SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Manis



Di sepanjang perjalanan, Aliya menghembuskan nafas leganya, keluar dari orang orang yang memadati nya. Chandra tersenyum melihat kegugupan istrinya. Untung saja istrinya tidak seperti kebanyakan wanita lain, yang sangat senang dengan ke populeran, meskipun sebenarnya istrinya cukup populer di kalangan laki laki.


Setelah sampai di dalam kamar, Chandra segera menuntun Aliya ke kamar, meskipun Aliya terus bersungut dan protes, karena merasa di perlakukan Chandra seperti orang yang sakit.


"Curut gue ga sakit, gue sehat Rut," entah sudah yang ke berapa kali Aliya melayangkan emosi, namun Chandra bak menulikan telinganya, hingga pintu kamar tertutup sempurna.


"Sayang anak papa kamu jangan cerewet ya, kayak mulut mama mu," kata Chandra mengusap perut Aliya, sembari menelusup kan tangannya di balik pakaian Aliya.


"Ih ngapain sih? Geli tau," Aliya kembali lagi melayangkan protes atas sikap Chandra.


"Gelus perut lo lah," kata Chandra sedikit kesal dengan sikap aneh istrinya.


"Iya tapi ga naik ke atas juga," Aliya menunjuk tangan Chandra yang kini sudah berada di atas buah da da nya.


"Keterusan," kata Chandra cengengesan. Kemudian Chandra segera berdiri dari duduknya.


"Eh mau kemana?" Aliya cemberut melihat Chandra yang berdiri.


"Mau ke dalam sebentar, soalnya mau ngambil air putih, sama makanan buat lo," Chandra mengusap lembut pipi Aliya. "Lo harus minum obat Al."


"Eh hm pudingnya juga ya," seperti biasa, Aliya memang suka menitip sesuatu kepada Chandra. Chandra terkekeh melihat nya.


"Heh, iya iya," Chandra keluar dengan meninggalkan kecupan hangat di puncak kepala Aliya. Chandra meminta maid mengantarkan makanan untuk Aliya, tak lupa pudingnya yang telah jadi, dan dua puding loyang yang telah jadi.


Chandra ketaman belakang sebentar untuk menelfon seseorang, tampaknya itu telfon penting, namun hanya sebentar. Chandra telah mematikan sambungan telfonnya, setelah maid siap mengantarkan makanan untuk Aliya.


Chandra mengikuti langkah maid tersebut, kemudian tersenyum melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Chandra kemudian menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.


Chandra duduk di sisi istrinya, menunggu istrinya selesai makan, entah kenapa melihat istrinya makan Chandra jadi ingin ikut makan. "Al, kutil gue, gue boleh ikut nyicil ga?"


"Ah, iya sini makan berdua," entah kenapa Aliya tak keberatan, justru dirinya merasa bahagia.


Chandra mendekat sebelum istrinya berubah pikiran, ia ikut makan, dan benar saja rasa makanannya enak jika makan berdua dengan Aliya. Memang benar kata pepatah makan berdua benar benar terasa manis.


Makanan habis kini mereka segera minum, Chandra menyerahkan obat ke arah Aliya, tepat setelah obat di minum Chandra, pintu kamar mereka di ketuk. Chandra segera berdiri dan membuka pintu kamarnya. Chandra tersenyum itu adalah sekretarisnya, dan beberapa pekerja laki laki yang ada di rumah mereka.


"Masuk, letak di situ, dan rak itu juga," Chandra ternyata tadi meminta asisten nya untuk membeli kulkas mini, dan rak penuh makanan ringan untuk kamar mereka.


^^^Apa tuan mau main warung warungan. Haris membatin, melihat satu rak jajanan, yang tampak seperti ingin berjualan kecil kecilan di depan rumah.^^^


Setelah melaksanakan tugasnya, Haris izin pamit dan tersenyum ke arah Aliya, Aliya membalas senyum manis Haris. Chandra tak suka itu, segera menarik Haris keluar dari kamarnya.


"Awas mata di jaga, jangan jelalatan lo sama istri bos," kesal Chandra setelah mereka berada di luar kamar.


"Maaf tuan," akhirnya hanya kata itu yang keluar dari bibir Haris. Sekertaris yang malang, yang harus menunda pekerjaan nya, yang menumpuk bak gunung Everest, hanya demi bos pencemburu, dan posesif itu.


"Ya sudah sana, ingat aku ingin besok pagi selesai," perintah Chandra yang seperti biasa, tak bisa di bantah.


"Iya tuan saya permisi," ucap Haris segera berlalu.


Chandra masuk dan melihat Aliya tengah menikmati puding strawberry, membuat Chandra juga ingin mencicipinya. Chandra segera duduk di samping Aliya, dan membuka mulutnya lebar lebar.


"Suap boleh ga til?" Chandra mencoba menampakkan wajah imutnya.


Entah kenapa biasanya Aliya akan mengumpat terlebih dahulu, namun ini memilih untuk menurutinya, dengan senang hati. Mereka kembali menghabiskan puding strawberry tersebut, sementara puding mangga mereka simpan di dalam lemari pendingin mini yang baru saja di antarkan oleh Haris.


Aliya sekarang beralih ingin tidur, rasa kantuknya selalu menyerangnya jika begini, Chandra yang melihat hal tersebut, segera ikut berbaring di samping istrinya.


"Hm cil, tadi lo mau ngomong apa sama gue?" Chandra mengingat saat istrinya tiba tiba tidak jadi mengutarakan keinginannya.


"Masalah Fika," jujur Aliya, membuta Chandra mengerutkan keningnya. Chandra masih ingat wanita yang mengaku sebagai teman satu kelas Chandra saat sekolah menengah atas.


"Kenapa dia?" Chandra sedikit penasaran, segera memiringkan tubuhnya, menghadap Aliya. Memainkan rambut gadis tersebut, dengan melilitkannya di jari, kemudian melepaskannya, hingga membentuk sedikit gelombang.


"Iya kayaknya dia ada rasa deh sama lo, soalnya dia mandang gue sinis banget, giliran sama lo aja langsung senyum manis," jujur Aliya, dirinya tak suka miliknya di ganggu.


"Hm terus? Lo mau gue jauhin dia?" Chandra mencium rambut Aliya kemudian menggigitnya gemas, untung saja rambut Aliya harum


"Iya, gue ga suka punya gue di ganggu," jujur Aliya memandang Chandra dengan pandangan posesif. Sontak Chandra terkekeh melihat tingkah menggemaskan istrinya, Chandra segera memeluk Aliya, dan mengecup leher jenjang Aliya.


"Tenang aja lo, ga ada yang boleh milikin gue selain lo, lo juga sama," Chandra memeluk Aliya erat, menenggelamkan kepalanya di leher Aliya. "Lo tau ga sih gue seneng banget wangi lo yang disini," Chandra mengecup kembali leher Aliya.


"Ah, kenapa?" Aliya sedikit melenguh, merasakan geli di lehernya.


"Entah, lo ingat kan waktu kita berantem di kantor, dan kakek sama papa yang mergokin," Chandra masih melakukan hal yang sama.


"Hm, gue ingat," kata Aliya menahan de sa han dari bibirnya. Chandra yang mengetahui hal itu segera menggigit leher Chandra. "Ah, jangan di gigit."


"Hm, waktu itu gue nyaman banget," Chandra mengangkat wajahnya untuk memandang wajah cantik istri, yang semakin menggemaskan. "Kalau gue ada salah, atau lo ga suka tingkah gue, atau ga suka gue dekat dengan siapapun bilang ya."


Aliya mengangguk pasti, mengusap lembut rahang tegas suaminya. Ah, lelaki khas Turki memang tidak perlu di ragukan lagi ketampanannya. Hidung mancung, mata tajam dan rahang tegas, seolah menambah ketampanan Chandra di mata Aliya.


"Asal lo jangan pernah ninggalin gue, gue akan ninggalin semua yang lo ga suka," jujur Chandra segera meraih tangan Aliya yang membelainya tadi, kemudian mengecupnya.


Eaaaaa, baper ga? Baper ga? Baper lah masa engga. Yuhuuuuu, siap siap kalian akan termakan oleh kebucinan Aliya dan Chandra, yang bakal bikin kalian overdosis.