
...Guys tolong budayakan like dan komentar ya, tahukah anda menurut nopidia memberi like dan komentar akan menambah semangat author untuk berkomentar....
Pagi ini Chandra dan Aliya tengah bersiap siap untuk pergi ke klinik kecantikan, mereka terlihat serasi dengan coach jaket khusus musim dingin couple, bergambar Teddy bear berwarna coklat dan setengah balon berbentuk hati, sementara Aliya Teddy bear berwarna coklat juga dengan setengah balon berbentuk hari juga. Jika Chandra merangkul Aliya maka kedua balon berbentuk setengah hati di pakaian mereka akan utuh seperti tanda hati.
Jangan di tanya itu ide siapa, itu adalah ide Chandra, si korban film drama Korea, dengan nuansa romantis. Sementara Aliya? Hanya bisa pasrah menerimanya.
Chandra di temani kamera perekam nya, terus merekam Aliya yang terlihat menggemaskan menurutnya, dirinya juga ikut dalam rekaman tersebut, namun hanya sesekali. Aliya hanya tersenyum melihat tingkah suaminya, yang sangat eksis jika berhadapan dengan kamera, berbeda dengan dirinya yang cendrung tidak peduli.
Tapi Aliya memang terlihat sangat menggemaskan, dan semakin menggemaskan ketika meniup poni rambut yang terjuntai cantik hingga menggapai alis. Ah, cantik. Jauh dari pandangan garang yang selama ini terlihat di lapangan tempur.
Chandra dan Aliya tengah duduk menunggu hidangan yang tampaknya sebentar lagi akan jadi, mereka berdua tampak tengah bercanda gurau. Aliya tersenyum saat melihat Chandra begitu antusias dengan ceritanya.
......................
Setelah sarapan mereka berdua segera memasuki mobil, yang telah di sewa khusus menemani mereka berdua selama honey moon di negara ginseng tersebut. Kini mereka menuju ke klinik kecantikan, yang telah di pesan oleh Chandra. Mereka melaju di bantu oleh gps. Sesampainya mereka di sana mereka segera menemui dokter kulit yang menangani mereka. Mereka di pandu oleh seorang suster perawat wanita yang ternyata fasih berbahasa Indonesia.
"Baiklah, di sini kita akan memulai analisis wajah dulu ya, silakan bapak terlebih dahulu untuk memeriksa kulitnya, dan nanti mesin kami akan memberikan stimulasi skincare yang cocok dengan dengan bapak," kata wanita itu ramah, sembari mempersilahkan Chandra untuk menghadap ke mesin, sembari menutup matanya. Kebetulan mesin itu sedikit mengeluarkan pancaran, untuk memeriksa keadaan kulit Chandra. Aliya terus memperhatikan, sembari merekam proses nya, karena mereka hanya di perbolehkan untuk merekam beberapa part saja, katanya sih untuk menjaga setiap kenyamanan pekerja.
Setelah selesai baru lah Aliya juga ikut mengulangi hal yang sama, yang di lakukan oleh Chandra, hingga pemeriksaan selesai. Seperti hal nya Aliya tadi, Chandra pun ikut merekam yang di lakukan oleh Aliya.
Dokter mengamati monitor, dan melihat setiap perawatan yang di butuhkan untuk kedua pasiennya. Dokter tersebut segera mempersilahkan kembali keduanya untuk duduk. Dokter tersebut menjelaskan masalah pada wajah Aliya dan juga Chandra. Kemudian perawat wanita yang tadi, yang menerjemahkan nya. Aliya mengerti yang di ucapkan oleh dokter tersebut, namun juga memilih untuk mengangguk ketika perawat itu menjelaskan. Selesai melakukan pemeriksaan mereka segera membeli skincare yang mereka butuhkan.
Aliya dan Chandra segera beranjak ke ruangan selanjutnya, untuk melakukan perawatan kulit yang sebenarnya. mereka meminta satu ruangan, dan mereka mendapatkannya. Chandra tersenyum, Chandra tahu bahwa istrinya itu memang merawat kulitnya, namun hanya sebatas skincare, namun istrinya jarang ke salon. Hal itu menyebabakan istrinya sedikit menegang ketika hendak di beri perawatan, dengan berbagai alat alat, yang tampak seperti alat untuk pencabut gigi, bahkan di sebagian tampak seperti ruang operasi, dan yang lainnya tampak seperti ruang X-ray namun lebih kecil, tampaknya itu hanya muat di wajah.
Selesai melakukan perawatan yang cukup panjang, hingga hampir memakan setengah hari, Chandra dan Aliya segera kembali ke mobil, mereka segera pergi ke pusat perbelanjaan.
"Gimana? Enak kan muka lo?" Chandra bertanya ketika hendak memarkirkan mobilnya di salah satu pusat perbelanjaan.
"Iya beda banget, keren mereka ya, muka gue yang biasa aja, rada lecek aja bisa se glow ini," kata Aliya mendramatisir kata katanya.
"Harga tak pernah membohongi kualitas," kata Chandra sontai, kemudian keluar dari mobil. Aliya ikut keluar dari dalam mobil, menyusul Chandra yang menghampiri pintu keluarnya.
"Ga sering sering amat sih, paling satu bulan sekali, biar Segeran gitu muka gue. Yah walaupun gue sadar, gue ga perawatan pun tetap ganteng, tapi ya gue kan tetap mau lebih ganteng," kata Chandra sombong, membuat Aliya berdecik sembari menggelengkan kepalanya, mendengar penuturan penuh pembanggan diri dari Chandra.
"Tau gitu jawabannya malas gue jawab, dasar curut sableng lo," kata Aliya kesal membuat Chandra terkekeh
.
"Tapi lo sayang kan?" Chandra menarik turunkan alisnya, berjalan tepat di hadapan Aliya, sontak semakin membuat Aliya kesal.
Chandra bahkan menyisir rambutnya ketika memandang kamera, dan menaik turunkan alisnya, seolah meminta para penonton nanti untuk menyetujui kesombongannya.
Chandra segera merangkul Aliya, membuat simbol hati yang ada di pakaian mereka menyatu sempurna. Chandra segera merangkul Aliya, menuju tangga berjalan, hendak mencari cafe dan shopping beberapa barang, sembari mencari oleh oleh.
Setelah menemukan cafe sekaligus restoran, Aliya dan Chandra segera mencari tempat kosong. Chandra meletakkan kameranya mepet ke arah tembok, agar lebih mudah merekam kegiatan mereka. Aliya segera memesan menu, pramu saji wanita itupun pergi meninggalkan meja mereka.
Chandra segera bercerita banyak hal tentang pengalaman mereka beberapa hari yang lalu, dan beberapa pengalaman mereka saat berada di dalam klinik tadi, bahkan Chandra menceritakan rasanya ketika berada di hadapan mesin pemeriksa skincare tersebut. Aliya? Jangan di tanya lagi, dirinya malah hanya senyum senyum, dan sibuk dengan ponselnya bermain game, atau hanya sekedar membalas pesan yang di kirim oleh Angel. Bahkan bertanya kepada angel tentang Juwita yang tiba tiba pergi berlibur.
...Ga tau kak, kakak tau kan? Kak Juwita itu susah banget cerita, semua di pendam sendiri. Kemarin nyoba buat nanya masalah perkembangan hubungan mereka sih, kak Juwi cuman bilang semua baik baik aja. Dia cuman mau liburan, kebetulan dapat jatah cuti, jadi sekalian refreshing otak....
Itulah isi pesan dari Angel, membuat Aliya hanya mengerucutkan bibirnya.
Saat melihat Aliya begitu cuek dengan kamera, Chandra segera merencanakan sesuatu yang cukup unik. "Kutil gue cabut dulu ya, gue mau ke toilet," kata Chandra segera berdiri.
"Lah terus kameranya gimana?" Aliya menunjuk ke arah kamera. Sesungguhnya Aliya bukanlah orang yang begitu percaya diri jika berada di hadapan kamera. Dirinya cendrung kaku, dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Udah sama lo aja, lo ngomong apa kek," kata Chandra segera berlalu meninggalkan Aliya, dengan kamera yang masih menyala.
Selepas perginya Chandra, Aliya hanya tersenyum manis ke arah kamera, dengan segala kecanggungan yang ada. Aliya mati gaya, tak tahu harus berbuat apa jika berada di hadapan kamera. Aliya hanya sesekali mendada kamera, kemudian menyisir rambutnya ke belakang.
"Kemana sih tu orang bersiul atau bernyanyi sih?"