SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Memanas



Pagi ini Aliya sibuk menelfon seseorang, membuat Chandra yang sejak tadi memandangnya menjadi kesal sendiri. Pasalnya sejak tadi dirinya selalu di abaikan. Sudah seminggu pula mereka memutuskan untuk tidak masuk ke kantor, lantaran Aliya yang terus mendapat teror.


"Lo nelfon siapa sih, hm?" Chandra segera berbaring di paha Aliya, menampakkan wajah sedihnya.


"Ini teman gue, dia bakal bantuin gue buat bebas dari peneroran ini," ucap Aliya mengusap lembut wajah suaminya.


Chandra segera menarik tangan Aliya dan mengecupnya berkali kali. "Coba aja lo mau ikut aturan gue, ga bakal selama ini," ucap Chandra kesal.


"Tapi kita ga akan pernah tahu modus nya melakukan hal ini, dia hanya akan bilang karena ga suka sama gue," ucap Aliya memandang lekat wajah suaminya.


"Iya, tapi kan lo jadi harus nelfon orang terus, ngerepotin dia," ujar Chandra. Sebenarnya bukan masalah merepotkan orang lain, tapi sebenarnya Chandra cemburu jika Aliya terus menghubungi seseorang, yang jelas jelas itu adalah laki laki.


"Mau apa lagi, teman gue rata rata laki laki semu, kalau ada yang perempuan, modelan Angel sama Juwita," ujar Aliya tersenyum. "Lo tenang aja, gue cuman sayang sama lo. Lagian dia udah punya pasangan kok."


"Beneran lo ya," ujar Chandra segera menghadap ke perut Aliya yang mulai sedikit membesar. "Sayang kalau mama mulai macam macam tendang aja, boar dia sadar punya kita."


Aliya terkekeh mendengar penuturan dari Chandra, memang benar saat ini Aliya sudah mulai merasakan pergerakan di dalam perutnya. "Asiaaaap papa."


"Lo ga usah pakai jargon itu ya, bilang aja siap papa, ga usah pakai asiapp," protes Chandra.


"Iya papa sayang," ujar Aliya tersenyum manis ke arah Chandra. Chandra segera bangkit kemudian membawa Aliya ke dalam pelukannya. "Gue lapar."


Aliya mengernyit memandang Chandra, Aliya segera mengurai pelukan mereka. "Mau gue ambilin makanan?"


Aliya sedikit menutup matanya kemudian menghela nafas, baru mendekatkan wajahnya ke wajah Chandra. Aliya segera mengecup bibir Chandra sedikit lama. Kemudian menjauh.


Chandra segera berbaring di atas sofa, menarik lembut tangan Aliya. "Sambil baring kayaknya enak deh," ujar Chandra.


"Jangan di sini sempit soalnya, takut jatuh," ujar Aliya melirik ke arah sofa.


"Iya deh, ayo bangun," ujar Chandra segera menarik tangan Aliya, dan berjalan menuju tempat tidur. "Cium yang banyak dan lama ya."


Sementara itu di tempat Fika, wanita itu tersenyum mendengar bahwa Aliya sudah satu minggu tidak bekerja di kantor. Fika pikir Aliya mengalami setres, karena terus di teror. Tak tahu saja dia, bahwa di sini Chandra lah yang paling setres, karena setiap barang aneh yang datang dirinya pasti akan muntah muntah.


"Lagi senang kayaknya sayang aku ini," ujar Alex dari belakang Fika, Alex segera memeluk Fika, dan mengecup tengkuknya.


"Iya, kayaknya si Aliya itu setres deh, ga pernah keluar rumah, dan kekantor," Fika sedikit terkekeh, ada nada terpuaskan di sana.


"Sudah dong sayang, kita ke luar negri aja ya. Kita mulai hidup baru di sana," Alex segera mendudukkan dirinya di kursi, dan memeluk Fika, menenggelamkan wajahnya di punggung Fika.


"Tidak bisa begitu enak saja sekarang hidupnya bahagia, sementara aku? Harus kehilangan.," Fika ber api api ketika mengatakan hal itu.


"Iya, aku akan mendukung kamu ok, aku akan selalu ada di samping kamu," ujar Alex sudah tak bisa menghentikan Fika. Entah dirinya buta akan cinta atau apalah. Alex selalu mendukung apapun yang akan di lakukan oleh Fika, selama wanita itu nyaman berada di sampingnya.