SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Story of Arnita (Haris vs Bambang)



Hari ini Arnita rencananya ingin menjenguk bosnya Aliya di rumah sakit, pasca kasus penyanderaan, yang mengakibatkan keguguran pada buah hati nona muda nya. Bukan Arnita selama ini tak pernah menjenguk Aliya, namun biasanya Arnita datang hanya sempat untuk meminta tanda tangan.


Pasalnya Aliya dan kakek Rio sakit dalam waktu yang bersamaan, membuat Arnita benar benar harus mengeluarkan tenaga ekstra. Bahkan untuk istirahat saja sangat sulit.


Arnita baru saja turun dari mobilnya, berpapasan dengan Haris yang turun bersamaan dengan pak Shing, Tika dan Tiwi. Kedua setan kembar yang mengalir dari pak Shing.


Haris tertegun ketika melihat Arnita, gadis itu tampak semakin cantik dari hari ke hari, bahkan dress putih selutut Arnita, membuat gadis itu semakin imut dan cantik, di tambah high heels dengan warna senada yang di kenakan gadis itu. Haris tanpa sengaja menarik sudut bibirnya.


Si kembar Tika dan Tiwi melihat pandnagan kakaknya, segera mengikuti pandangan Haris, seketika si kembar T2 tersenyum. Kedua gadis kembar itu segera mendekat ke arah Arnita yang tengah membawa beberapa parsel buah, sebagai buah tangan untuk Aliya.


"Halo selamat siang," sapa di Tiwi menghampiri Arnita.


Arnita memicingkan matanya, kedua wanita yang lebih tinggi sedikit dari nya. Arnita melihat dengan seksama, dapat Arnita simpulkan gadis yang ada di hadapannya kembar identik, bahkan Arnita tak dapat membedakannya.


"Siang, kalian kembar ya, wah keren banget," puji Arnita, pasalnya dia kelak ingin memiliki sepasang kembar.


"Iya, nama kakak siapa?" Tiwi segera mengulurkan tangannya ke arah Juwita.


Haris yang melihat hal tersebut, menjadi curiga, buru buru Haris menghampiri ketiga gadis yang tampaknya sedang berkenalan.


"Eh ngapain sok dekat dengan tu kurcaci," Haris menutup mulutnya karena kelepasan. Haris merutuki kebodohannya karena keceplosan di depan si kembar setan itu.


^^^Agh mampus, mereka pasti akan mengejek ku habis habisan.^^^


"Oh... jadi kakak yang namanya Arnita," Tiwi segera menyimpulkan, tanpa Haris Juwita menyebut namanya.


"Eh kok tahu? Kakak kalian itu pasti suka gibahin kakak kan?" Arnita heboh sendiri, dan beralih memandang Haris. "Eh pedut dosa tau."


Pak Shing hampir saja meledakkan tawanya, panggilan Pedut sungguh sangat cocok untuk anaknya menurut pak Shing. Pedut dan kurcaci bukankah sangat cocok pikir pak Shing.


"Eh kurcaci diam ya," Haris segera membekap mulut Arnita, yang suka sekali berbicara ceplas ceplos, hingga terkadang membuat dirinya malu sendiri.


"Iya ini diam," ucap Arnita melepaskan tangan Haris yang hampir memenuhi setengah wajahnya.


Mereka segera berjalan sembari berbincang bincang, Arnita tampaknya sangat mudah berbaur dengan si kembar dan pak Shing. Hal tersebut membuat Haris diam diam tersenyum. Haris hanya berjalan tepat di belakang Arnita yang tampak tak memperdulikan nya.


^^^Aduh kenapa Nita bisa jadi tambah imut saja sih? Kenapa dari dulu aku tak menyadarinya?^^^


Arnita yang tengah asyik berbincang dengan kedua gadis kembar itu, tanpa sengaja melihat seorang dokter yang di kerumunan beberapa pasien dan suster. Arnita tahu itu siapa.


"Hm, kalian duluan saja ya, solnya Nita ada urusan sebentar. Ini menyangkut urusan negara," Arnita segera bergegas dan melangkah sedikit menjauhi rombongan Haris.


"Apa itu kak?" Tiwi tampaknya sangat penasaran.


"Hust, rahasia," ucap Arnita sedikit berteriak.


"Ya sudah kak hati hati,"ucap Tika tersenyum.


Keempat orang tersebut segera meneruskan langkahnya menuju ruangan Aliya, dengan di pimpin oleh Haris.


"Sayang..." Arnita berteriak cukup keras, membuat beberapa orang di lorong rumah sakit


langkah Haris terhenti kala mendengar Arnita memanggil seseorang dengan panggilan sayang. Bahkan beberapa orang yang mengerumuni dokter muda tersebut, segera berbalik ke arah Arnita.


"Eh... Imoy, mau jenguk nona Aliya lagi?" Laki laki itu segera mendekat ke arah Arnita, sembari mengusap lembut kepala Arnita. Dapat di lihat pancaran sayang laki laki itu untuk Arnita.


Haris memicingkan matanya melihat pria tersebut. Ya, Haris baru mengingatnya bahwa pria tersebut merupakan lelaki yang menjemput Arnita, setelah pesta bakar bakar di rumah bosnya. Pantas saja tidak asing.


^^^Bambang, ya nama laki laki itu Bambang.^^^


"Aduh tertikam hati ini, bagai tertusuk seribu duri," ejek Tiwi ketika melihat tangan Haris mengepal.


"Lagian nih ya, pantas saja kak Arnita memilih lelaki itu, orang ganteng, baik lembut lagu kelihatannya," Tika ikut memanas manasi ke adaan.


^^^Apa apaan mereka, ini di rumah sakit, tempat umum, apa mereka tidak punya malu?^^^


"Diam kalian," kesal Haris. Hatinya sudah mendidih melihat Bambang yang tengah mengusap lembut kepala Arnita, kini adiknya si kembar setan yang memanas manasi keadaan.


"Jangan di ledekin, sudah cembokur nih," kini pak Shing ikut ikutan memanas manasi keadaan. "Gengsi di gedein, nih lihat sudah di miliki orang lain kan hatinya."


"Papah," Haris semakin menggeram pasalnya papanya kini ikut memanas manasi hatinya, yang memang sudah panas.


"Eh kamu ngapain ke sini Imoy?" Bambang bahkan kini mencubit pipi Arnita dengan gemas.


"Kan jangan panggil gitu ah malu," Arnita memanyunkan bibirnya, membuat bamabng terkekeh.


^^^Dasar sok imut, tingkahnya jadi manja gitu, coba denganku jadi kucing galak dia.^^^


Haris terus mengumpat Arnita dan Haris, yang terlihat sangat mesra.


"Ya sudah ngapain ke sini?" Bambang akhirnya tak lagi memanggil Arnita dengan panggilan kesayangannya.


"Mau jenguk nona Aliya, sama mau makan siang bareng kakak," ujar Arnita tersenyum manis.


"Ya sudah ayo, tapi kakak ke ruangan dokter lain dulu ya, nanti kamu ke ruangan nona Aliya, kakak nyusul di sana," ujar Bambang, mengusap lembut kepala Arnita. Bambang bahkan mengecup puncak kepala Arnita di tempat umum, semakin memanaskan hati Haris dan beberapa wanita yang menyukai Bambang.


"Yah... Sudah punya pacar dia," ujar beberapa suster dengan lesu.


Arnita yang melihat rombongan Haris belum beranjak dari tempat, akhirnya mendekat ke arah mereka.


"Wah dia siapa kak? Ganteng banget, banyak penggemarnya lagi," puji Tiwi, terang terangan. Tiwi sangat menyukai ekspresi baru kakak nya, ekspansi menahan kesal dan cemburu.


"Oh kakak Bambang, memang ganteng dia, sangat ganteng malahan, baik hati, ramah, tidak jutek, murah senyum, dan yang terpenting tidak jahil," ucap Arnita mendelik ke arah Haris, seolah menyinggung Haris.


"Astaga! Kau sedang menyinggung ku ha?" Haris yang tadinya sudah panas, kini semakin panas mendengar pernyataan dari Arnita. Seolah semua tentang laki laki tadi berbanding terbalik dari Haris. Haris Tidak menyukai itu.


"Astaghfirullah kakak," Tika dan Tiwi pura pura terkejut.


^^^Panas panas, haredang haredang.^^^


Hati kedua gadis kembar tersebut bersorak kegirangan, melihat ekspresi kakaknya.


"Iya memang tidak jelas dia. Lagian siapa juga yang menyinggungnya, orang jelas jelas Nita cuman mengatakan tentang kepribadian kak Bambang kok, tidak ada yang menyebut nama dia," ucap Arnita tersenyum licik ke arah Haris. Puas rasanya melihat kekesalan Haris yang membuat wajah Haris memerah.


"Eh anak SD di larang ikut campur," kesal Haris, memandang sinis ke arah Arnita.


"Untung aku anak SD, kalau aku anak SMA mungkin kau akan klepek klepek, tapi maaf ya, walaupun aku seperti anak SD, kau tetap bukan Indomie, alias bukan selera ku," ucap Arnita mengejek ke arah Haris.


"Pfttt... Hahahaha," kedua kembar segera tertawa mendengar pertengkaran kakaknya. Haris kalah, kakaknya kalah, kedua kembar setan itu bertepuk tangan menyoraki keberhasilan Arnita dalam melumpuhkan kakaknya, dengan kata kata yang menghujam.


"Aku suka dia," ucap pak Shing di sela tawanya.


"Apa!" Haris, Tika dan Tiwi berteriak seketika, mereka tak ingin papanya menikah lagi.


Terlebih Haris, wanita yang kerap di panggil kurcaci ini adalah wanita yang di sukai nya. Tidak lucu, jika wanita yang di cintai nya harus dia panggil mama.


"Maksud papa, cara dia mempermalukan Haris papa suka," ralat pak Shing, membuat ketiga anaknya mengusap lembut dadanya.


"Nah kan, memang lebih banyak yang menyayangi ku, dari pada kau. Om kita berteman dari sekarang," ucap Arnita sombong.


"Hei, kau," Haris segera mengapit kepala Arnita dengan lengan kekarnya.


"Wah kakak memang keren, pantas saja banyak yang diam menyukai mu," ujar Tiwi memuji Arnita, namun diam diam mengenai Haris.


"Aduh kakak kan aku bilang banyak yang menyukainya, bukan kau kakak," elak Tiwi, membuat Tika dan pak Shing tertawa.


"Nah tu kan, dia memang tak beres," Arnita berusaha melepaskan tangan Haris dari kepalanya, dan segera membuka pintu ruangan Aliya.


Tampak Aliya tengah berbaring dengan Chandra yang mengusap kepalanya, tampaknya mereka tengah berbincang bincang.


"Selamat siang nona," sapa Arnita sembari tersenyum.


"Siang, kak Nita, ada apa?" Aliya tersenyum ke arah Arnita. Sebenarnya Aliya juga merasa tidak enak kepada Arnita. Karena akhiri akhir ini Arnita benar benar kewalahan menghadapi setiap klien, dan beberapa meeting.


"Tidak cuman mau menjenguk saja. Memangnya kenapa?" Arnita segera meletakkan parsel buah darinya, di ikuti Tiwi.


"Oh, tidak, biasanya datang kesini jika ada berkas saja," Aliya tersenyum ke arah Arnita.


"Hehehe, iya nona, akhir akhir ini banyak rapat di kantor," Arnita merasa tidak enak, karena tidak pernah menyempatkan untuk menjenguk nona mudanya.


"Pasti kakak kelelahan kan? Tu lihat kakak mata panda," Aliya memandang ke arah area bawah mata Arnita.


"Tidak kok, kan sudah tugas saya. Besar gaji besar pula pekerjaan nya," ucap Arnita tersenyum manis.


"Wah terimakasi kak. Oh ya bapak dan mereka ini siapa?" Aliya baru menyadari kehadiran pak Shing, dan kedua gadis kembar tersebut.


"Oh kami keluarga dari Haris, saya Shing, kalau mau memanggil om juga boleh, tapi khusu untuk Arnita panggil papa ya," ucap pak Shing berbicara dua arah.


"Ok pah," ucap Arnita mengangkat jempol tangannya.


"Kalau kami kembar, Tika dan Tiwi, tapi bukan T2," ujar kedua kembar tersebut.


"Wah terimakasih loh, datang jauh jauh menjenguk Al," Chandra tersenyum ke arah pak Shing, dan kedua gadis kembar tersebut.


"Ga jauh kok abang tampan, tapi sayangnya sudah punya istri. Rumah kami di sekitar sini, hm cuman setengah jam kok," ucap tidak tersenyum manis.


"Tika!" Haris menjadi tidak enak sendiri, sikap Tika yang memang terkadang suka menggoda orang, meski sebenarnya tak tertarik sama sekali membuat Haris merasa tidak enak kepada Aliya dan Chandra.


"Apa memang ganteng kan Wi?" Tika mencari pertolongan dari saudara kembarnya.


"Hm, pasti enak kan bangun tidur liat yang segar segar begini. Kalau kak Nita jangan mau ya sama kakak, soalnya butek, banyak dakinya, malas mandi," ujar Tiwi sembari merendahkan Haris.


"Tiwi! Kakak rajin mandi ya, tiga kali sehari, jangan percaya Nit," ujar Haris, segera meyakinkan Arnita.


"Lagian aku juga tidak ada niatan ingin mencari tahu tentang mu. Oh pantas saja saat SMA kau sering di dekati lalat, rupanya kau jarang mandi?" Arnita kini berdiri di kubu si kembar.


^^^Untung aku menyayangi kalian, jika tidak sudah ku seret kalian ke luar ruangan ini.^^^


"Hei aku itu rajin mandi," kilah Haris membuat Aliya menggeleng.


Chandra tersenyum ketika melihat senyum di bibir istrinya terbit, Aliya jelas terhibur dengan pertengkaran di hadapannya, terlebih sekarang kedua saudara kembar Haris berpihak kepada Arnita.


"Iya iya, tiga hari sekali," ejek Arnita.


"Iya, eh terbalik," ralat Haris.


"Tu kan mereka sangat serasi om, nikahkan saja om," usul Aliya membuat Haris tanpa sengaja mengangguk setuju.


"Nikah nikah, memangnya menikah itu mudah non?" Arnita jelas tidak mau, pasalnya mereka lebih banyak bertengkar.


"Mudah kok, datang ke penghulu saja," ujar Aliya tersenyum ke arah Arnita.


"Non harus ada saksi, penghulu, wali nikah yang terpenting, kalau perlu ada wali band," ujar Arnita.


"Nah boleh juga itu, seperti nya wali band untuk menikahkan kalian bagus juga," Chandra ini menimpali.


"Tapi..."


tok, tok, tok.


Suara ketukan mengentikan perbincangan mereka. Kemudian pintu terbuka menampakkan wajah dokter muda, yang di sinyalir dekat dengan Arnita.


"Selamat siang nona Aliya," Bambang tersenyum ke arah yang lain.


"Siang dok," ujar Aliya tersenyum.


"Hm, saya mau makan siang bersama Imoy, eh Nita boleh?" Bambang tampaknya memenuhi janjinya ingin makan siang bersama Arnita.


"Wah dokter yang tadi," Tiwi segera menyambar pembicaraan. Sudah menjadi kebiasaannya.


"Iya dok," ucap Aliya mengangguk.


^^^Ck sok keren sekali dia, lihat saja jika kau bisa makan siang dengan Nita ku.^^^


"Kau benar benar ingin makan siang dengannya?" Haris tiba tiba membuka suara nya.


"Iya memangnya kenapa?" Bambang bingung sendiri.


Sementara Tika dan Tiwi, sudah mengambil ponsel mereka untuk mengabadikan moment yang tampak nya akan sangat seru.


"Tau yang makan siang kami, kenapa situ yang sewot?" ujar Arnita memandang kesal ke arah Haris.


"Tidak menurutku nih ya, dia itu tipe yang suka memainkan wanita, lihat saja di sini banyak dokter, suster, dan pasien. Dia pasti suka merayu mereka, kau hanya di jadikan mainan, dia tidak benar benar menyayangi mu," ujar Haris memasukkan tangannya ke dalam kantung.


"Aku tidak punya alasan untuk tidak menyayangi Nita, lagian kau siapa? Berani sekali kau berkata yang tidak tidak tentang ku," Bambang jelas tidak terima di jelek jelek kan, terlebih tuduhan itu tidaklah benar adanya.


"Hm, mohon maaf sebaiknya jangan bertengkar di sini, lagian kita bisa membicarakan nya baik baik," pak Shing berusaha menengahi mereka. Pak Shing tahu betul saat ini Haris tengah menahan api cemburunya di balik sikap tenangnya, namun kini tampaknya mulai meledak.


"Lagian Haris kenapa sih? Kenapa kau mengatakan hal yang buruk tentang kak Bambang. Aku sangat yakin kak Bambang sangat menyayangi ku, dia selalu menjaga ku selama ini," Arnita berujar sangat yakin, membuat Haris semakin kesal.


"Tidak mungkin, aku yakin dia memiliki banyak di luar sana," ucap Haris kekeh ingin meyakinkan Arnita bahwa Haris itu tidak baik untuknya.


"Apa?! Moy dia siapa mu sih?" Bambang segera memandang Arnita. Pasalnya dia merasa mereka tidak punya masalah sama sekali.


"Tau, dia musuh bebuyutan ku, sejak SMA," adu Arnita, membuat Haris semakin menggeram kesal.


"Oh... Jadi saat SMA dulu kau yang sering membuat Moy menangis?" Bambang kini menampakkan wajah kesalnya, ia tak terima Arnita sering di buat menangis, meskipun itu sudah lama sekali.


^^^Dari mana dia tahu? Apa mereka dekat sejak dulu?^^^


"Hm, e..."


"Eh Bambang kok ga balik balik sih? Memangnya adik mu ga makan? Kasian tu si Imoy nanti ga gemoy lagi pipinya, ya kan, pimoy..." tiba tiba dokter lain datang menyusul Bambang.


Dan perkataan nya membuat semua orang terkejut, ternyata Bambang merupakan kakak dari Arnita, pantas saja Arnita tak terima jika Bambang di hina.


"Adik?!" Haris memandang ke arah Arnita dengan penuh tanya.


"Iya dia adik ku," ujar Bambang sinis ke arah Haris.


^^^Mampus aku, akan sulit tampaknya.^^^


"Ayo kak, biasalah orang iri dan dengki memang seperti itu," Arnita segera meninggalakan Haris yang terdiam tak percaya, dengan apa yang ia lakukan kepada calon kakak ipar nya.