
Chandra baru beranjak dari tempat tidur, hendak melanjutkan pekerjaan nya, ketika Aliya baru saja tertidur. Sebab Chandra tak ingin Aliya merasa tidak di perhatikan. Nyonya Mona telah menasehati putranya, untuk memberikan perhatian yang ekstra. Karena biasanya wanita hamil itu butuh perhatian uang lebih.
Chandra akan membangunkan Aliya setelah makanannya telah datang, sementara dirinya harus berkerja. Chandra harus menyelesaikan pekerjaan nya hari ini, agar punya waktu membantu Aliya, mengerjakan pekerjaan kantornya.
Pintu ruangannya terbuka, memperlihatkan Haris tengah menenteng dua buah paper bag, yang Chandra yakini merupakan pesanan istrinya, yang tampaknya memang tengah ngidam. Untung saja istri cantiknya itu mengerti keadaan Chandra, jadi Aliya hanya meminta Haris saja, yang sebenarnya pekerjaannya tak kalah banyak di banding Chandra.
"Letakkan di atas meja saja," kata Chandra kembali memandang berkas yang sangat membosankan ini, untung saja istrinya di dalam, setidaknya kalau lelah akan ada tempat untuk di peluk.
"Hm tuan, di luar ada utusan dari antara group," Haris memandang tuannya seolah mengunggu jawaban dari tuannya.
"Suruh masuk," jawab Chandra enteng, sembari menyingkirkan beberapa berkas di atas mejanya.
Haris segera melangkah lebar, dan membuka pintu. Bayangan Haris tak kini sudah hampir menghilang di balik pintu yang terbuka. Tak lama kemudian pintu tersebut semakin membuka lebar, membuat Chandra segera memandang ke arah pintu. Chandra segera berdiri, bersiap untuk menyambut tamu nya.
"Selamat siang ibu," sapa Chandra santai, sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan wanita itu.
"Kamu lupa lagi ya dengan aku?" Wanita itu justru mengabaikan sapaan hangat dari Chandra, dan berbicara dengan topik lain, seolah mereka pernah bertemu.
"Mohon maaf, memangnya kita pernah bertemu?" Chandra mengerutkan keningnya, merasa tidak pernah bertemu sebelumnya.
"Ah rupanya lupa ya?" wanita itu menggeleng tidak percaya. "Ok, ingat namaku Fika, dulu kita teman satu kelas, selama tiga tahun berturut turut."
Chandra hanya mangut mangut, ingatannya melayang kepada wanita yang di tabrak ya kemarin, saat menebus obat bersama Aliya. Ingatan Chandra kembali lagi, ketika istrinya itu menampakkan ketidak sukaan kepada wanita yang ada di hadapan nya saat ini.
"Oh, mohon maaf saya lupa, ya langsung saja," Chandra sedikit datar, mencoba memberi jarak secara halus kepada Fika.
"Ah, saya ak..."
Haris tiba tiba mengetuk membuka pintu, dan menunjukkan paper bag, beserta seorang office boy yang mengantar minuman, dan makanan ringan.
Fika tersenyum ke arah kedua laki laki itu, mengira Chandra sengaja mempersiapkan semua itu untuk dirinya. Ah, pikiran Fika mulai menghalusinasi. Ayolah Fika memang siapa dirimu?
Office boy tersebut, segera meletakkan nampan, membuat Chandra mengangguk. lelaki itu kemudian meninggalkan tempat tersebut sembari tersenyum, sudah biasa baginya melakukan hal itu.
Fika tersenyum melihat paper bag tersebut, ia fikir itu untuk makan siang mereka. Chandra menyadarinya, segera memanggil Haris kembali.
"Ya tuan?" Haris segera berdiri di samping Chandra siap menerima perintah.
"Nona Fika anda belum makan siang?" Chandra bertanya kepada Fika. Sontak saja gadis tersebut semakin besar kepala, karena Chandra menanyakan hal yang memang di tunggunya.
Dasar ulet bulu, bibit unggul pelakor, mau di giring di ladang ranjau sama nyonya muda? Umpat Haris di dalam hati.
Fika akan dengan senang hati jika di ajak Chandra untuk makan siang, persetan dengan istilah pelakor. Yang penting dirinya mendapatkan Chandra, lelaki yang memang sudah menjadi incarannya sejak SMA. Tak mungkin kesempatan sekarang akan di lewatkan nya. Ah, tidak! Tidak akan, ini terlalu berharga bagi Fika.
Jika dulu dirinya hanya menyapa saja tak bisa, kini mereka akan bekerja sama, dan akan banyak waktu berdua. Ini adalah kesempatan emas baginya, tak sia sia ia bergadang hingga larut malam, demi tender ini. Hasil memang tak pernah membohongi kerja keras, di tambah dengan bonus mendekati Chandra, meskipun notabennya suami orang.
"Ah jika begitu kebetulan sekali, Haris juga belum makan siang kan? Dia akan menemani anda nona."
Jder.
Bak terjatuh di antara rimbunan pohon yang penuh dengan salju tebal. Tidak sakit, namun dingin hingga membuat sekujur tubuh membeku, rasanya akan ma ti saja. Fika membeku mendengar kata kata Chandra. Bukan bukan ini yang ia mau, ia ingin makan siang bersama Chandra, bukan sekertaris nya yang tampak kaku dan dingin, satu spesies dengan laki laki incarannya. Namun hanya beda di bagian profesi.
"Kamu ga makan Chandra?" Fika bertanya dengan tersenyum, menyembunyikan kekecewaannya.
"Makan," jawab Chandra sekenanya, membuat Fika mengerutkan keningnya.
Jika Chandra memang makan, lalu kenapa ia meminta asisten nya untuk menemani dirinya? Apa Chandra suka makan sendirian seperti SMA dulu?
"Kamu ga berubah," Fika tersenyum, mengira tebakannya benar. Sekaligus membuka masa lalu saat di SMA. "Kamu suka makan sendirian."
Chandra mengerutkan keningnya, dirinya baru ingat bahwa dulu mereka satu kelas. Namun Chandra tak suka dengan tingkah gadis ini, seolah mereka sangat mengenal satu sama lain.
Aliya yang baru saja terlelap, tiba tiba ingin buang air kecil, ia mendengar suara berbincang bincang. Aliya mengerutkan keningnya, sepertinya ia kenal dengan suara wanita itu. Ah, iya itu bibit pelakor, yang akan ia basmi secara perlahan.
Aliya tersenyum mengusap lembut perutnya. Jangan seperti dia ya nak, suka sama punya orang. Gumam Aliya kemudian membenahi dirinya di depan cermin besar.
"Cantik."
Aliya segera keluar dari kamar rahasia mereka, Chandra melirik ke arah Aliya sebentar, namun sepertinya Fika tak menyadarinya. Fika terus melanjutkan pembahasan mereka, dengan sesekali tersenyum manis ke arah Chandra.
Chandra hanya menanggapinya acuh, membuat Aliya tersenyum menggeleng ke arah Fika. Ah, perilaku kebanyakan wanita jaman sekarang, jika sudah menyukai sesuatu, pasti akan di incarannya, meski milik orang lain.
Saat selesai membicarakan tentang pekerjaan mereka, tampaknya Fika belum puas jika tidak menanyakan lagi tentang makan siang. "Jadi Chandra kamu tetap mau makan siang sendirian?"
Chandra menghela nafas, terlihat jelas keningnya mengerut menanggapi pertanyaan dari Fika. Dapat Aliya dan Haris lihat wajah ketidak nyamanan Chandra. Berbeda ketika bersama dengan Aliya dulu, Chandra memang terpaksa, namun dia tidak terganggu. Chandra tetap bisa menikmati keadaan meski terkadang mereka lebih sering adu mulut.
"Saya tidak mau makan bersama dengan anda, bukan berarti akan makan sendirian," Chandra menjeda kata katanya. Chandra segera memandang ke arah Aliya. Aliya yang mengerti maksud Chandra, segera berjalan ke arah Chandra. "Saya makan bersama dengan istri saya."