perlahan mulai bangkit menerima kenyataan pahit tersebut.


Meski begitu terkadang di kala sepi wanita itu masih menangis, menyesali kepergian calon buah hati nya. Seolah memberikan luka yang amat sangat dalam, Aliya tahu bekas itu tak akan hilang, penyesalannya ini akan selalu membekas, meskipun ia berusaha menghilangkannya dan menutupinya, dengan senyuman di hadapan orang orang, agar tak terlalu menghawatirkan dirinya.


Seperti saat ini, saat dirinya tengah berada di dalam ruangan sendirian. Kesedihan Kemabli melandanya, ingatannya akan seorang anak yang berada di perutnya, kembali membuatnya menitikan air mata penyesalan. Melepaskan air matanya. Dirinya hanya seorang wanita, yang berharap dan berangan akan menjadi calon ibu beberapa bulan kedepan. Namun semua sirnah seketika, banyangkan dirinya menggendong seorang anak kini telah sirnah dan hilang, tergantikan dengan pahitnya kenyataan.


"Maaf, maaf, maaf," hanya kata kata itu yang mampu Aliya keluarkan dengan lirih dari bibirnya. Aliya terus mengusap perutnya yang kemarin sudah membesar.


Chandra baru saja pulang dari kantornya, Chandra segera pergi ke rumah sakit, pakaiannya telah berada di sana, Chandra bertekad kepada dirinya sendiri yang akan merawat Aliya, kala dirinya telah kembali dari kantor. Saat ingin membuka pintu ruangan aliya, Chandra tampa sengaja mendengar isak tangis dari sang istri, tangisnya terdengar sangat menyayat hati, membuat siapapun yang mendengarkannya menjadi ikut bersedih.


Chandra diam tertegun, Chandra mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Dirinya tahu betul pasti istrinya saat ini masih menangis menyesali kepergian calon buah hati mereka. Chandra menyandarkan kepalanya di tembok, meremas kuat jari jemarinya. Chandra sungguh ingin memeluk Aliya saat ini, namun membiarkan istrinya menangis sejenak demi membuat wanita itu menjadi lega dan melepas semua kepedihannya, sangat di perlukan. Itu kata Juwita, selaku psikiater dan dokter jiwa.


Karena Chandra paham betul, bahwa Aliya akan berpura pura kuat kala ada dirinya dan keluarga lainnya. Ya wanita itu hanya butuh waktu sendiri melepaskan semua kesedihannya, yang membelenggu dirinya.


Bukan Chandra tak ingin memeluk istrinya kala sedang menangis, namun Chandra hanya ingin istrinya melepaskan perasaannya tanpa harus berpura pura tersenyum di hadapannya. Tanpa terasa air mata Chandra terjatuh, seiring dengan tangis Aliya dari dalam yang sedikit mereda.


"Al maaf, gue belum bisa jadi suami yang baik, yang bisa jagain lo," gumam Chandra bermonolog. Sejujurnya hingga saat ini Chandra masih menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian anak mereka.


"Al, maaf," Chandra menutup mulutnya dengan mengepal kan tangannya, menggigit tinjunya, demi menahan Isak tangis, agar tak ikut terdengar oleh Aliya. "Al maaf, sayang maafkan papa, papa tak bisa menjaga kalian, maaf."


Chandra bahkan kini terduduk lemas di depan pintu ruangan Aliya, kakinya seakan lemas, tak mampu menopang tubuhnya yang tegap. Chandra menyenderkan tubuhnya di dinding, dengan pandangan menengadah ke langit langit.


Lama mereka menangis, menyesali kegagalan masing masing. Hingga merasa tenang sendiri. Chandra menarik nafasnya dalam dalam, dan mengembuskan dengan kasar. Menenangkan dirinya sejenak. Chandra terdiam setelah mendengar tangis Aliya menghilang, Chandra segera mengusap air matanya, dan mencoba untuk tersenyum, senatural mungkin.


Chandra segera mengetuk pintu, membuat Aliya yang saat ini berada di dalam ruangan tersebut, buru buru mengusap pipinya yang basah.


"Sayang, aa datang," ucap Chandra segera merentangkan tangannya sembari berjalan ke arah Aliya, membawakan makanan kesukaan Aliya. "Aa bawa mie ayam depan komplek rumah lama."


"Beneran?" Aliya tampak berbinar mendengar Chandra membawa mie ayam kesukaannya.


Chandra segera mendekat dan mengecup kedua mata Aliya cukup lama, Chandra ingin menghapus jejak air mata kesedihan di sana, dan menggantinya dengan kebahagian.


Aliya menikmati kecupan itu, hatinya selalu merasa lega, dan menghangat ketika suaminya memberinya kecupan lama dan manis di wajah dan matanya.


"Mau makan sekarang?" Chandra kembali mengecup seluruh wajah Aliya, dan berakhir pada bibir Aliya.


"Hm, mau dong," ucap Aliya sembari tersenyum.


Chandra segera beranjak dari tempat tidur dan mengambil mangkok, sebagai wadah mie ayam tersebut. "Sayang masih kangen," Chandra memeluk Aliya sembari mengecup leher Aliya, sembari mengirup aroma tubuh Aliya dalam dalam.


"Mandi dulu gih, bau acem," ucap Aliya terkekh melihat tingkah suaminya, yang terkesan manja.


"Aku mandi dulu ya tayang eh sayang akuh," kata Chandra dengan bahasa gaul ala nak jaman now.


"Idih lebai beut dah," ucap Aliya mengikuti gaya bicara Chandra sembari meniup mie ayam yang masih hangat tersebut.


Chandra segera pergi mandi demi membersihkan dirinya, Chandra memang tidak pulang ke rumah utama sehabis bekerja, Chandra akan segera ke rumah sakit. Menemani Aliya yang tengah berada di rumah sakit, tak ingin membuat Aliya merasa di abaikan. Sementara Juwita juga hampir setiap hari datang menjenguk Aliya, bersama dengan Brayen.


Sementara Angel juga begitu, wanita blasteran itu akan datangan bersama kakak sepupunya, Aska.


"Selamat sore," ucap Angel membawa tentengan di tangannya.


"Sore," jawab Aliya sembari memakan mie ayamnya.


"Wih makan mie ayam nih, enak kayaknya," Aska segera mendekat ke arah Aliya, sontak saja Aliya menjadi waspada. Aliya tak mau berbagi makanan kali ini. Pasalanya dari sekian lamanya ia di rumah sakit, baru kali ini ia memakan mie ayam, dan itu dari tempat langganannya.


"Buset dah pelit amat kak, bagi dikit kenapa sih?" Aska protes, ingin juga merasakan mie ayam yang di makan oleh Aliya.


"Ga enak saja, ini punya gu...e," ujar Aliya menekan kata kepemilikannya, sontak saja membuat Angel terkikik geli melihat tingkah kedua orang yang tengah memperebutkan mie ayam.


"Pelit dia itu, emang gitu," kesal Aska pasalnya tak mendapatkan apa yang di inginkan nya.


"Siapa yang pelit?” Juwita tiba tiba masuk dengan Brayen, di sampingnya.


"Itu tuh kak Al," adu Aska kepada Juwita. Sontak saja Juwita dan Brayen terkekeh geli mendengar hal tersebut. "Njel pinjam laptop lo dong, gue mau ngerjain laporan gue hari ini."


"Nih," ucap Angel sembari memberikan tas yang terdapat laptop di sana.


Sementara Juwita segera mendekat ke arah Aliya, melihat keadaan sahabat nya itu. "Al lo udah ga apa apa kan? Chandra belum pulang?"


"Udah ga apa apa kok,kalau Chandra ada di dalam," ujar Aliya tersenyum.


"Kakak pisau buah mana?" Angel tiba tiba muncul mencari pisau buah, pasalanya dirinya tak menemukan pisau buah di tempat buah buahan yang berada di atas meja.


"Itu di dekat air minum," ujar Aliya dengan suara masih terdengar lesu.


"Angel kau mau menjenguk Aliya atau menghabiskan makanannya?" Juwita sedikit menggeleng ketika melihat Angel yang sejak datang tadi sibuk mengunyah, bahkan sejak kemarin buah tangan yang di bawa oleh beberapa orang untuk menjenguk Aliya, lebih banyak di habiskan oleh Angel.


"Ya elah kak, namanya juga masa pertumbuhan, jadi harus makan yang banyak," ujar Angel cengengesan.


"Dasar bule rakus," ejek Juwita.


"Memangnya di samping kakak bukan bule rakus?" Angel menunjuk ke arah Brayen. Sontak saja Juwita cemberut.


"Engga sama ya," kepala Juwita membuat Angel dan Aliya terbahak, bahkan mereka kini melakukan tos ria.


Chandra yang baru saja berpakaian mendengarkan suara ketawa Aliya yang lepas namun terdengar lesu, segera tersenyum. Chandra segera bergegas mengenakan pakaiannya, dan keluar.


Aska masih asyik menyelesaikan pekerjaannya. Namun entah kenapa salah satu tombol sedikit lambat berfungsi.


"Angel’ boleh nanya enggak? Fungsi dari tombol enter di laptop lo apa sih? Kok laptopnya ga mau nge di enter ya?" Aska terus menekannya sejak tadi, namun tak berhasil. Tampaknya penyakit error' dari laptop Angel kembali.


"Ya itu sih buat mempercepat jalannya program, Aska” ucap Angel dengan polosnya.


“Hah? memepercepat gimana Njel? Orang ini ga mau kepencet, selalu error' service,” Aska kembali bertanya, diri nya mulai kesal dengan laptop yang Angel bawa.


Chandra keluar dengan mengenakan kaus oblong, dan celana panjang berbahan jeans. Chandra segera berjalan menuju tempat tidur Aliya.


“Memperceoat gimana ni Njel? Ini laptopku eror ini, lama lama namanya bukan bukan enter kalau di laptop mu, tapi entar…!!”


Seketika semua terbahak mendengarkan lelucon atau keluhan, yang di buat Aska.


“Aska... Aska bisa aja lo. Boleh nanya lagi nggak?" Aliya tiba tiba bertanya kepada Aska.


"Boleh kok," ujar Ask mamandang Aliya.


"Gue kan udah masuk di internet, terus gue cari cari akun Facebook, kok nggak bisa terus yah? Kenapa kira-kira?" Aliya memicingkan matanya memandang ke arah Aska.


“Di depanya kata Facebook sudah di ketik www belum?” Aska kini memandang ke arah Aliya.


“Belum As. Emangnya musti ditulis ya?” Chandra tersenyum melihat istrinya yang mulai membuat beberapa lelucon. Chandra sangat bahagia dengan kehadiran sahabat sahabat istrinya, yang memang tak segan segan bertingkah lucu di demi membuat Aliya tersenyum.


“Ya iya dong!” Aska kini mulai faham dengan alur yang akan di bawakan oleh Aliya, sementara yang lain menunggu dengan sangat sabar puncak lelucon tersebut.


“Emang apaan sih www itu??" Aliya bertanya dengan wajah yang di buat sepolos mungkin, tampak seolah dirinya benar benar tak mengetahui apa apa.


“Ehmm…kasih tau ga yaaaa..?" Aska menaik turunkan alisnya, sembari menyimpan laptop Angel di dalam tas. "Ya pokoknya kalau mau masuk website ya harus ketik www dulu. Kalau ga salah... Aska tampak berpikir keras, seolah mencari jawaban dari pertanyaan Aliya. Hm kalau ga salah sih www itu singkatan dari Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh." ujar Aska membuat seisi ruangan di penuhi dengan tawa yang meledak.


"Aduh aduh aduh," Aliya meringis memegangi perutnya saat sedang tertawa lepas, pasalnya jahitan di perutnya belum mengering sepenuhnya.


Chandra dengan sigap memegangi perut Aliya, agar wanita itu tidak kesakitan. Chandra mengecup sebentar kepala Aliya. Chandra diam diam kembali mengucap syukur atas kehadiran teman teman Aliya, mereka semua benar benar mampu menghibur istrinya di kala sedang sedih.


“Oooo gitu ya?! Jadi harus salam dulu ternyata. Keren yah!” Angel ikut menimpali, di sela tawanya, uang semakin membuat mereka semua meledak kan tawanya.


Itulah gunanya sahabat. Seneng maupun sedih, mereka akan selalu berusaha menghibur baik dengan tingkah maupun lelucon lucu. Yang meski hanya recehan, tapi setidaknya mampu mengusir rasa sedih, meski hanya sesaat.


"Ribut sekali," kakek Rio datang dengan menggunakan kursi roda, dengan tuan Omer, dan nyonya Mona yang mendorong kursi tersebut.


Kakek Rio tampak tersenyum ketika melihat tawa Aliya, cucu kesayangan nya itu tampaknya telah kembali ceria. Setidaknya itu membuat kakek Rio bernafas lega. Kakek Rio sungguh bahagia, keputusan nya untuk merestui Aliya dan Chandra sangat tepat. Tampak Chandra yang selalu menemani Aliya di kala cucunya itu tengah terluka. Setidaknya kakek Rio merasa tenang jika sewaktu waktu meninggalkan Aliya.


..."Hal yang hebat tentang sahabat sejati ialah mereka membawa energi baru ke dalam jiwamu."...


..."Seorang teman akan menahan tawanya dan membantumu bangun ketika kamu terjatuh. Namun, teman sejati akan tertawa terbahak-bahak hingga mereka pun ikut terjatuh."...