
Aliya dan Chandra sore ini memutuskan untuk jalan jalan sore, seperti anak muda lainnya. Chandra dan Aliya benar benar hanya jalan jalan sekitar komplek, mereka tampak serasi dengan tangan mereka yang saling bertautan.
"Curut lo liat rumah itu ga?" Aliya menunjuk ke arah rumah Fika.
"Lihat lah orang mata gue normal ko," ucap Chandra santai, sembari memandang ke rumah yang di tunjuk Aliya.
"Itu rumah fans panatik lo," ucap Aliya sembari memandang ke arah Chandra.
"Hah siapa?" Chandra masih tak tahu siapa yang di maksud istrinya.
"Ih, si ulet keket," ucap Aliya gemas, pasalnya suaminya itu salah satu orang sangat mudah melupakan seseorang.
"Oh, dia. Kok bisa?" Chandra mulai penasaran.
"Iya, dia tinggal di sini, dia pindah gitu, biar bisa dekat dengan lo," ucap Aliya dengan nada kesal di sana. Chandra terkekeh mendengarkannya.
"Terus? Kita harus gimana?" Chandra memilih untuk menggoda istrinya.
"Tau ah, kalau Indonesia punya gue, udah gue deportasi ke luar angkasa," sungut Aliya, dirinya sangat kesal jika mengingat wajah Fika. "Sayang kamu jangan mirip Tante girang itu ya."
"Kalau di pindah, kita jalankan tugas kita aja ya, kita buat dia panas, sampai ke ubun ubun," ucap Chandra menangkup wajah istrinya.
Chandra melirik ke arah pintu, dan melihat Fika tengah keluar dari rumahnya. Chandra tersenyum, pikir nya ini lah saatnya memanas manasi ulet keket, penguntit mereka.
Chandra segera menghujani ciuman di wajah Aliya, kemudian mengecup bibir Aliya berkali kali. "Nanti malam kita bakar bakar di depan, sambil mengajak tetangga, nah dia pasti datang, di situ kita jika bakar bakar hatinya, biar kepanasan."
Aliya terkekeh mendengar ide gila suaminya, yang ingin memanas manasi Fika, si penguntit calon plakor.
"Kita ajak Tom and Jerry deh, kayaknya seru," ucap Aliya terkekeh, membayangkan wajah kedua asisten mereka.
"Iya deh, anything for you sweet," ucap Chandra merengkuh Aliya, melihat reaksi sepasang mata di seberang sana.
Panas ga? Panas lah masa engga, Chandra justru bersorak kemenangan ketika melihat wajah memerah Fika.
"Ayo makan, apa gitu, lapar nih," ucap Chandra kembali berjalan sembari menggandeng tangan Aliya. "Truk aja gandengan, masa tetangga kita kepanasan," kelakar Chandra.
Aliya terkekeh mendengar kelakar an Chandra, sungguh sangat tepat untuk mata yang sedang memandang mereka. Jangan di tanya lagi betapa berbakatnya dirinya.
Fika mendengus kesal melihat kemesraan yang baru saja live di depan matanya, dirinya sungguh kesal.
Cemburu?
Iya, pasti.
Kesal?
Jelas tentu.
"Suami suami orang, istri istri orang, kenapa tu orang kepanasan ya?" ucap salah satu ibu ibu.
"Orang dia kan suka sama tuan kuda Chandra."
"Hah benar?" si penjual justru keluar dari kursi kebesarannya.
"Iya dia pasti pindah ke sini cuman untuk menggoda tuan muda Chandra."
"Anak muda jaman sekarang membuang harga diri nya sendiri."
"Dia kan janda, wajarlah dia menggatal, lama tidak di garuk dan di cium sama laki laki," sambung ibu ibu lainnya.
"Wah kita juga harus jaga suami kita, tau tau tuan muda Chandra tak dapat, eh suami suami kita yang di Pepet, gara gara kurang belayan."
"Is, maunya kita laporkan saja ke pak RT." usul salah satu ibu ibu.
"Benar biar di kasih peringatan, kalau perlu kita kasih plang di depan rumahnya, PELAKOR. Gitu tulisannya," jawab ibu ibu dengan dandanan paling heboh.
Tiba tiba Fika datang dan seketika ibu ibu yang sedang bergosip diam, mereka semua berbisik melihat pakaian Fika yang seksi. Bahkan dirinya hanya menggunakan tangtop, dengan kemeja panjang hingga kelutut, yang tak di kancing. Sementara celananya hanya sejengkal kira kira. Badannya menonjol sana sini, hingga membuat mata para laki laki yang lewat memandangnya dengannya, dengan tatapan lapar, dan menelanjangi.
"Hm, tadi saat aku lihat tuan muda rumah itu, dengan istrinya olahraga sore, uh mesra sekali, aku seketika mengingat masa muda mereka," ibu ibu berdandan heboh tadi membuka sindiran.
"Iya semoga saja tidak ada PE LA KOR di antara mereka," ibu lainnya menyahut dengan menekan setiap suku kata, pelakor.
Fika seketika kesal, ia tahu singgungan itu untuk dirinya, ini pasti karena kejadian tadi pagi. Aliya benar benar mempermalukan dirinya di sini. Bagaiman tidak, karena tadi pagilah, niatnya pindah kesini di ketahui oleh ibu ibu komplek.
"Ih kalau ada, kita tempel di jidatnya cap PE LA KOR."
"Ih di depan rumahnya saja, biar setiap orang bisa tahu kalau di dalam rumah itu ada PE LA KOR."
"Berapa Bu?" tanya Fika menahan amarah, wajahnya sudah memerah, membuat para ibu ibu penggosip tersenyum.
"Empat tiga mbak," ucap penjaga warung tersebut.
"Ini buk," Fika segera menyerahkan uang lima puluh ribu.
"Ini kembaliannya mbak."
Fika yang tak tahan lagi dengan sindiran pedas ibu ibu segera pergi dari tempat tersebut dengan perasaan gusar. Tampak jelas dirinya sedikit mendelik memandangi ibu ibu, sembari berjalan dengan sedikit menghentak hentakkan tangan.
"Dasar ibu ibu penggosip, tidak ada kerjaan apa?"
Hai guys karena othor akhir akhir ini sibuk dengan dunia nyata, jadi othor up sebisa othor ya.