SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Jodoh Haris



"Aaaaa..." Haris berteriak ketika Arnita menendang kakinya, hal itu hampir tampak tak jelas, di cctv kantor yang berada di dalam lift.


Namun mata jeli Aliya mampu melihat hatinya, membuat tawanya pecah. Terlebih melihat gestur Haris memegang kakinya, karena di tendang wanita imut itu.


"Mampus," teriak Chandra puas melihat Haris di kerjai oleh sekertaris istrinya. Sungguh puas dirinya, bisa melihat hal tersebut. Rasanya kekesalan yang mendongkol di dalam hatinya, terhadap sekertaris nya itu terbayar lunas.


"Eh kok mampus?" Aliya memandang suaminya. Bingung mendengar kata kata nya.


"Iya sayang untuk cowok ember kayak dia emang pantas di gituin," jawab Chandra mengecup pipi Aliya.


"Ember?" Aliya memandang bingung ke arah Chandra.


"Iya, dia itu suka ngadu sama mama, ember deh pokoknya," jelas Chandra dengan tempo se singkat singkatnya, Chandra masih fokus melihat ke arah layar laptop Aliya. "Ah lain kali harus pasang cctv yang bisa sadap suara ah."


Chandra memang betul betul bahagia kali ini, karena melihat sekertaris setianya, namun bocor itu menderita.


"Iya deh, yang penting kamu bahagia," ucap Aliya, membuat Chandra segera memeluk Aliya.


"Hm Jadi sayang kamu ah," Chandra segera mengacup bibir istrinya.


"Hm sayang juga," Aliya mengeluarkan suara manjanya.


"Ayo ke kamar," ajak Chandra tiba tiba, membuat Aliya membulat.


"Ga waktunya kerja ya kerja," ucap Aliya berkilah.


"Eh emang kita mau ngapain?" Chandra memandang Aliya dengan pandnagan menggoda, ternyata kepala istrinya sudah mulai terisi hal me sum.


"Mau... eh... mau ngapain emang?" Aliya malu sendiri dengan pikirannya. Chandra terkekeh segera menuntun istrinya untuk berdiri. Chandra segera menyesap bi bir Aliya, sembari menutup matanya. Chandra menarik pinggang Aliya agar semakin mendekat ke arahnya.


Aliya mengalungkan tangannya di leher sang suami. Aliya begitu menikmati sentuhan suaminya yang begitu lembut. Lu ma Tan suaminya sangat lembut, membuatnya semakin terbuai.


Chandra segera mengangkat Aliya, menuntut Aliya untuk mengikutinya, menuju kamar mereka, yang katanya rahasia. Setelah berada di kamar mereka, Chandra segera merebahkan tubuh Aliya dengan hati hati.


"Sayang capek," ucap Chandra setelah melepaskan pa ngu tan mereka, dengan nada manja.


"Terus?" Aliya sedikit terkekeh mendengar nada manja suaminya, sungguh sangat menggemaskan. Aliya mengusap lembut rambut suaminya.


"Mau ne nen," ucap Chandra tersenyum penuh arti.


Aliya hanya menggeleng, kemudian mengangguk, menyetujui permintaan suaminya. Chandra dengan segala kehausan. Eh, entahlah menghisap dan me lu mat, rakus seperti anak bayi. Tangannya tak tinggal diam, Chandra terus memainkan yang sebelah dengan tangannya.


......................


Siang menjelang makan siang ini seperti biasa, Chandra dan Aliya tengah duduk di kursi masing masing. Mereka mengerjakan tugas masing masing mereka. Chandra sekali kali melirik Aliya, yang tengah mengerjakan tugas kantor miliknya.


Pintu terketuk, membuat Chandra memandang ke arah pintu. Haris masuk, membuat Chandra mengerutkan keningnya. Tumben sekali laki laki itu masuk dengan mengetuk pintu terlebih dahulu, padahal biasanya laki laki itu nyelonong masuk begitu saja.


"Tuan ada nona Fika," Haris mengangguk meminta izin, seolah dirinya adalah sekertaris yang paling sopan di dunia ini.


"Pura pura tidur," bisik Chandra sembari mengecup pipi Aliya.


Aliya mengangguk dan menutup matanya, menyenderkan kepala di dada bidang Chandra. Chandra segera kembali mengerjakan tugasnya, sembari mengusap lembut kepala Aliya. "Suruh masuk."


Haris memutar matanya malas, rasanya ingin sekali berteriak keras keras ke arah tuan muda dan nyonya mudanya. Taukah mereka berdua Haris cemburu dan ingin juga. Tapi sayang masih jomblo hingga sekarang.


"Oh ya Allah berilah hamba yang ganteng ini, pasangan yang bisa di gituin," gumam Haris, sembari mendengus kesal. Keluar dari ruangan tersebut.


Kembali memandang wajah dedemit bibit pelakor, yang tengah mengembangkan senyum. Yang Haris yakini itu hanya senyum palsu, demi kelancaran proses bertemu tuannya.


Tersenyum yang banyak, karena sehabis ini wajahmu yang palsu itu akan cemberut. Haris tersenyum di dalam hati, kali ini wajah wanita biang kerok keiriannya kepada pasangan somplak di dalam ruangan.


"Silahkan masuk nona, oh ya tuan berpesan jangan sampai ribut," jelas Haris, menambah kosa kata perintah Chandra.


Fika tersenyum semanis gula lali kepada Haris, Haris hanya menggeleng saja. Rasanya ia akan terkena diabetes akut jika melihat Fika lama lama. Manisnya terllau jahat, dan Haris di musnahkan dari muka bumi ini.


"Baiklah permisi Haris," ucap Fika, kemudian berlalu dengan gaya anggun miliknya.


Tak tanggung tanggung Fika membawa paper bag makan siang untuk Chandra, dengan dalih kebetulan lewat. Tak tahu saja apa yang akan ia hadapi.


"Dasar dedemit," umpat Haris. Ya Allah, ya Tuhan ku, berilah aku jodoh instan sekarang juga. Aku ingin mesra mesraan juga.


Barus saja harus berbalik hendak kembali ke ruangannya. Dirinya di kejutkan dengan wajah Arnita, yang tepat berada di bawah dagunya. "Astaghfirullah Ya Rabbii, kenapa yang muncul siluman ular ini, coba saja mirip model bak gitar spanyol, sujud syukur hambah."


"Apaan sih, minggir aku mau masuk, mau ngasih laporan," kesal Arnita karena Haris menghalangi jalannya.


"Eh eng, engga bisa, soalnya lagi ada tamu, aku saja tidak boleh masuk, apalagi engkau wahai manusia kurcaci siluman ular," ucap Haris mencoba mencegah Arnita, tak ingin Arnita merusak pertunjukkan bosnya.


"Eh, nanti istirahat, ga enak bos lagi makan siang," ucap Arnita, tak menanggapi ejekan Haris, membuat Haris tersenyum.


"Mau masuk beneran? Mending bersamaan? menyesal kau nanti," Haris mulai kembali menggida Arnita. Rasanya menggoda gadis ini benar benar memberi hiburan.


"Kenapa sih pedut? Heran deh, bisa minggir tidak?" Arnita mulai kesal di buatnya.


"Idih sensi amat kurcaci, miniatur skala satu banding dua," ejek Haris masih tak ingin beranjak dari pintu ruangan Chandra.


"Pedut minggir ah," Arnita benar benar kesal di buatnya. "Lama lama kau ku jambak rambut pomed'mu itu."


"Jambak dong, tidak pernah di jambak nih sama orang pendek," ejek Haris, membuat Arnita semakin menggeram kesal. "Sensasi baru, di jambak miniatur."


"Agh, minggir," Arnita segera menerobos masuk, dan mendapati sepasang suami istri dan seorang gadis yang tak Arnita kenali. Arnita memandang ke arah Aliya, yang tengah berada di pangkuan Chandra. Tampaknya wanita hamil muda itu tengah tertidur.


"Ah maaf saya mau minta tanda tangan nona Aliya," Arnita tidak enak sendiri di buatnya.


"Iya letakkan saja di situ, nanti kalau istri saya bangun saya beritahu," Chandra mengecup lembut kepala Aliya.