SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Pulang



...Guys tolong budayakan like dan komentar ya, tahukah anda menurut nopidia memberi like dan komentar akan menambah semangat author untuk berkomentar....


Chandra dan Aliya saat ini tengah berada di antara ribuan masyarakat, yang menikmati keindahan kota Seoul, di malam hari. Mereka asyik dengan obrolan, sembari membeli beberapa makanan yang akan mereka cicipi.


Tangan kiri Chandra terus menggenggam tangan kanan Aliya, sementara tangan kirinya telah memegang kamera. Merak terus berjalan mengitari kawasan street food, yang telah ramai di datangi baik masyarakat sekitar, maupun para pelancong asing seperti mereka. Aliya yang tengah asyik melihat sekantong sedang plastik makannya, di kejutkan dengan seseorang yang bertabrakan dengan nya.


Ah, lebih tepatnya dirinya yang menabrak, karena tak memperhatikan jalan. Orang yang di tabrak tampak seperti bukan orang Asia, wajahnya dan postur tubuhnya, setra bola matanya yang biru, semakin menegaskan bahwa mereka bukan orang Asia, melainkan orang barat.


"Eh, thank you," kata Aliya salah ucap, membuat Chandra dan laki laki asing itu bingung di buatnya.


Aliya juga ikut bingung memandang mereka berdua, ah, tampaknya otak Aliya masih berada di beberapa penjual, yang menjual jajanan tadi. Lama Aliya berfikir memikirkan kesalahan nya, akhirnya dirinya menyadarinya.


"Ah, ghost. Thank you," kata Aliya lagi lagi mengulang kesalahan yang sama.


"Yeah," laki laki itu tampak bingung maksud Aliya, entah terimakasih telah di tabrak atau salah ucap.


"Eh, sorry sorry, I'm mean sorry," Aliya buru buru memperbaiki kata katanya agar tak menimbulkan kesalah pahaman.


"Oh iya ok," kata pria itu berlaku pergi meninggalkan Aliya yang menggaruk tengkuknya dan Chandra yang menahan tawanya.


"Hupf... Rumor 'ku hanya sebatas thank you, dan sorry," Chandra benar benar menertawakan ke loading an istrinya. Dirinya bahkan tak segan segan menoyor, kemudian merangkul pundak istrinya.


Aliya hanya menggosok bekas toyoran suaminya, sembari tersenyum malu, karena tadi sempat salah bicara.


"Gue lupa orang," bela Aliya menghilangkan sedikit rasa malunya.


"Yah parah, ga bisa bedain sorry sama thank you," Chandra tetap mengejek Aliya, hingga mereka sampai di salah satu bangku taman.


Chandra segera meletakkan kameranya di hadapan mereka berdua, dan mulai bercerita banyak hal, Chandra menceritakan keseruannya selama berada di kawasan street food tersebut, hingga kekonyolan Aliya saat di tabrak seorang laki laki, keturunan Eropa.


"Ya kan itu gue lupa tadi," kilah Aliya membuat Chandra terkekeh.


"Lupa gara gara sibuk mikirin makanan," kata Chandra mengejek Aliya. Aliya hanya bisa mengebikkan bibirnya, karena yang di katakan oleh Chandra memanglah benar adanya. "Lagian kok bisa nabrak?"


"Iya tadi gue lagi liat liat makanan di sekitar, di situ ada yang kelihatannya enak, rencananya gue mau beli. Tapi gue liat liat dulu bawaan, ternyata masih banyak banget, tapi yang itu enak banget kelihatannya," kata Aliya bercerita ke arah Chandra, sontak saja Chandra terkekeh geli mendengarkannya.


Benar pemikirannya, istrinya itu tak jauh jauh dari makanan. "Dasar tukang makan," Chandra menyibak rambut istrinya, ke belakang telinga. "Terus?"


"Pas gue mau ngadap depan, mau ngomong sama lo buat beli tu makanan, eh gue tabrakan sama tu bule. Karena pikiran gue tiba tiba terbagi tiga, eh gue salah sabut," kata Aliya mengerucutkan bibirnya.


"Dari pada gue mikirin cowok lain? Kan berabe, bisa bisa ada yang ngamok," jawab Aliya enteng. "Lagian kalau untuk gue itu, kampung tengah aman, semua aman."


"Awas aja lo mau mikirin cowok, di sini, sini ha," Chandra menepuk jidat tertutup poni Aliya, kemudian memegang kepala Aliya. "Cuman boleh mikirin gue," satu kecupan gemas mendarat di puncak kepala Aliya.


"Iya iya semerdeka lo, deh," kata Aliya hendak menyantap makanannya. "Kampung tengah kakak bawa makanan."


"Bismillahirrahmanirrahim."


Chandra terkekeh melihat tingkah istrinya, yang lama lama seperti seorang anak kecil. Semakin hari semakin menggemaskan.


......................


Hari ini Chandra dan Aliya bersiap untuk kembali ke Indonesia. Mereka bersiap siap, dan kini mereka sedang berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka mendarat dengan selamat di bandara Soekarno-Hatta. Jadwal keberangkatan mereka dengan Garuda Indonesia, dari jam tiga sore lewat lima puluh lima menit, dan kemungkinan sampainya di bandara Soekarno-Hatta jam sembilan lewat lima belas menit pagi hari.


Aliya segera mengencangkan sabuk pengamannya, karena sebentar lagi mereka akan segera mengudara, pemberitahuan telah di lakukan, pramugari cantik telah duduk di kursinya dengan mengenakan sabuk pengaman.


Dan akhirnya mereka mengudara dengan selamat, dengan Aliya dan Chandra yang mengenakan penutup telinga, demi meredam suara mesin pesawat dan tekanan udara yang tiba tiba berubah. Chandra memegang tangan Aliya, kemudian membuka penutup telinganya, dan juga milik Aliya.


Aliya merebahkan kepalanya di bahu suaminya, hendak tidur. Aliya memang suka tidur selama perjalanan, itu akan menyegarkan dirinya, menurut Aliya. Namun Chandra berbeda, dirinya lebih suka menikmati pemandangan yang hanya terlihat awan, dan langit saja. Chandra bahkan terkadang membaca dan menonton drama Korea tentunya, dari ponsel pintarnya.


Saat langit gelap, Chandra segera membangunkan Aliya untuk segera makan malam, yang telah di sediakan oleh pramugari. Aliya segera bangun dan menyantap makanannya, bersamaan dengan Chandra yang juga menyantap makan malamnya.


Setelah makan malam, Aliya kembali berbaring di samping Chandra, membuat Chandra memperbaiki duduknya agar Aliya tidur dengan nyaman. Barulah kemudian Chandra ikut terlelap sembari menggenggam tangan Aliya.


Tepat satu jam sebelum mereka sampai Chandra kembali membangunkan putri tidurnya, untuk sarapan. Aliya hanya mengangguk, dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai dengan urusan kamar mandinya Aliya duduk di samping Chandra dengan wajah basah, sehingga alis lebat nan rapi Aliya kini seperti tengah tauran. Kemana mana, untung Chandra sudah biasa melihat nya. Saat pertama kali melihatnya Chandra juga terkejut, namun memilih untuk menertawakan istrinya.


"Apa? Bersyukur gue punya alis, ga perlu di sulam sulam segal," Aliya tahu bahwa suaminya tengah menertawakan alisnya di dalam hati.


"Iya iya, ayo sarapan," Chandra segera mengalihkan pembicaraan mereka. Tampaknya Chandra lupa bahwa Aliya mampu membaca pikirannya, sehingga membuatnya tak bisa memikirkan hal yang macam macam. Satu macam saja Aliya sudah bisa deteksi, apalagi bermacam macam.


"Hm, jam delapan sekarang, satu jam lagi kita landing," kata Aliya melirik arlojinya. "HmGa terasa ya, dekat juga."


"Iya lo sih tidur mulu, jadi terasa dekat, coba nikmati pemandangan yang ada," kata Chandra segera menyuapi dirinya sendiri makanan.


Aliya mengerutkan keningnya dan memandang ke luar jendela. Semakin mengerutkan keningnya.


^^^Apaan cuman ada awan sama langit, kali kali ada burung. Kalau gue jadi burung pun, gue hinggap di atas, numpang kan bisa hemat tenaga, yang tadinya untuk terbang, bisa gue pakai untuk nyari makan.^^^