
Mereka telah sampai di tempat tujuan, yaitu mencari hadiah untuk Aliya dengan selamat, meskipun di warnai dengan ocehan dari Arnita. pengalaman sejak SMA dulu, membuat Haris seakan kebal dengan seluruh ucapan, sumpah serapah dari gadis yang ada di sampingnya. Jika dulu itu seperti bensin yang siap menyulut emosi dari Haris, namun kini berganti menjadi air yang menyejukkan hati harus.
Ah, cinta! Benar kata Agnes Mo, memang kadang kadang tak ada logika, semua di luar nalar Haris. Laki laki itu tak mampu menahan segala gejolak cinta yang ada di hatinya. Meski ini bukan yang pertama kalinya, namu ada getaran yang berbeda, jauh berbeda di dalam hati Haris. Saat melihat mata gadis itu, terdapat cahaya, bahkan seolah menggambarkan sebuah masa depan. Haris bahkan mampu membayangkan betapa menggemaskannya jika Arnita menggendong seorang anak kecil mirip dirinya.
Haris seketika tersenyum gemas sendiri. Arnita yang melihatnya mengerutkan keningnya. Pasalnya sejak tadi ia mengoceh, Haris hanya menanggapinya dengan senyuman. "Dasar gila," gerutu Arnita.
"Nit ayo masuk," Haris tak perduli umpatan Arnita, segera menggandeng tangan Arnita masuk ke dalam toko.
Arnita sibuk mencari berbagai hadiah lucu, namun saat matanya tertuju pada arloji yang cantik, Arnita hendak meraihnya, namun karena tinggi badannya yang imut, membuat gadis itu tak sampai. Haris terkekeh geli sendiri melihatnya, kemudian segera berdiri di belakang Arnita, mengurung gadis itu dengan jasnya.
Bau mint dari parfum Haris, membuat Arnita mejadia terlena. Wajah Arnita memerah seketika, membuat Haris terkekeh geli namun ia tahan, Haris berpura pura seolah tak melihatnya. "Kau mau ini?" Haris menundukkan kepalanya, menyentuh kepala Arnita dengan lembut. Arnita mengangguk salah tingkah, sementara Haris tersenyum puas melihat Arnita yang salah tingkah.
Haris menurunkan tangannya ke bahu Juwita, seolah memeluk gadis itu dari belakang. Arnita hanya bisa terdiam dengan wajah yang semakin memerah, bahkan Haris dapat melihatnya dari cuping Arnita yang ikut memerah. "Kau yakin dengan ini?" Haris berbisik sangat dekat dengan Arnita, bahkan hembusan nafas Haris terasa di jidat Arnita.
"A... Aku, aku mu... mungkin ak... akan memilihnya," ujar Arnita salah tingkah. Bahkan kini gadis itu memejamkan matanya demi meredam sedikit rasa gugupnya.
Haris menurunkan sebelah tangannya, hingga kini kedua tangannya terpaut di leher Arnita. "Jangan terburu buru nanti kau salah memilihnya, bagaimana kalau kita melihat ulang yang lain?" Haris memandang lekat wajah Arnita dari samping. Mata gadis tersebut terus berkedip hingga beberapa kali, menggosok hidungnya, menandakan bahwa gadis itu tengah gugup dan salah tingkah.
"A... Aku rasa ti... Tidak masalah, nona Aliya juga tidak begitu pemilih," Arnita melirik wajah Haris yang begitu dekat.
"Oh ya? Lalu menurut mu, hadiah apa yang bagus dari ku untuk nona Aliya?" Haris menyunggingkan senyum manis kala bertanya kepada Arnita.
Gadis itu semakin salah tingkah, ingin bergerak namun rasanya berat, ingin menoleh namun rasanya kaku. Itulah kira kira gambaran perasaan Arnita saat ini. "Mu... mungkin boneka."
"Kau suka boneka?" Haris semakin mendekatkan wajahnya.
"I... Iya, eh maksud ku nona Aliya mungkin suka," Juwita semakin salah tingkah ketika merasakan nafas hangat berbau mint Haris mengenai hidungnya.
"Oh aku kira nona terlalu tomboi untuk sebuah boneka, mereka lebih cocok untuk mu," ujar Haris merapikan rambut Arnita.
Gadis itu tiba tiba berhenti bernafas merasakan tangan hangat Haris mengenai pipinya. "I... Iya mungkin saja," ujar Arnita sekenanya.
"Mu... mungkin Doraemon?" Arnita refleks menyebutkan karakter kesukaannya.
"Ah, baiklah kita beli yang itu," ujar Haris meninggalkan akan Arnita yang masih mematung terkejut dengan semua tingkah Haris.
Tanpa mereka sadari dua pasang mata terus mengawasi mereka, siapa lagi kalau bukan si kembar Tika dan Tiwi, mereka juga saat ini tengah mencari aksesori untuk ulangtahun teman mereka, namun sesuatu menarik perhatian mereka, siapa lagi jika bukan Haris yang tadi tengah memeluk Arnita.
"Wah gercep kakak ya kan? Tak sia sia setiap malam kita pinjamkan film Korea, ini bah hasilnya," ujar Tiwi dengan logat ala mak Beti.
"Bah, sudah macam mak Beti kau ngomong. Sia sia kau belajar bahasa Indonesia setiap hari, kalau mak Beti lebih berpengaruh," ejek Tika membuat Tiwi mendelik kesal.
"Diam, aku bilang! Kau akan membuat kita ketahuan," kesal Tiwi, mengalihkan pembicaraan mereka.
"Beuh, kemana tu kakak? Habis baperin, eh malah si tinggal pas lagi sayang sayang nya," ujar Tika mendramatisir keadaan.
"Lagi beli boneka Doraemon besar, wah... Daebak ini mah," ujar Tiwi terus memperhatikan Brayen dari jauh.
"Sudah kayak oppa oppa tu kakak," sambung Tika.
"Kalian sedang apa?" Suara yang sedikit bariton mengejutkan kedua gadis kembar tersebut.
"Papa, ayo sembunyi, jangan besar besar. Di sana ada kakak ipar sama kakak," ujar Tiwi, segera menyeret pak Shing keluar dari toko tersebut.
"Kalian tidak jadi belanja?" pak Shing bingung dengan tingkah kedua anaknya.
"Di tempat lain saja," ujar keduanya kompak.
"Ciah kompak," ejek pak Shing membuat kedua kembar tersebut mendelik.
"Papah..."