
Seorang wanita tengah berjalan sedikit tergesa gesa, menuju kantor Kostak group. Ia harus menemui nyonya mudanya, untuk meminta tanda tangan.
"Permisi maaf ruangan nyonya Aliya di mana ya? Saya sekertaris nyonya Aliya," ucap Arnita ramah kepada resepsionis tersebut.
"Langsung masuk ke lift itu saja, lift khusus di untuk tamu penting," ucap resepsionis tersebut, menunjuk ke arah lift khusus tersebut.
Arnita berdecak kagum, kagum dengan melihat keistimewaan orang orang di perusahaan suami bosnya. Padahal jika di perusahaan keluarga Winata hal itu tak akan terjadi, karena menurut mereka, bos dan bawahan sama saja, tidak ada bedanya, yang membedakan hanya bebannya saja.
Baru saja Arnita ingin masuk ke dalam ruangan tersebut, tiba tiba dari arah yang berlawanan, Haris datang dari pantry. Ia ingin meninggalakan sejenak pekerjaan kantornya, dan membuat kopi sendiri. Menurutnya para pekerja di sini, tidak ada yang bisa membuat kopi se enak dirinya, mereka semua tidak pas di lidah Haris, bahkan di lidah Chandra. Yang setiap kali ingin minum kopi, harus dari tangan Haris.
Haris mengangkat alisnya melihat wanita yang tengah berdiri di sampingnya dengan memegang beberapa berkas. Haris rasa saat ini tuan mudanya tidak ada jadwal meeting atau bertemu klien.
"Anda ingin bertemu siapa?" Haris memandang wanita itu dari atas sampai bawah.
Yang di pandang jelas risih, ia merasa seperti seorang pencuri yang sedang di telisik. "Saya Arnita, sekertaris nona muda Aliya."
Arnita mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya, Haris bukannya menyambut, tetapi dirinya justru mengangkat kopi dan menyesapnya. Haris sedikit mengerutkan keningnya ketika menyesap kopi buatannya. Rasanya suara dan namanya tak asing.
"Dasar sombong," gerutu Arnita kesal.
"Haris," Haris bahkan tak perduli gerutukan Arnita.
"O," jawab Arnita tak kalah jutek.
Haris memandang sejenak wajah Arnita, kemudian terkekeh pelan. "Menarik, seperti seseorang."
Pintu lift terbuka, Arnita segera keluar begitupun Haris yang berjalan mendahuluinya. Karena bingung, tanpa sengaja Arnita mengikutinya. Harus menghentikan langkahnya, Arnita tanpa sengaja menabraknya. Tepat di dada belakang pria itu.
"Kenapa mengikutiku?" Haris memandangnya dengan pandnagan curiga. Wanita itu salah tingkah membuat Haris tersenyum jahil.
"Hm, ruangan nona muda Aliya di mana ya?" Arnita tersenyum canggung, merutuki kebodohannya mengikuti langkah Haris.
"Lurus, belok ke sebelah kanan, telusuri lorongnya, kemudian ruangannya ada di sebelah kiri," jawab Haris, segera memasuki ruangannya.
"Terimakasih," Arnita segera bergegas menuju tempat yang di tunjukkan oleh Haris.
Arnita sedikit mengernyit bingung, pasalanya tempat tersebut sedikit sepi. Sesampainya di tempat tujuan, Arnita menggeram kesal, pasalnya Haris menunjukkannya ke arah toilet. Beberapa orang keluar mengernyit tak kalah bingung, pasalanya saat ini ia berada di toilet lorong yang akan menuju toilet pria.
"Mba mau ke toilet wanita? Di sebelah sana, ini toilet pria," kata salah seorang karyawan yang bekerja di lantai tersebut.
"Ah iya, sebenarnya saya mencari ruang CEO," kata Arnita sedikit canggung.
"Oh, mari saya antar," pria itu tampaknya berbaik hati, ingin mengantar Arnita.
"Ah terimakasih," Arnita sedikit canggung dan juga tak enak.
Awas kalau ketemu, aku balas kau wahai laki laki durjannah. Arnita berteriak geram di dalam hatinya. Seandainya saja laki laki itu di hadapannya pasti akan Arnita maki habis habisan.
Setelah mereka sampai di depan ruangan CEO, Arnita segera pamit, tak lupa mengucapkan terimakasih. Arnita menghentikan pandangannya sejenak, melihat ruangan yang berada di depan CEO, sungguh kesal hatinya melihat hal tersebut. "Awas kau."
Tepat saat Arnita ingin mengetuk pintu CEO, Haris keluar dari ruangannya. Haris mengulum senyum melihat punggung wanita yang baru saja di kerjainya. "Ah sudah ketemu rupanya," goda Haris sontak membuat Arnita memandang ke arah sumber suara.
"Ah tadi aku lihat wajah mu memerah, aku kira menahan buang air kecil, jadi menunjukkan jalan ke arah toilet. Tapi karena aku terbiasa ke arah toilet pria, aku jadi menunjukkan mu arah yang salah," Haris menampakkan wajah mengejek, dengan nada yang menyesal. Wanita menunjukkan wajah kesalnya, dengan mengerucutkan bibirnya, tanda menahan kesal. Semakin semangatlah Haris menggodanya.
"Dasar peramal Abal anbalan. Pedut." ketus Arnita, membaiat Haris menahan tawanya. Wanita itu ternyata cukup imut saja. "Dasar Pedut."
Haris terdiam mendengarkannya, rasanya tak asing di telinganya. Namun Haris tak ingin mengambil pusing, Haris segera membuka ruangan CEO tersebut, dan masuk terlebih dahulu menuju kursi kebesaran Chandra.
"Permisi, maaf bisa saya masuk," Arnita mengucapkan nya dengan sopan.
"Eh Kakak Nita masuk kak," Aliya segera meminta wanita itu untuk masuk.
"Dia siapa?" Chandra mengerutkan keningnya memandang Arnita.
"Saya Arnita tuan, Arnita Baharuddin. Sekertaris nona Aliya."
Haris seketika menghentikan langkahnya mendengar nama wanita itu. Pantas saja dirinya merasa tidak asing ternyata, ia memang mengenalnya. "Nita?"