
...Guys tolong budayakan like dan komentar ya, tahukah anda menurut nopidia memberi like dan komentar akan menambah semangat author untuk berkomentar....
Bik Imah baru saja kembali dengan menenteng kresek putih. Nyonya Mona tampak sedikit antusias, bik Imah segera menyerahkan kantong kresek tersebut, beserta dengan kembalian di dalam plastik tersebut.
Setelah menyerahkan kantong plastik tersebut, bik Imah segera pamit. Karena harus mengerjakan pekerjaannya yang tertinggal. Bik Imah sedikit melirik Aliya, dan tersenyum penuh arti. Aliya yang menyadari sedikit bingung, namun memilih tidak menanggapi. Karena jelas dari senyum itu tidak ada niat jahat, hanya sebuah senyuman yang tak mampu Aliya artikan.
"Mama beli apa?" Aliya tampak bingung, ia harap yang di dalam plastik tersebut merupakan makanan.
Nyonya Mona mendengar pertanyaan dari Aliya menjadi tersenyum sendiri, di raihnya tangan Aliya, kemudian di keluarkan ya isi plastik tersebut. "Coba kamu tes, ini sambil nunggu makanan kamu selesai di buat, dan di beli."
Aliya terbengong melihat benda pipih panjang tersebut. Ternyata nyonya Mona meminta bik Imah membelikan sebuah testpack di apotek terdekat. Nyonya Mona sedikit curiga dengan tingkah membangongkan makhluk limited edition. Lagian menurut perkiraan nyonya Mona, seharusnya Aliya sudah berisi, pasalnya Aliya sedikit memperlihatkan tingkah anehnya. Dari mulai tingkah hingga moodnya yang seperti angin lalu.
Bahkan kalau dari durasi mereka bulan madu selama satu minggu, dan dengan tingkah Chandra yang bar bar, yang terus menyerang Aliya, bisa di simpulkan sendiri. Bahkan nyonya Mona sedikit merinding ketika mengingat suara laknat yang di perdengarkan Chandra, ketika dia tengah menelfon Chandra, ingin menanyakan kabar mereka. Belum lagi tentang video call yang menampakkan dirinya tengah meraup habis bibir Aliya.
Mengingat itu semua, tiba tiba bulu keduanya merinding, seolah ada makhluk tak kaset mata yang berdiri di sampingnya.
"Ma ini sama kayak test narkoba kan?" Aliya mencoba meyakinkan diri, dengan membuka bungkus dari benda tersebut.
"Iya sayang," kata nyonya Mona tersenyum.
Sejujurnya dirinya sangat menanti kehadiran makhluk kecil di dalam perut Aliya. Sama halnya dengan para laki laki, mereka tampak antusias. Terlebih saat Aliya berdiri menuju toilet, Chandra dengan antusias segera menuntun Aliya, takut takut jika terjadi sesuatu.
"Lo ngapain sih? Toilet depan mata, g usah di tuntun, gue bukan orang sakit atau tua," kesal Aliya memandang ke arah Chandra, yang sejak tadi merangkul bahunya, demi menuntun sang istri.
"Kan aku juga penasaran sayang, cepet gih masuk," Chandra segera mendorong tubuh Aliya pelan, agar segera masuk ke dalam kamar mandi. Aliya segera menutup pintu toilet tersebut, kemudian berjalan menuju kloset.
Sementara di luar harapan harap cemas, mereka sangat menantikan kehadiran makhluk kecil tersebut. Namun juga takut untuk menuntut Aliya, mereka takut Aliya tertekan hingga memperlambat segalanya. Nyonya Mona ingat betul, dulu tekanan keluarga membuatnya sangat sulit memiliki anak. Usut punya usut, ternyata dirinya setres, dan tertekan ketika mendengar semua pertanyaan orang tentang 'kapan punya anak, atau tetangga sebelah sudah hamil loh, padahal kan kamu duluan,' hingga banyak pertanyaan lainnya yang membuatnya semakin tertekan. Belum lagi pera tetangga yang kulit, yang sibuk menghidupinya dengan sebutan tidak subur, dan sebutan lainnya.
Untung saja keluarga sang suami tidak terlalu menekannya, sehingga saat dirinya ikut ke Turki untuk menemani suaminya berbisnis, sekaligus bertemu dengan orang tua tuan Omer, dan kembali lagi bulan madu. Membuat nyonya Mona menjadi sedikit terbebas dari tekanan, terbukti baru satu bulan dirinya di turki. Kecebong tuan Omer terlah masuk ke rahim nyonya Aliya. Dan itu adalah awal mula kehidupan Chandra, hingga menjadi manusia yang setampan ini.
Karena terlalu lama menunggu Aliya, Chandra yang tidak sabaran segera membuka paksa pintu tersebut. Menampakkan wajah Aliya yang tengah cemberut, Chandra sedikit khawatri segera mendekati istrinya.
"Kenapa hm?" Chandra mengusap lembut kepala istrinya, Aliya hanya memperlihatkan hasil testpack tersebut, yang menampakkan satu garis.
"Bagaimana?" Nyonya Mona tampak sangat antusias, semakin membuat Aliya bersedih. Bagaimana jika mama mertuanya tersebut tahu hasilnya, pasti akan sangat sedih.
Chandra menyerahkan testpack tersebut kepada nyonya Mona, nyonya Mona memicingkan matanya memperhatikan hasilnya. Kini ia tahu kenapa menantunya tampak begitu sedih. Nyonya Mona menampilkan senyum manisnya, membuang jauh jauh rasa kecewanya. Ini bukan keinginan menantinya, namun ini adalah ketentuan sang khalik.
"Sayang ga apa apa kamu usaha lagi, nanti kalau udah waktunya pasti di kasih kok," nyonya Mona bisa merasakan kesedihan dari menantunya itu, dulu dirinya juga merasakan hal yang sama. "Ya udah puding sama mie ayam kamu udah datang sayang, makan aja dulu ya."
Seketika Aliya tersenyum ketika mendengar makanannya sudah tersedia, seketika kesedihannya sirnah. Aliya kembali bersemangat dan segera masuk ke dalam ruang makan, untuk makan pesanannya.
Tampa basa basi, tampa tawar menawar Aliya segera makan pesanannya. Mei ayam menjadi makanan awal yang Aliya eksekusi. Aliya tampak tersenyum kembali, membuat Chandra tersenyum lega. Karena setidaknya istrinya tak sesedih beberapa saat yang lalu. Chandra berjalan mendekati Aliya kemudian mengusap kepala istrinya dengan penuh cinta.
"Gue ke ruang keluarga dulu ya, lo habisin makanan," kata Chandra setelah mengecup kepala istrinya dan segera berjalan menuju ruang keluarga.
Sementara Aliya sibuk dengan makanannya, Chandra sibuk membaca kotak, dan melihat dengan teliti setiap isi kotak tersebut. Sesungguhnya dirinya sangat berharap istrinya segera mengandung anaknya. Melihat anaknya yang membaca kotak tersebut, segera mendekati Chandra, dan mencoba menghiburnya.
"Sayang kamu jangan nuntut istri kamu ya, ini juga pasti berat untuk dia, tapi kamu harus selalu dukung dan selalu usaha, biar dia ga setres dan memudahkan untuk dapat momongan," kata nyonya Mona mencoba untuk menghibur anaknya.
"Iya ma, tapi Chandra bingung benda tadi kok ada tulisan kadaluarsanya?" Chandra memandang bingung ke arah nyonya Mona, pasalnya melihat di kotak tersebut ada tulisan kadaluarsanya.
"Oh itu memang ada, untuk menentukan baiknya penggunaan barang, sama menentukan ke efektivitas dari testpack nya, memangnya kenapa?" Nyonya Mona tampak bingung, kenapa anaknya menanyakan hal tersebut.
"Soalnya ini tanggal kadaluarsanya sudah tiga bulan lalu," kata Chandra polos.
Jder...
Bagai tersambar petir, ah tidak deng othor ga tau rasanya di sambar petir. Tapi yah pokoknya nyonya Mona terkejut lah gitu mendengar penuturan anaknya.
Nyonya Mona merebut kotak testpack tersebut, dan membaca tempat yang di maksudkan oleh Chandra. "Imah..."
Suara dari nyonya Mona menggelar hingga ke penjuru rumah, membuat semua penghuni rumah seketika terkejut, terkecuali Aliya yang tengah asyik makan, dirinya seolah menulikan telinganya, dan berfokus kepada makanan. Yang si empunya naman segera berlari menuju sumber suara.