SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Bukan menahan buang air besar



Acara pengajian dadakan baru saja akan di mulai, sebelum akhirnya tiba tiba terdengar suara ribut ribut dari dapur. Nyonya Mona segera masuk untuk melihat ada apa gerangan yang terjadi.


"Ada apa lagi ya?" Nyonya Mona segera melihat sumber keributan, para maid telah menyingkir, ketika melihat nyonya mereka telah mengunjungi dapur.


"Dia nyonya, dia selalu mencari ribut dengan saya," Arnita menunjuk ke arah Haris yang berada di belakangnya.


"Mana ada, dasar tukang mengadu. Dari dulu hingga sekarang masih suka mengadu, dasar anak SD," ejek Haris, meletakkan lengannya di atas kepala Arnita.


"Tu kan lihat nyonya dia suka sekali mengatai Nita," Anita kembali mengadu, sembari menyingkirkan tangan Haris dari kepalanya.


"Sudah kalian lama lama mama nikahkan kalian berdua," kesal nyonya Mona, pasalnya suara ribut mereka, hingga membuat nyonya Mona malu sendiri.


"Engga ngga mau" Arnita segera menggeleng, tak setuju dengan usul nyonya Mona.


"Emang siapa yang mau sama situ? Anak SMP?" Haris kembali meledek Arnita, sembari memegang kepala Arnita dengan tangannya.


"Is diam," Arnita kembali kesal di buat oleh Haris.


"Sudah mama kurung kalian di kamar mandi ya," nyonya Mona kembali mengancam Haris dan Arnita.


"Engga mau," Arnita dan Haris berucap serentak.


"Nah gitu kompak," ucap nyonya Mona mengacungkan kedua jempol nya. "Tidak malu dengan pak ustadz di depan sana mendengarkan pertengkaran kalian, yang seperti anak SD?"


Sepasang tom and Jerry ini segera diam, dan mengikuti nyonya Mona ke ruang keluarga. Selesai pengajian, Arnita hendak pulang, tampak tengah menghubungi seseorang untuk menjemputnya.


"Kak Nita belum pulang?" Aliya memandang ke arah Arnita, setelah mengantar sepasang calon suami istri itu pulang terlebih dahulu.


"Iya non, nunggu jemputan tapi belum datang," Arnita tampak sibuk menelfon seseorang.


"Ya udah biar Haris aja yang ngantar, bisa kan Ris?" Chandra segera memberi usul kepada suaminya, membuat Aliya tersenyum senang.


"Eh, i-iy-iya tuan muda," ucap Haris, yang tahu bahwa tuan mudanya sedang tidak bisa di bantah.


"Eh tidak usah, saya menunggu saja, tadi dia sudah janji mau menjemput saya," ucap Arnita merasa tidak enak


"Memang siapa kak?" Aliya memandang ke arah Arnita. Aliya diam diam tersenyum, tampaknya ia akan memanas manasi si tuan raja cuek itu.


"Eh, itu dia..."


"Ya di mall kemarin ya? Wah pacar kakak? Kita tunggu saja, penasaran sama pacar kakak," tebak Aliya asal, karena hendak mengerjai dan memanas manasi Haris, yang tampaknya masih sibuk dengan ponselnya, namun dari wajahnya dan Aliya dapat melihat kekesalan dari Haris.


"Eh, non..."


"Nah itu tidak?" Aliya segera menunjuk ke arah mobil hitam mewah.


"I-iya non," Arnita sedikit merasa tidak enak.


"Wah tepat waktu, mungkin tadi ga bisa ngangkat telfon kakak, karena lagi nyetir," lagu lagi Aliya mengintip dari ujung matanya, mencoba melihat ekspresi wajah Haris.


"Iya sepertinya," ujar Arnita, segera berbalik arah ke arah yang lain untuk pamit. "Non, tuan muda, tuan besar, nyonya, saya pamit dulu."


"I-iya mah," Arnita sedikit canggung.


Tampak pemuda tampan tengah keluar tersenyum ke arah Arnita. Pemuda itu juga berjalan mendekati Arnita, yang sedang pamit kepada yang lainnya.


Mata Haris tak pernah lepas dari pemuda tersebut, dirinya terus memindai, dan memperlihatkan pemuda tersebut.


Lumayan tampan. Tanpa sengaja Haris mengakui ketampanan pria tersebut, seketika ia menggeleng. Tidak aku jauh lebih tampan dari dia.


"Tuan tuan, nyonya nyonya, nama saya Bambang," lelaki itu segera memperkenalkan namanya.


"Ah, saya Aliya, ini suami saya Chandra, dan ini...," Aliya segera memperkenalkan anggota keluarga nya yang lainnya.


"Maaf saya datang ingin menjemput Imoy,"


Seketika Arnita melotot lelaki yang bernama Bambang ini menyebutkan nama kesayangannya, Aliya nama panggilan orang orang terdekatnya. Arnita seger emberikan cubitan nakal dari Bambang.


"Ha siapa?" Aliya seketika memasang telinga dengan baik. Arnita segera menginjak kaki Bambang.


"Eh maksud saya Nita, ya Nita," penjual itu tampan gelaomgapan.


"Bukannya tadi Imoy ya?" Haris mencoba memancing kara katanya.


"Ah maaf kita belum berkenalan," Haris segera menjulurkan tangannya. "Bambang."


"Haris," harus tersenyum sinis, seolah Bambang adakah musuh besarnya. "Moy bukannya dia ya musuh kamu?"


"Ih kak, jangan panggil itu lagi," kembali lagi Arnita mencubit pinggang Bambang.


"Eh iya maaf keceplosan sayang," Bambang mengusap telinga yang terasa panas.


"Awas," ancam Arnita dengan wajah menggemaskan nya.


"Iya jangan ngambek lagi, nanti traktir ice cream yang kemarin lagi deh," bujuk Bambang.


"Iya iya," Arnita segera mengiyakan saja agar ambang diam dulu.


"Ya sudah kami pamit dulu ya," ujar Bambang.


"Iya hati hati," Teriak nyonya Mona.


Sepanjang jalan menuju mobil, Bambang tampak menjahili Arnita, bahkan dirinya tak segan segan merangkul Arnita. Setalah berada di samping mobil, Bambang segera membuka pintu mobil untuk Arnita, Serta melindungi kepala Arnita ketika hendak masuk ke dalam mobil, seolah Arnita sesuatu yang sangat berharga untuknya. Namun sebelum menutup pintu mobil kembali, Bambang sempat sempatnya mencubit pipi Arnita, hingga membuat tangan gadis itu keluar hendak memukul Bambang. Bambang tergelak senang mengganggu Arnita.


"Wih sweet nya mereka, Bambang walaupun suka menjahili si Nita, tapi kelihatan sekali sangat menyayangi Nita dengan sepenuh hati," puji nyonya Mona.


Haris diam diam mengalihkan pandangannya, entah kenapa melihat orang lain menyentuh dan menjahili Arnita membuatnya sakit sendiri, dirinya bahkan mengepalkan tangan menahan gejolak di dadanya.


"Iya ma, asal jangan di lepas saja, atau menghilangkan kesempatan. Nanti kalau ngeliat kak Nita dengan yang lain dada bergemuruh seperti petir, sakit tapi tak berdarah," Aliya melirik Haris, yang tampak pura pura memainkan ponselnya. Namun naas cahaya ponselnya yang tepat mengenai wajahnya, menampakkan wajah Haris yang memerah. Pertanda tengah menahan sesuatu.


Bukan menahan buang air besar kan itu? Aliya terkikis sendiri di dalam hatinya.