SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Berbelanja oleh oleh



...Guys tolong budayakan like dan komentar ya, tahukah anda menurut nopidia memberi like dan komentar akan menambah semangat author untuk berkomentar....


"Kemana sih tu orang bersiul atau bernyanyi sih?" Aliya menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal, pertanda dirinya menghilangkan kegugupan, atau ketidak nyamanan nya.


"Sorry lama ya?" Chandra datang menepuk pundak Aliya, membuat Aliya hampir saja berlonjak karena terkejut.


"Kemana aja sih lo? Gue bingung mau cerita apa aja," kata Aliya menunjuk kameranya, sembari mengerucutkan bibirnya. Chandra segera mengecup bibir Aliya yang cemberut, dan mengusap kepala Aliya.


"Sorry di toilet rame," kata Chandra beralasan, padahal sejak tadi ia hanya berkeliling mall saja, dan melihat sekeliling. Chandra hanya berniat mengerjai istrinya, yang kaku jika berhadapan dengan kamera.


Tepat setelah kedatangan Chandra makanan yang mereka pesan akhirnya tiba, Aliya tersenyum senang, karena makanan yang sejak tadi ia tunggu telah datang.


"Giliran makanan aja cepet, di suruh ngomong di depan kamera kakunya udah kayak kanebo kering," ledek Chandra membuat Aliya terkekeh.


"Soalnya gue ga biasa, nah kalau makanan kan gue biasa, gue juga suka banget makan di tambah lapar," kata Aliya sembari terkekeh.


"Panjang banget ngomong kayak kereta, nah kalau di depan kamera, udah tu kayak bayi belajar ngomong pemirsa, a, i, u, e, o." Chandra berdecik melihat kelakuan istrinya.


Aliya hanya nyengir menampakkan gigi rapinya. Chandra yang tak bisa marah lama lama segera mencubit pipi istrinya, yang semakin hari semakin menggemaskan. "Iya silahkan makan tuan putri."


Aliya segera makan makanannya dengan lahap, bersamaan dengan Chandra yang juga ikut makan pesanannya. Aliya memandang ke arah Chandra, kemudian mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut sudut bibir Chandra, yang terdapat beberapa saus. Chandra tersenyum senang, merasa di perhatikan oleh Aliya.


"Cieh senyum, merasa di drakor ya pak? Uluh, tapi sayang kebalik," goda Aliya membuyarkan ke uwuwan mereka seketika.


"Dasar, kalau mau sweet sweet aja, ga usah ngerusak suasana cil," geram Chandra, semakin membuat Aliya terkekeh.


Setelah mereka makan, mereka segera berkeliling mall. Ini adalah yang pertama bagi Aliya, sementara Chandra ini adalah yang kedua kalinya. Chandra segera menarik tangan Aliya ke tempat penjual sofenir, di mana di sana banyak sofenir khas negara ginseng tersebut. Aliya memilih beberapa untuk keluarganya, dan kedua sahabatnya itu. Setelah memilih beberapa barang, mereka segera keluar. Aliya tanpa sengaja melihat beberapa tas dan sepatu, yang terlihat sangat cantik segera menghampirinya. Chandra hanya mengekor Aliya dengan membawa dua paper bag, berisi parfum dan gantungan kunci di sebelah kiri, dan kamera di sebelah kanan.


"Sayang, kutil, kancil," Aliya segera menoleh, mendengar ketiga nama kesayangan Chandra terhadapnya di sebut. "Lo mau ngapain sih? Katanya ga mau beli tas?"


"Ga ini buat Juwita, Angel sana mama," kata Aliya segera menarik tangan Chandra yang berisi tentengan.


"Buat yang lain aja langsung, buat gue," kata Chandra dengan nada merajuk yang di buat buat.


"Ya ga mungkin lah, di sini kan untuk cewek," kata Aliya santai, segera mendekati beberapa tas, dan sepatu.


Setelah memilih oleh oleh untuk ketiga wanita yang tengah menantinya, Aliya dan Chandra segera keluar. Kini giliran Chandra yang pergi ke tempat sepatu khusus pria. Aliya hanya di gandeng saja, pandangan matanya sudah tertuju kepada para jejeran sepatu. Aliya tak kalah antusis ketika melihat sepatu kat yang tersusun rapi, Aliya sudah membayangkan berolah raga dengan sepatu tersebut.


Namun baru saja Aliya hendak melangkah, Chandra segera menarik tangan Aliya, karena melihat jejeran sepatu kulit. Chandra segera memilih sepatu kulit yang sesuai dengan seleranya. Setelah menemukan yang sesuai selera, dan dengan merek yang ia sukai, Chandra segera memilih nya.


"Cil pegang dulu, gue mau makai," Chandra segera memberikan kamera tersebut kepada Aliya.


Aliya menurut saja, sembari memperhatikan merek sepatu yang suaminya beli. Aliya mengerutkan keningnya melihat merek tersebut.


"Oh, gue lebih suka yang ini, ke mana pun gue, gue selalu beli yang merek ini," kata Chandra santai sembari merebut sebelah kiri dari tangan Aliya, kemudian memakainya. "Gue cinta Indonesia."


"Bukannya gue ga cinta Indonesia, tapi kalau gitu mending lo beli di Indonesia. Eh, curut sableng lo," kata Aliya sembari menggeleng kesal. "Tas tas gue aja made in Indonesia, kualitas dunia."


"Iya ga usah sombong, tapi oleh oleh made in Korea, tas sama sepatunya," ledek Chandra memandang ke arah Aliya, sontak saja pandangan Chandra juga mengenai kamera tersebut.


"Lah kan gue dari Korea, kalau made in Indonesia sama aja dong bohong," kata Aliya tak ingin kalah.


"Iya istri gue yang paling bener," kata Chandra segera berdiri dan mengecup sudut bibir Aliya. Chandra segera menjauh, ingin melihat sepatu tersebut di cermin.


"Eh curut ini emang gini atau gimana?" Aliya membuat Chandra segera memandang bingung ke arah nya.


"Ini apa yang gimana?" Chandra mengerutkan keningnya bingung melihat Aliya yang tampaknya memperhatikan kamera, di depan cermin besar. Kini keduanya terkena pantulan cermin besar setinggi tembok, yang tampaknya hanya satu setengah meter saja lebarnya.


"Kameranya, kok kayak ga di rekam gitu," Aliya menampakkan wajah bingungnya.


"Lah lo ga liat? Perasaan tadi gue on deh kameranya," Chandra segera berjalan mendekat ke arah Aliya. Chandra melihat ke arah layar yang menampilkan mereka, dan menepuk jidatnya. Ternyata dirinya hanya di kerjai oleh Aliya.


Chandra segera memeluk leher Aliya, dan mengacak rambut Aliya gemas, karena merasa di kerjai oleh wanita itu. Aliya hanya terkekeh.


Staf yang mengikuti mereka, hanya menggeleng melihat tingkah kedua insan manusia, yang tampak jelas seperti sepasang kekasih, karena baju dan tingkah Chandra yang berani mengecup bibir Aliya. Meskipun staf laki laki tersebut tak mengerti bahasa yang di ucapkan keduanya, namun dirinya cukup paham dengan bahasa tubuh Aliya dan Chandra.


"Ah ampun ampun ampun," kata Aliya, sudah memohon pengampunan dari Chandra, bahkan kamera yang iya pegang pun kini telah miring, membuat bayangan yang di hasilkan oleh kamera pun menjadi tiga puluh derajat.


Setelah menyelesaikan balas dendam kecil kecilan nya, Chandra segera menukar sepatu yang belum di bayarnya tadi, dengan sepatu miliknya. Chandra meminta staf tersebut mengambilnya dengan bahasa isyarat. Aliya dan staf tersebut seketika melongo memandang ke arah Chandra.


"Ngomong dong, lo kan bisa bahasa mereka Jubaedah," kata Chandra geram melihat istrinya ikutan melongo, bukannya mengartikan keinginannya.


"Eh sorry gue lupa, lo tadi minta apa?" Aliya memegang mulutnya, bahkan pikirannya tadi sempat traveling, karena sahabatnya tiba tiba di sebut oleh Chandra.


"Gue mau ngambil yang ini, sama yang itu juga," kata Chandra menunjuk ke arah sepatunya dan dan ketiga tiga sepatu yang telah di pilihnya buat oleh oleh.


"Oh. 그는 이것과 저것을 원한다," (dia mau yang ini sama yang tiga itu) kata Aliya berbicara dua arah, kepada staf dan Chandra.


Staf tersebut mengangguk dan segera berjalan ke arah kasir, meninggalkan kedua orang tersebut yang masih sibuk saling menggoda.


"A cie nyebut si Jubaedah, jangan jangan si Tono kangen lagi," goda Aliya.


"Hustttt diam, mau nanti malam kita ga jadi street food?"