
Mereka saat ini berjalan menuju parkiran, Aliya memandang Chandra dengan sedikit resah. Sebenarnya dirinya masih bingung mengenai sesuatu hal.
"Eh curut," Aliya tiba tiba bersuara, membuat Chandra segera memandang ke arahnya.
"Ya kenapa?" Chandra tersenyum mengusap lembut pipi Aliya.
"Hm, ga jadi deh, nanti aja," Aliya kembali ragu ingin mengatakannya sekarang, jadi dirinya memutuskan mencari waktu yang tepat.
"Kenapa? Ngomong aja sekarang," Chandra tampaknya benar benar penasaran.
"Nanti aja, pas di kamar aja," pinta Aliya, membaut Chandra mengangguk mengerti. Bukannya tidak penasaran, karena Chandra tahu jelas, pasti ada sesuatu yang menjanggal di kepala istrinya itu. Namun Chandra tak ingin memaksa Aliya untuk berbicara sekarang. Maklum kata nyonya Mona orang hamil itu sensitive.
"Iya deh," Chandra segera membawa Aliya kedalam rangkulannya, dan berjalan pelan menuju mobil mereka.
Chandra segera membuka mobil untuk Aliya dan menutup pintunya kembali, kemudian mengitari mobil tersebut, ke arah kemudi mobil.
"Kok lama?" Nyonya Mona segera bertanya kepada Chandra dan Aliya, ketika mesin mobil telah di hidupkan.
"Iya soalnya tadi ngambil obatnya ngantri," jawab Chandra, dirinya juga tak mungkin mengatakan tentang wanita tadi yang menabraknya. Pasalnya saja dirinya tidak mengingat nama wanita itu hingga saat ini.
Memang begitulah Chandra, jika merasa orang itu tidak penting dirinya akan mudah melupakan namanya. Bahkan wajah orang tersebut.
"Oh, ya udah ayo," kata nyonya Mona segera memerintah.
Chandra segera menuruti keinginan mamanya, dan melajukan mobil mereka ke arah jalan raya. Rencananya Chandra akan mengantarkan ketiga orang tau ini, kemudian barulahembawa Aliya ke tempat penjual mie ayamnya.
"Al kamu ada mau ke mana gitu ya?" Nyonya Mona segera mencolek Aliya dari belakang.
"Hm, mau ke tempat mie ayam langganan Al, di depan komplek rumah lama," jawab Aliya, dirinya memang menginginkan hal tersebut.
"Oh ya udah, kita langsung ke sana aja," jawab nyonya Mona, memberi perintah. Yang langsung di iyakan oleh Chandra.
"Iya mah."
Mereka keluar dari parkiran rumah sakit tersebut, dan melaju ke tempat yang mereka tuju. Tanpa mereka sadari sepasang mata terus memperhatikan mereka dari jauh, ada guratan kesal, cemburu, dan sakit hati di sana.
Chandra memarkirkan mobilnya di salah satu tempat yang di sediakan, motor yang mendominasi tempat tersebut yang hanya di hadiri oleh dua mobil. Chandra sedikit perfikir, dirinya belum mematikan mesin mobilnya, ada rasa khawatir saat melihat tempat tersebut, yang terlihat di beberapa tempat di tutupi oleh spanduk. Baik partai, sponsor kecap manis, dan ada juga spanduk tentang warung mie ayam tersebut, yang sepertinya sudah membuka beberapa cabang.
"Gini, higenis ga?" Chandra memandang ke arah Aliya, tampaknya dirinya kurang setuju ketika melihat tempat tersebut.
"Iya, di sini udah bagus," Aliya membuka pintu mobilnya terlebih dahulu, kemudian di susul oleh nyonya Mona dan kakek Rio.
"Ya udah deh," akhirnya Chandra mengalah dan ikut turun setelah melihat semua orang turun dari dalam mobil.
"Eh mbak Al, udah lama ga kesini," sapa salah seorang penjaga, yang kebetulan sedang tidak melayani pembeli.
"Iya, sibuk soalnya kemarin," jawab Aliya tersenyum manis. Dirinya memang di kenal baik oleh pegawai mie ayam tersebut, karena jika tidak bertugas, atau tidak ada kegiatan apapun, Aliya sangat senang untuk makan di sini. Bukan hanya soal harga yang jauh lebih murah, namun rasanya sangat enak di lidah Aliya.
"Olah, mbak mau mesan apa?" pelayan tersebut mengangguk mengerti.
"Mie ayam lima bang, mie nya mie sarami. Makannya di sini," kata Aliya tersenyum menyebutkan pesanannya.
"Sip duduk aja dulu mbak," Aliya mengangguk mendengar perintah dari pegawai tersebut, kemudian segera mendekati rombongan lainnya.
Karena keadaan saat itu cukup ramai, pesanan mereka sedikit lambat. Setelah lima menit menunggu akhirnya mie ayam pesanan mereka datang.
Aliya dan kakek Rio segera menyantapnya, karena ini memang mie ayam langganan mereka. Nyonya Mona dan tuan Omer melihat Aliya dan kakek Rio, ikut bersemangat menyantapnya. Sementara Chandra? Entah kenapa dirinya kurang begitu selera, dirinya hanya memandang mie ayam tersebut, enggan menyentuh nya.
"Kenapa? Enak tau," kata Aliya memandang ke arah Chandra dengan kening yang berkerut.
"Higenis ga?" Chandra memandang ke arah Aliya.
"Di sini di jamin deh," jawab Aliya mantap. "Lagian ini mie ayam yang lo jajah waktu itu sama yang gue makan tadi," Aliya kambali meyakinkan Chandra.
Tiba tiba Chandra mengingat di mana dirinya merebut mie ayam Aliya, hingga berakhir pada pengurungan di kamar mandi bersama Aliya oleh kakek Rio. Selera Chandra tiba tiba meningkat, membuatnya segera mencicipi mie ayam tersebut untuk kedua kalinya.
"Kalau hangat gini lebih enak ya," kata Chandra segera menyuapi dirinya sendiri dengan mie ayam tersebut.
"Nah tu kan," Aliya berseru penuh kemenangan ke arah Chandra.
Sementara para pengunjung lainnya yang melihat pasangan fenomenal, makan bersama dengan keluarga di warung mie ayam pinggir jalan tersebut, segera mengambil gambar secara diam diam. Ini adalah momen langkah yang harus di abadikan. Sebagian lagi dari mereka memandang mereka dengan takjub, meskipun mereka pengunjung lama, yang pastinya mengetahui bahwa Aliya dan kakek Rio biasa makan di sana. Namun tetap saja, mereka sangat takjub, karena berhasil membawa keluarga Kostak yang sama Sultan ya dengan mereka untuk makan di pinggir jalan.
"Wah dua keluarga Sultan lagi makan di warung pinggir jalan nih," seru salah satu pengunjung dengan memasang status yang hanya bertahan dua puluh empat jam.
Setelah status itu tersebar, hanya dalam hitungan menit saja warung ayam tersebut di penuhi pengunjung. Entah karena ingin makan mie ayam saja, atau memang ingin melihat kedua keluarga Sultan, dan anak mereka yang fenomenal.
Keributan terjadi, suara bisik bisik membuat Aliya sedikit tidak nyaman, dirinya tak terlalu terbiasa menjadi pusat perhatian seperti ini. Berbeda dengan nyonya Mona dan Chandra yang narsis. Mereka tampak menikmati, bahkan tersenyum bangga. Karena menjadi pusat perhatian.
Tuan Omer dan kakek Rio yang memang mengetahui kenarsisan dari nyonya Mona, kini mengangguk paham, bahwa Chandra menuruni sikap narsis mamanya.
Berbeda dengan Chandra, Aliya terus menunjukkan gerakan tak nyaman, terlebih lagi dirinya tak suka di kerumunan seperti ini, kamera ponsel yang jelas jelas di hadapkan ke arahnya. Chandra tiba tiba menyadari tingkah istrinya, Chandra menggenggam tangan istrinya yang tengah menggenggam ujung hoddinya.
"Mau pulang sekarang?" Chandra berbisik ke arah Aliya. Aliya hanya mengangguk menyetujui pertanyaan dari Chandra.