SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Story of Fika



Masih flashback.


Fika duduk mematung di ranjang, melihat tubuh tua suaminya, yang sudah keriput di mana mana.


Dasar Datuk Maringgi, tinggal menunggu ajal saja masih ingin menikah, tidak sadarkan bahwa dirinya udah keriput. Umpat Fika di dalam hati.


"Sayang ayo," laki laki itu segera melepas handuknya, dirinya bahkan tidak menggunakan pakaian dalam.


"Hm tunggu sebentar mas, aku belum siap, aku ambil air minum dulu ya," ucap Fika mencari alasan.


"Oh, ya sudah mas tunggu ya di sini, jangan lupa pakai pakaian yang yang mas beli," papa Alex menunjuk paper bag yang ia bawa tadi.


"Iya mas," ucap Fika segera berlalu menuju dapur, Fika harus mencari cara agar suaminya tak menyentuhnya malam ini.


Saat Fika berfikir, tiba tiba tangan kekar melingkar di perutnya. Fika terkejut dan memandang ke arah belakang, takut takut itu adalah suaminya.


"Kenapa hm? Mau menghindar?" Alex mengejutkan Fika. Membuat Alex segera mengecup gemas bibir Fika. "Ini pakaikan obat halusinasi kepada si tua bangka itu."


Alex melepaskan Fika dan menuangkan obat itu ke dalam gelas yang berisi air putih, benda itu tidak berwarna, dan mudah larut ke dalam air. Fika tersenyum ingin segera mengambil gelas tersebut. Namun di tahan oleh Alex, Alex segera mengerucutkan bibirnya, Fika tahu keinginan Alex.


Fika segera mengalungkan tangannya di leher kekar Alex, dan mulai menyatukan bibir mereka. Meski hanya sebentar, namun Alex cukup puas.


"Pintu jangan di kunci," bisik Alex, segera membawa Fika ke arah senjatanya yang telah mengeras.


Yah lumayan, dari pada dengan kakek tua bangka. Gumam Fika sembari mengangguk.


Fika segera masuk ke dalam kamar, dan memberikan air minum kepada suaminya. "Minum dulu mas, aku mau ganti baju."


Laki laki tua itu segera menenggak minumannya tanpa curiga, dirinya terlalu bersemangat ingin menikmati tubuh wanita muda, yang baru saja di per istrinya. Fika segera keluar membuat laki laki itu tersenyum, laki laki tua itu segera menepuk tempat tidur, meminta Fika untuk duduk di sampingnya. Setelah Fika duduk, laki laki itu segera menyambar bibir Fika, membuat Fika terkejut.


Tidak enak, bibir nya sangat tidak enak, dasar peot. Umpat Fika.


Laki laki itu segera merebahkan tubuh Fika, dan membawa Fika ke bawah kukungannya, Baru saja iya menyambar bibir Fika, tiba tiba dirinya ambruk di atas tubuh Fika. Obat itu telah bekerja. Laki laki tua itu bergumam, tersenyum dan meracau bahkan mendesah sekali kali. Fika berusaha menyingkirkan tubuh te lan jang laki laki itu dari atas tubuh nya.


Pintu terbuka, membuat Fika memandang ke arah pintu, Alex datang dan mendekati Fika. Alex terkekeh ketika melihat tubuh polos papanya, ia kemudian menyingkirkan tubuh polos papanya dari atas tubuh Fika. "Pasti dia sedang memimpikan ber cinta dengan mu."


Alex segera mengangkat tubuh Fika, dan membawanya ke kamar milik nya, yang berada di lantai dua. Fika terkejut, dirinya hanya mengalungkan tangannya ke leher kekar Alex. "Kalau ada yang lihat bagaimana?"


"Asisten rumah tangga hanya bekerja hingga sore hari," ucap Alex, segera membuka pintu kamarnya, dan menutupnya kembali dengan kaki nya, setelah dirinya masuk bersamaan dengan Fika.


Saat pintu tertutup, Alex segera menyerang bibir Fika, bahkan dirinya kini telah menggiring tubuh Fika ke atas tempat tidur. Alex berdecak kagum, melihat pakaian yang di belikan oleh papanya. "Ck, ternyata selera si tua bangka boleh juga."


Laki itu kembali menyerang Fika, dengan cum buan yang membuat Fika melayang, mau dan mau lagi. "Agh," lenguh Fika ketika Alex memberikan stempel kepemilikan di leher Fika.


Alex dengan lihai membuka semua yang di kenakan Fika, hingga tak tersisa. Alex bangun dan membuka boxer miliknya. Fika baru menyadari, bahwa sejak tadi Alex hanya mengenakan boxer. Setelah boxer terlepas, Fika terkejut melihat senjata yang siap tempur itu telah menegang.


Alex kembali men cum bu Fika, memancing hasrat wanita itu, Fika hanya pasrah, mengerang nikmat. Setelah merasa Fika siap, Alex segera mengangkat kaki Fika ke atas bahunya, dan siap melesatkan benda miliknya.


"Agh sempit sekali."


Setelah sekian lama percobaan akhirnya ia berhasil masuk, dan membobol gawang untuk pertama kali. "Ini yang pertama untuk mu?" Alex mengusap lembut kepala Fika.


Fika hanya mengangguk tak sanggup menjawab pertanyaan dari Alex. Alex tersenyum mengecup puncak kepala Fika berkali kali.


"Aku akan sangat lembut baby," ucap Alex pelan pelan menggerakkan pinggulnya.


Rasa yang awalnya perih kini tergantikan dengan nikmat yang luar biasa. Fika terus melenguh, di iringi dengan suara Alex yang terus ikut meracau.


"Ah, Fika, ah. Kau membuat ku gila agh," Alex terus maracau. "Agh, baby your so sweet."


"Agh... Alex ah ah," ucap Fika di sela sela de sa han nya.


"Say my name baby."


"Al... Lex," ucap Fika ketika sampai di puncaknya.


"Agh, kau menjepitku sayang, aku juga akan sampai," ucap Alex merasakan hal yang sama dengan Fika, "Agh... kita haru melakukannya setiap hari."


Alex terjatuh di atas tubuh Fika, merasakan miliknya masih di pijat pijat di dalam sana.


"Kau membuatku gila sayang, aku ketagihan," ucap Alex mengecup bibir Fika, Fika tersenyum segera memeluk Alex lebih dalam lagi, ini benar benar nikmat. Alex bahkan dapat merasakan miliknya tertusuk lebih dalam lagi. "Agh, baby kau sangat seksi."


"Aku harus kembali," ucap Fika dengan suara kecil.


"Iya sebentar saja, begini dulu," ucap Alex memeluk Fika. "Besok si tua bangka akan pergi ke luar kota, aku harap kau tidak ikut dengan nya."


"Hm, aku juga tidak mau," ucap Fika tersenyum samar.


"Bagus," Alex mengecup bibir Fika kemudian melepaskan penyatuan mereka.


"Agh..." Alex dan Fika mengerang bersamaan.


"Ayo aku antar," ucap Alex segera bangun dan mencari boxernya.


"Kenakan pakaian mu," ucap Fika malu sendiri.


Alex segera mengenakan boxernya saja, kemudian menggendong Fika, Alex segera mengecup bibir Fika berkali kali. Sesampainya di depan kamar papanya, Alex kembali berulah, dirinya bahkan menggendong Fika, dan kembali ber cin ta di depan kamar papanya. Setelah melakukannya, Fika tampak begitu kelelahan membuat Alex tersenyum.


Fika segera ia letakkan di atas tempat tidur, dan memandang papanya yang tampaknya masih dengan mimpinya yang liar. Bahkan terdengar beberapa kali de sa han di sana. Alex tersenyum miring, segera ******* bibir Fika, Alex segera kembali membuka boxernya dan kembali lagi ber cin ta dengan Fika di samping ayahnya yang tengah tertidur. Tempat ketiga mereka di penuhi keringat dan peluh, di iringi de sah an syahdu dari kedua orang itu.


"Agh, sayang baby, rasanya aku tak ingin beranjak, dan ingin memelukmu sampai pagi," ucap Alex, membuat Fika tersenyum gemas.


"Besok papa mu pergi keluar kota kan? Kita bisa puas saat dirinya tidak ada," ucap Fika mengecup lembut bibir Alex. "Ayo lepaskan."