
Arnita baru saja keluar dari ruangan Chandra, tampa sengaja bertemu dengan Haris, yang akan masuk ke dalam ruangan Chandra.
Terdengar dengusan di antara kedua orang tersebut, belum lagi tatapan sinis yang sama sama mereka pancarkan.
"Menyingkirlah wahai manusia kurcaci, miniatur skala satu berbanding dua," ejek Haris segera mendorong kepala Arnita ke belakang, hingga wanita itu hampir terjatuh.
"Dasar Laras pendek, IM POR TEN," ejeka Arnita segera menjauh dari Haris. Mereka tampak saling memandang sinis satu sama lain, menandakan ketidak sukaan mereka, ketika bertemu. Orang orang sekitar menjadi sedikit menggeleng melihat tingkah kedua orang tersebut. Padahal baru saja tadi di bicarakan karena keromantisan mereka di kantin, kini mereka kembali tampak seperti magnet yang berasal dari kutub yang sama, sehingga tolak menolak.
"Ya Allah salah apa hambah 'mu ini? Sehingga harus bertemu dengan dia lagi dan lagi. Kenapa harus bertemu lagi? Padahal hambah telah sangat bahagia ketika kelulusan, hamba pikir kami tidak akan bertemu lagi," Arnita mengeluh sembari berjalan menuju lift.
Arnita sedikit menyingkir, ketika melewati mobil Fika, dirinya tersenyum karena melihat rencananya telah berjalan dengan lancar. Belum lagi membayangkan wajah kesal calon pelakor Abal Abal tersebut. Ah sedikit menghibur dirinya.
Arnita segera masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan mobilnya ke luar. Tampak Fika yang masih berdiri sembari menunggu taksi lewat. Ada rasa iba, namun mengingat niat wanita itu, rasa iba Arnita tiba tiba hilang begitu saja.
"Selamat menunggu taksi panas penyihir," gumam Arnita terkekeh. Arnita bahkan dengan sengaja membunyikan klakson, membuat Fika semakin gusar. Ingin rasanya mobil mewahnya ditukar tambah dengan mobil bersih tersebut.
Sementara Fika terus menunggu, dengan keringat bercucuran di dahinya. untung saja make up nya water proof, jadi tak akan luntur oleh keringat. Fika terus mengibas ngibaskan tangannya, mencoba mengusir rasa panasnya. Fika melirik ke arah pohon besar, namun ingatannya tentang kotoran burung tersebut, membuatnya mengurungkan niat.
Fika terus menunggu taksi yang belum juga datang, hingga datang sebuah mobil hitam. Tampaknya itu adalah mobil yang ia kenal. Mobil itu berhenti tepat di hadapan Fika.
"Kamu kenapa cantik?" seorang laki laki menurunkan kaca mobilnya, tampak enggan turun dari mobil.
"Lagi nunggu taksi," ucap Fika mempertahankan ke elegan nya yang tersisa.
"Mana akan bisa, orang di sana ada penyekatan taksi, untuk sementara taksi tidak di perbolehkan lewat," ucap laki laki itu, tersenyum ke arah Fika.
"Apa?" Fika terperangah, tak percaya dengan nasib si al yang menimpanya.
"Ya udah naik sini aja dulu, biar gue antar, kebetulan free," ucap laki laki itu, membuat Fika mengangguk, segera menuju pintu penumpang, di samping pengemudi.
"Kenapa ga order aja?" laki laki itu tampak mulai melakukan mesin bergerak nya.
"Ponsel aku di dalam mobil, mobil aku penuh kotoran burung. Padahal seingat ku, tadi aku memainkan ponselku, sebelum masuk ke ruangan CEO," ucap Fika heran.
"Jangan jangan ada hantu ya," laki laki itu tampak menakut nakuti Fika.
"Jangan ngaco deh," ucap Fika kesal. Namun tangannya mengusap lengannya, tanda ia sedang merinding.
Sementara itu kedua pasangan somplak di dalam ruangan Chandra baru saja mengetahui bahwa musuh bebuyutan mereka telah menaiki mobil, Aliya hanya mengangguk, dirinya cukup puas, dengan suaminya meminta beberapa anak buah untuk menyekat taksi yang akan lewat, tentu saja dengan menggunakan sogokan.
Chandra segera memutar kursi Aliya, yang saat ini masih asyik menguap. Dapat Chandra lihat betapa lelahnya istrinya. Terlebih ketika melihat wanita itu hampir tak menyadari atau membiarkan Chandra memutar kursinya.
"Al, cil, lo istirahat gih, lo udah capek kelihatannya," ucap Chandra segera berjongkok di hadapan Aliya. Chandra mengecup tangan Aliya, membuat Aliya terkekeh.
"Ini bentar lagi kok, nanggung," Aliya mengusap kepala suaminya dengan pandnagan sayu.
"Tuh lihat mata lo. Mulut lo bisa bilang engga, tapi tubuh dan wajah lo ga bisa bohong," Chandra meraih wajah Aliya, dan melihat dari bawah. "Lo istirahat ya."
"Hm," Aliya akhirnya mengalah, meskipun sebenernya dirinya berat meninggalakan pekerjaan yang tanggung.
"Bagus," Chandra segera berdiri mengecup puncak kepala Aliya, dan menuntun nya ke adakan kamar mereka yang katanya rahasia.
Setelah memastikan Aliya berbaring di tempat tidur, Chandra kembali ke meja kerjanya, dan menyelesaikan pekerjaannya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Chandra dengan berbaik hati segera mengambil alih berkas yang kata istrinya nanggung itu. Chandra segera memeriksa, dan mencoba mempelajari nya.
Baru saja Chandra menyelesaikan pekerjaannya, Haris masuk dengan beberapa tumpukan berkas, dan membawanya ke meja Chandra. Baru saja Haris mendekat, tiba tiba saja Chandra mencium bau aroma yang tidak sedap.
"Kamu pakai parfum apa? Kok bau?" Chandra menutup hidungnya dapat rapat.
Haris segera mencium bau di tubuhnya, namun semua baik baik saja, tak ada yang berubah, "Tapi tuan, baunya sama seperti biasa..."
"Apa mau melawan? Lagian jorok banget sih? Pakai acara tempelan permen karet di celana," hardik Chandra segera memandang Haris, dengan pandnagan tidak bersahabat.
Haris mengernyit bingung, pasalanya dia tak makan permen karet hari ini, tapi bagaiman mungkin?
"Tap..." baru saja Haris melayangkan pertanyaan, kini dirinya di buat malu oleh beberapa titik di bajunya. Ah bukan titik, namun beberapa tempelan permen karet di bajunya. Haris kaget bukan kepalang, Arnita! Gadis satu satunya yang berani mencari masalah dengannya, ya pasti gadis itu siapa lagi pelakunya kalau bukan dia. Pikir Haris, sudah melayang, bukan kepada perkataan bos nya lagi, namun bagaiman membalas perbuatan gadis tersebut.
Chandra segera berlari ke kamar yang katanya rahasia itu, dan menuju ke kamar mandi, dirinya begitu mual mencium bau tubuh Haris. Terlebih melihat beberapa permen karet lengket di jas Haris, semakin menambah rasa mual dirinya.
Aliya yang baru saja setengah sadar, segera berjalan ke arah kamar mandi khawatir dengan suaminya. Aliya membawa minuman hangat untuk suaminya.
Chandra segera menerima air itu dan meneguknya, rasanya sangat tidak enak, dan membuat kepalanya pusing. Aliya segera menuntun Chandra ke tempat tidur.
"Kamu kenapa hm?" Aliya mengusap lembut wajah suaminya.
"Aku mual lihat baju sama nyium bau parfum Haris," ucap Chandra menyenderkan kepalanya tepat di dada Aliya. Tiba tiba rasa tenang menghampirinya kala mencium bau tubuh istrinya. "Kamu harum, enak nyium nya," ucap Chandra melepaskannya kancing atas Aliya, dan mulai menelusup kan wajahnya di balik pakaian Aliya.