SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Kerja sama



"Iya letakkan saja di situ, nanti kalau istri saya bangun saya beritahu," Chandra mengecup lembut kepala Aliya.


Arnita yang tak tahu permasalahan hanya mengangguk saja, dirinya tak tahu pasal wanita asing yang tengah tersenyum dengan wajah yang memerah.


"Ah Nita, kamu sudah makan siang?" Chandra mulai melancarkan aksinya.


"Hem belum tuan," Arnita menjawab bingung.


"Kalau begitu, makanlah bersama nona Fika, soalnya nona Fika juga hendak makan siang," Chandra menunjuk Fika yang tengah duduk manis.


"Ah," Arnita bingung sendiri hendak menjawabnya. Jika begini Arnita tahu betul itu merupakan sindiran halus, sekaligus pengusiran halus oleh suami nona mudanya. .


"Ayo Nita," ajak Fika, akhirnya menyerah, karena sejak tadi tak berhasil mengajak Chandra makan siang bersama, pasalnya saat masuk di sajikan dengan pemandangan luar biasa.


Bahkan sejak masuk, Chandra sudah meletakkan jari telunjuk di bibirnya, menandakan agar Fika diam, dan tak membuat istrinya bangun.


Fika mendesah kesal, dirinya baru saja membeli makan siang untuk mereka, namun dirinya harus menelan kekecewaan. Bahkan sejak tadi saat dirinya hendak berbicara, tiba tiba Aliya menggeliat. Membuat Chandra segera mengusap lembut kepala Aliya.


Jika ada yang bisa menggambarkan keadaan Fika saat itu adalah, musim panas tanpa hujan. Gersang dan tandus. Fika menutup matanya sebentar untuk menetralisir rasa kesal yang menjalarinya. Untung saja Arnita segera masuk, hingga membuat Fika dapat pergi, tanpa merasa malu.


Cklek, pintu terbuka, Haris segera mengintip ke arah pintu ruangan tuannya. Haris tersenyum senang. Haris menduga Arnita akan di perintahkan untuk makan bersama dengan Fika. Ah, Haris tak setuju, masa gadis se imut Arnita harus makan siang bersama dedemit bibit pelakor.


"Sayang," Haris tiba tiba memeluk Arnita dari belakang, saat Arnita dan Fika tengah menunggui lift.


Arnita terkejut bukan main, karena merasakan tangan kekar tengah memeluknya dari belakang, bahkan dagu Haris sekarang tengah berada di atas kepalanya.


"Tadi masuk ke ruangan pak bos dulu ya? Aku nyariin kamu loh," rengek manja Haris, membuat Arnita hampir memukul kepala laki laki ini, jika saja tangannya tak di kunci oleh harus. "Udah ikut aja, nanti biar aku ceritain," bisik Haris membuat Arnita mengangguk.


"Ah iya maaf, soalnya tadi mau ngantar berkas dulu," kata Arnita sedikit canggung. Musuh bebuyutannya ini memeluknya tepat di depan orang orang, membuatnya malu. Jantungnya sedikit berdebat di buatnya.


"Hm, ayo ke ruangan ku dulu, baru kita makan siang bareng," kata Haris menggandeng tangan Arnita.


"Tapi," Arnita tampak sangat bingung.


"Udah ikut aja," kata Chandra menggandeng tangan Arnita.


Arnita dengan terpaksa mengikuti Haris, yang notabennya adalah musuh bebuyutan. Mereka segera masuk ke dalam ruangan Haris. Sebelum Haris menutup pintu, ia sempat mengintip ke arah ruang bergerak, yang baru saja di naiki Fika. Terlihat jelas wajah masam Fika. Gondok dengan segala masalah yang terjadi.


"Pedut kenapa sih? aku mau makan tau," kesal Arnita setelah Haris menutup pintu dengan rapat.


"Iya entar aku pesnin, duduk yang benar," Haris segera mengeluarkan ponselnya, mengirim pesan kepada pegawai yang biasa membawakannya makanan.


"Bentar," Haris masih asyik mengetik di ponselnya. Arnita yang melihat teropong, segera mengambilnya dan meneropong apa saja yang ada di bawah.


Arnita membulat seseorang tampak sedang mencoba mengempiskan mobil hitam mewah di samping mobilnya. "Hi ngapain tu satpam ngempisin mobil orang, ga becus tu satpam," pekik Arnita, membuat Haris tersenyum puas.


"Berarti kerja mereka bagus," ucap Haris segera mengangkat Arnita ke mejanya.


Badan Arnita yang mungil, memudahkan Haris mengangkat tubuh gadis tersebut. Arnita terkejut, tak sempat protes. "Badan 'mu berat ya, nipu nih badan."


"Ih apaan sih, memangnya badan'ku seringan kapas?" Arnita jelas protes di buat Haris.


"Tidak juga. Badan'mu menipu," ucap Haris tersenyum di hadapan Arnita.


"Dasar menyebalkan," gerutu Arnita, segera mengalihkan pandangannya. Sejak dulu tatapan Haris yang tajam tersebut yang ia hindari.


Arnita kembali mengenakan teropongnya, ke arah mobil tersebut. Ah ke empat bannya sepertinya yang di kempiskan. "Kok gitu? Mereka ngapain?"


"Lagi menjalankan perintah 'ku, untuk mengerjai dedemit ulat keket biang bibit pelakor," ujar Haris tersenyum sembari memandang ke arah kaca luar.


"Siapa?" Arnita tampaknya tak menyadarinya.


"Yang tadi akan masuk ke dalam lift bersama 'mu," ucap Haris tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Ih nona Fika maksudnya?" Arnita heboh sendiri, membuat Haris terkekeh.


"Iya, dia kenapa?" Haris kembali memandang ke luar jendela.


"Ya jangan di biarin dong, masa cuman di kempesin aja," ucap Arnita tersenyum licik.


Haris menggeleng, ini lah wanita ular yang selama ini di kenalnya, dan ia panggil kurcaci. Licik, dan berbahaya, jika berada di sisi yang berbeda dengannya.


Ah, tampaknya Fika akan berada dalam bahaya.


"Terus," Haris memindai bola mata Arnita, mencoba membaca pikiran gadis tersebut, namun tampaknya ia masih sama seperti dahulu, saat mereka berada di SMA. Lebih tepatnya ia tak dapat membaca pikiran gadis tersebut.


"Sebarkan makanan burung di atas mobil nenek sihir itu," ucap Arnita tersenyum puas, ia sudah dapat membayangkan wajah kesal wanita yang ia gelari nenek sihir.


Haris ikut tersenyum, sungguh mantap ide musuhnya ini. Untung saja kali ini mereka berdiri di garis yang sama. Sungguh akan merepotkan jika tidak.