SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Fika



Aliya di temani Chandra dan yang lain tengah masuk ke dalam ruangan dokter, ini adalah giliran mereka untuk pemeriksaan. Dokter yang melihat keluarga yang mendampingi presiden terlalu banyak, pusing sendiri.


"Maaf yang lain silahkan menunggu di luar, pasien di temani suami saja ya," kata dokter tersebut sopan.


"Yah kami penasaran dok," tuan Omer mengeluh, membuat semua mata tertuju kepadanya. Tak biasanya tuan Omer mengeluh seperti itu.


"Maaf pak tolong ikuti prosedur yang ada,agar pemeriksaan bisa maksimal," dokter itu mencoba memberi pengertian kepada tuan Omer. "Mohon tunggu di luar ruangan ya kakek, bapak dan ibu."


Dengan sangat terpaksa mereka akhirnya menunggu di luar. Sementara di dalam dokter tengah memeriksa Aliya, dengan berbagai alat yang di perlukan.


"Bagaimana dok?" Chandra tampak sangat antusias setelah dokter itu selesai memeriksa istrinya.


"Wah selamat pak, mungkin masih satu minggu, padahal baru dua Minggu loh nikahnya. Top cer pak Chandra," pujian sekaligus godaan di lontarkan oleh dokter tersebut, membuat senyum di bibir Chandra menjadi mengembang. "Ibu apa ibu merasa mual mual di pagi hari? Atau ada perubahan aneh?"


"Engga ada dok, semua biasa biasa aja," jawab Aliya jujur. Karena dirinya memang tak merasakan semacam mual di pagi hari.


"Mungkin belum ada, nanti selama trimester pertama kalau ada gejala mual, atau muntah muntah di jam jam tertentu, tidak tahan mencium bau tertentu, itu wajar. Biasanya itu yang sering di sebut masa ngidam," dokter tersebut menjelaskan panjang lebar, agar Aliya dan Chandra tidak panik ketika terjadi mual mual di perut Aliya.


"Makasih dok," kata Chandra segera merangkul istrinya. Dirinya sangat bahagia ketika mengatakan hal tersebut. Namun tiba tiba dia teringat sesuatu. "Dok bisa tidak saya melakukan itu."


Aliya bingung memandang suaminya, kata kata suaminya sungguh ambigu. Jika dirinya mungkin saja akan mengerti, tetapi bagaiman dengan dokter ini? Apa dia mengerti dengan kata kata suaminya?


"Boleh pak, tapi jangan sering sering ya," dokter tersebut tersenyum paham maksud dari Chandra. Dalam hati dokter tersebut bersyukur, bahwa dirinya telah terbiasa menghadapi bermacam macam kode keras dari suami suami pasiennya.


"Ini resep vitaminnya, nanti bapak tembus ya di apotek," dokter tersebut menyerahkan sebuah kertas kepada Chandra. "Nanti dengar instruksi dari susternya ya."


"Baik dok terimakasih," Chandra segera keluar menemui keluarganya.


Melihat Chandra dan Aliya keluar, ketiga orang tua tersebut, segera menghampiri Aliya dan Chandra. "Bagaimana? Apa kata dokter?"


"Al baik baik aja, kandungannya baru usia satu minggu, ini tinggal nebus obatnya aja," jelas Chandra dengan sesingkat singkatnya.


"Oh, Alhamdulillah," ucap mereka semua.


"Ya udah kalian langsung ke apotek aja, kami mau ke mobil capek," kata nyonya Mona, membuat Chandra menganga tak percaya, pasalanya tadi mereka tak melakukan apapun. Tapi ya sudah lah, mungkin faktor usia.


"Ya udah kami ke apotek dulu ya," Chandra segera melangkah menuju apotek bersama dengan Aliya. Di sepanjang jalan Chandra terus menggenggam tangan Aliya. Hati Chandra sangat bahagia, bahwa dirinya saat ini masih kini akan menjaga dua jiwa.


"Terimakasih," bisik Chandra mengecup tangan Aliya.


Mereka segera berjalan menuju apotek. Chandra dan Aliya berjalan menuju apotek, sementara para orang tua, lebih memilih menunggu di mobil, tampa sengaja Chandra menabrak seorang wanita.


"Ah maaf," kata wanita itu segera berdiri, karena memang posisi wanita itu yang salah, ia memainkan ponselnya. "Eh Chandra ya?"


Seketika mata gadis itu berbinar bahagia, ada sesuatu yang terselip di dalam binar bahagianya, Aliya mengeratkan tautan jari mereka, membuat alis gadis tersebut mengerut, kemudian memandang Aliya yang tengah tersenyum manis ke arah nya. Gadis itu memandangnya dengan pandnagan tak suka, Aliya hafal pandangan tersebut.


"Hm siapa?" Chandra tampak tak mengenal wanita itu, karena sebenarnya dirinya tidak mengenal banyak wanita. Hanya beberapa pegawai, yang bekerja dengannya, beberapa klien, dan dua teman Aliya.


"Fika ingat ga? Temen sekelas waktu SMA kemarin," jawabnya mencoba mengingatkan Chandra. Pandangan wanita yang bernama Fika itu, berubah seketika ketika memandang Chandra.


"Oh maaf ingatan gue emang kurang bagus," kilah Chandra, pasalnya dirinya benar benar merasa tidak punya teman perempuan, teman satu satunya, yang ia kenal baik adalah Aliya, istrinya sendiri.


"Ah iya, ngapai?" Fika tampak menyembunyikan rasa kecewanya, Karena telah di lupakan oleh Chandra. Ah, lebih tepatnya tidak di kenali oleh Chandra.


"Ah istri kamu? Cantik kalau di lihat langsung ya," kata Fika dengan senyum penuh arti ke arah Aliya.


"Makasih," jawab Aliya santai, Aliya tak akan menampakkan taringnya jika wanita yang di hadapannya ini tidak bertingkah.


Ah, namun tampaknya wanita itu sangat menyebalkan, sehingga Aliya mengusap perutnya yang masih rata. "Amit, amit, amit," gumam Aliya, yang hanya terdengar olehnya.


"Istri kamu ngapain ke sini? Sakit?" Fika tampaknya benar benar penasaran dengan keadaan yang menimpa Aliya. "Mampus lo kalau parah," gumam Fika kesal.


"Engga, kami lagi periksa kandungan," jawab Chandra yang membuat wanita di hadapannya mengepalkan tangan, Aliya tersenyum melihat reaksi itu. Tampaknya ada yang mencoba ingin mengusik miliknya, bukan Aliya jika tidak mampu menyingkirkannya, tinggal melihat tingkah gadis itu, dan menyesuaikan dengan apa ia akan menyingkirkan nya.


"Wah udah hamil?" Fika tampak menyembunyikan kekecewaannya.


"Iya," Chandra lagi lagi hanya menjawab sekenanya, dirinya terlalu malas untuk menjawab pertanyaan pribadi orang yang tak di kenali nya.


"Wah selamat ya," kata Fika tersenyum masam ke arah Aliya.


"Ya kami duluan ya, kasian Al, takutnya kecapean," jawab Chandra, yang justru menghawatirkan istrinya.


"Iya hati hati, sekali lagi selamat ya," Fika menyembunyikan rasa kesalnya dengan senyuman.


Chandra hanya mengangguk, dan membawa Aliya pergi, Chandra bahkan tampak mencarikan Aliya tempat duduk, agar lebih nyaman, dan tidak merasa kecapean. Fika memandanginya dan mengerutkan keningnya. "Kamu ga berubah Ndra, tapi wanita itu..." Fika menghela nafas panjangnya.


Sementara Chandra tengah duduk di samping Aliya, dengan mengusap kepala Aliya sebentar, dan mengecup puncak kepala Aliya.


"Kamu yakin ga ingat dengan dia?" Aliya tiba tiba menanyakan tentang Fika.


"Iya soalnya gue ga terlalu merhatiin, yang gue ingat cuman teman sebangku gue, dari kelas satu sampai tamat, itupun cowok. Nama temen sekelas gue aja ga hapal," jawab Chandra jujur, membuat Aliya menggeleng. Suami nya ini memang luar biasa, terbiasa hidup tanpa sosialisasi dengan orang sekitar, hanya kepada orang orang tertentu saja.


"Lo home schooling atau gimana sih?" Aliya terkekeh sembari mengejek ke arah Chandra.


"Ya engga lah, enak aja," kesal Chandra melihat istrinya mengejek dirinya. "Lo tunggu di sini, gue nebus obat dulu," Chandra kembali mengecup puncak kepala Aliya, dan berdiri di barisan antrinan.


Setelah sampai di hadapan seorang wanita, yang menjadi apoteker tersebut. Chandra segera menyerahkan resep obat kepada wanita tersebut.


"Silahkan duduk dulu bapak, nanti kamu panggil nama pasiennya," kata apoteker wanita tersebut.


Chandra hanya mengangguk dan segera mendekati Aliya, lagi lagi Chandra mengusap kelapa Aliya, ketika dirinya hendak duduk.


"Tunggu nama di panggil," kata Chandra tersenyum ke arah Aliya, kali ini tangannya mengusap lembut perut rata Aiyla.


"Lama ga? Gue lapar," Aliya mengutarakan keinginannya kepada Chandra, karena memang dirinya merasa lapar, Chandra tersenyum paham dengan tingkah Aliya, karena memang di dalam diri Aliya kini bersemayam bayi kecil.


"Tunggu bentar aja, habis itu kita singgah makan, di tempat kesukaan lo," bujuk Chandra membuat Aliya tersenyum senang.


"Beneran? Janji lo?" kata Aliya mengulurkan jari kelingkingnya.


"Iya," Chandra menyambut jari kelingking Aliya, dan menautkan jari kelingkingnya.


Tak lama kemudian nama Aliya di panggil, Chandra segera berdiri untuk mengambilkan obat Aliya.