
Pesta ulang tahun yang di gelar oleh Chandra untuk Aliya sangat megah, mengundang beberapa kolega, termasuk tuan Damar dan keluarga. Juwita dan Brayen jelas menjadi sorotan di sana, pasalanya sebentar lagi mereka akan mengadakan pesta pernikahan. Juwita lebih memilih mendekat ke arah Arnita, sementara Brayen dan Haris mendekat ke arah tuan rumah, yaitu Chandra dan Aliya. Angel juga terlihat di sana, di mana Angel saat ini bersama dengan Aska. Mereka mengadakan pesta ulang tahun di salah satu hotel bintang lima.
Mereka tampak berbincang bincang, hingga pada akhirnya seseorang membawakan Juwita air. Jelas saja gadis itu bingung sendiri, namun tak mau mengambil pusing, Juwita hanya menggenggamnya. Arnita yang kehausan melihat gelas yang sejak tadi hanya di genggam Juwita segera meminta air tersebut.
"Hm, Wit, boleh tidak aku meminta air tersebut?" Arnita melirik ke arah gelas Juwita.
"Ah iya kak, minum saja," ujar Arnita segera menyerahkan minuman yang di berikan untuknya.
Setelah meminum hingga tandas, tiba tiba tubuh Arnita menjadi panas sendiri, Arnita dengan wajah memerah membuat Juwita menjadi khawatir. "Kakak tidak apa apa?" Juwita segera memegang bahu Arnita.
Arnita hanya menggeleng. "Kakak ke kamar mandi dulu ya," ujar Arnita segera berjalan menuju kamar mandi.
Juwita semakin cemas, segera mendekat ke arah Haris. Juwita tahu betul bahwa Haris memiliki perasaan lebih kepada Arnita. "Kak Haris, tadi kak Arnita ke toilet, kayaknya sakit. Ajak pulang saja sana," ujar Juwita segera memberi saran kepada Haris.
Haris segera berlari tanpa pamit, Haris mencari Arnita di lorong menuju toilet wanita. Haris melihat Arnita terduduk lemas memegangi kepalanya. Beberapa kali mengibas wajahnya yang memerah. Haris mendekat, dan segera memeriksa keadaan Arnita. Tampaknya wajah gadis itu sangat memerah, namun saat kepalanya di sentuh hanya ada keringat dingin di sana.
"Kamu mau pulang, atau istirahat di hotel dulu?" Haris memapah tubuh Arnita. Arnita tak menjawab hanya terus menggeliat hebat, menahan hawa panas.
Haris yang bingung segera membawa Arnita ke dalam salah satu kamar hotel, membaringkan gadis tersebut di sana. Namun sesuatu di luar pikirannya terjadi, gadis itu menarik tengkuk Haris, dan men*cium bi bir Haris dengan rakus. Haris terus memberontak, takut jika dirinya lepas kontrol. Haris segera menjauhkan tubuhnya dari Arnita.
Haris semakin curiga jika ada yang berniat tidak baik kepada Arnita, Haris memutuskan untuk merendam Arnita ke dalam bak mandi. Haris menghidupkan kran air, kemudian mencari tahu tentang ciri ciri yang di alami oleh Arnita. Alangkah terkejutnya Haris ketika mengetahui bahwa sepertinya Arnita telah di beri pe*rang*sang. Haris segera berjalan ke arah Arnita, namun harus harus kembali menelan ludah nya kasar. Bagaimana tidak Arnita telah melepas semua pakaiannya.
Haris dengan sekuat tenaga mencoba menahan sesuatu di dalam dirinya yang sudah menyembul, melihat tubuh molek Arnita. "N...Nit," Haris bejalan dengan ragu ragu.
"Ris... panas, panas sekali, tolong aku," ujar Arnita terus menggeliat, dadanya membusung, matanya terpejam, sesekali terbuka satu. "Ah... Ris tolong."
"Ayo ke kamar mandi," ujar Haris mencoba sekuat tenaga menahan diri. Namun baru saja Haris mendekat, tubuh Haris di tarik oleh Arnita, sehingga Haris jatuh di atas Arnita. Segera mengalungkan lengannya di leher Haris.
Arnita me*lu*mat bi bur Haris dengan rakus, membuat pertahanan Haris semakin menipis. Meski sekuat apapun Haris mencoba menolaknya, namun rasa cinta dan juga ingin memilikinya menguasai hati dan pikiran Haris. Akhirnya Haris membalas lu*ma*tan Arnita, dengan tak kalah rakus. Setelah dirasa kehilangy oksigen, Haris segera melepas pa*ngu*tan mereka. "Nit coba katakan siapa aku?"
"Ha...Haris, kau Haris," Arnita tersenyum sayu, membuat jantung Haris berdebar, Haris segera mencium seluruh wajah Arnita, kemudian kembali melanjutkan aksinya, hingga melepas seluruh pakaiannya. Haris dan Arnita saat ini sama sama polos. Arnita terus melenguh, ketika tangan Haris tak tinggal diam terus me*re*mas dan Menggigit sikembar milik Arnita, yang tampak menantang.
Lagi lagi Arnita melenguh nikmat. "Ah... Ha...Haris," ucap Arnita ketika Haris mulai memasukkan pusaranya ke pusara Arnita. "Ah... sakit..."
"Sabar sayang, ini hanya sebentar," ujar Haris segera menghentakkan kembali miliknya. Setelah semua masuk Haris mendiamkannya sebentar, kemudian memeluk rate tubuh Arnita. "Ini akan menjadi hari terindahku."
Mereka kemudian mulai melakukan aktifitas yang tidak seharusnya mereka lakukan, atau lebih tepatnya yang belum seharusnya mereka lakukan. Setelah tiga puluh menit, keduanya terkapar, sementara Haris terus mengecup bi bir Arnita. "Sayang setelah ini aku akan bertanggung jawab."