
Malam ini Fika benar benar kesal di buat oleh jaket yang ia kenakan, entah siapa yang harus ia marahi, Haris? Laki laki itu bilang bukan dari dirinya, namun laki laki itulah yang menjadi biang masalahnya. Sensasinya jaket itu tidak di berikan kepada dirinya, maka semua ini tidak akan terjadi. Fika menggeram kesal.
Baik lah jika tidak bisa cara halus, maka aku akan menggunakan cara lain. Jika perlu aku singkirkan setiap wanita yang berada di sampingmu. Fika.
Fika segera meraih ponselnya yang ada di saku celana, dan kemudian tampak menghubungi seseorang.
Jika dulu aku yang sial hendak berdekatan dengan Chandra, maka kini wanita sia lan itu yang akan merasakannya.
"Halo," telfon di seberang sana sudah terangkat.
"Halo," Fika menjawab sapaan orang di seberang sana.
"Ada apa? Ada sesuatu yang penting?"
"Iya, kalau begitu untuk apa aku menelepon mu?" Fika menyeringai, sudah ia bayangkan asap yang akan ia lakukan. "Aku memiliki tugas untuk mu, akan ku kirim fotonya, tugas mu adalah membuatnya celaka, terserah buat dia keguguran hingga ma ti pun aku tak perduli."
Fika sangat menggebu gebu ketika mengatakan hal tersebut, sembari bercermin di meja riasnya. Wanita itu tersenyum, sesekali meringis merasakan kulitnya masih saja gatal, padahal wanita itu baru saja mandi, dan dirinya masih menggunakan handuk kecil yang ia lilitkan di tubuhnya.
Fika segera mengenakan melihat setiap ruam di kulitnya semakin membuatnya menggeram, ia tak perduli lagi. Jika cara lembut ia terus mendapatkan si al, maka dirinya akan menggunakan cara kasar. Ia akan menghalalkan segala cara, jika perlu menyingkirkan wanita yang ada di samping Chandra.
"Baiklah, mari kita lihat dulu. Setelah itu aku akan menghubungi mu."
"Bagus aku akan mengirim fotonya sekarang," ucap Fika menyeringai di hadapan cermin, ia cukup puas dengan apa yang akan terjadi. Fika kemudian cepat cepat mengirimi laki laki itu foto. Di dalam foto itu tampak jelas Aliya yang tengah tersenyum. Foto itu ia ambil dari laman foto sosial media Chandra. Saat itu Fika terbakar, namun tak dapat berbuat apa apa.
Setelah mengirim foto tersebut, Fika segera berdiri menuju lemari, dirinya segera memilih pakaian, dan segera mengenakannya. Pakaian dengan linger yang seksi. Fika melirik jam dinding, tampaknya sudah hampir jam sebelas malam, Fika tersenyum. Fika segera berjalan ke arah kamar anaknya, Fika melihat anak kecil yang tengah tertidur pulas, kemudian ia berjalan dan mendekati anak itu, mengecup keningnya.
"Selamat malam sayang," Fika kemudian segera keluar dari kamar anaknya.
Tiba tiba tangan kekar memeluk Fika dari belakang, Fika tersenyum melihatnya. Ia tahu siapa yang melakukannya, siapa lagi jika bukan anak tirinya.
Fika dulu terpaksa menikah dengan seorang duda tua, demi menyelamatkan perusahaanya, namun siapa sangka duda itu memiliki anak yang tampan dan juga mempesona.
Flashback.
Setelah melakukan akad, Fika segera berjalan menuju kamar pengantin, Fika sangat sedih hatinya hancur kala harus menerima pernikahan ini. Namun apa yang harus di katakan, ia Harus melakukan ini demi keselamatan perusahaan yang hampir di ambang kebangkrutan.
Lama Fika menunggu di dalam kamar, tampaknya laki laki itu tak kunjung datang, Fika kemudian segera beranjak menuju kamar mandi, dan membersihkan diri. Fika segera mengenakan pakaiannya, dan segera beranjak ke tempat tidur.
Baru saja ia akan tidur, tiba tiba ia merasakan tangan hangat mengusap usap perutnya. Fika kaget bukan kepalang, ia sangat takut laki laki tua itu akan melakukan aksinya malam ini. Fika merasakan benda hangat terus menerpa kulitnya, terlebih ini kini kulitnya terasa basah. Fika memberanikan diri untuk membuka matanya, dan alangkah terkejutnya ketika dirinya melihat bukan laki laki tua yang ada di atasnya, melainkan laki laki muda yang mempesona, Fika sedikit tertegun, hingga akhirnya laki laki itu segera menghisap buah da da nya.
"Agh," Fika mengerang merasakan sensasi baru tersebut. Fika segera memandang ke arah pria tersebut, dan mendapati dirinya tengah setengah te lan jang. "Si siapa... Agh kau," rintih Fika di sela de sa han nya.
"Ke kemana dia?" Fika sangat gugup ketika mata mereka bertemu.
"Dia? Dia pasti sedang berada di kantor, kau tahu? Dia itu gila kerja," ucap Alex tersenyum. "Mari kita lihat apa yang aku dapat di sini."
"Agh..." Fika kembali melenguh ketika tangan Alex meremas buah dadanya dengan sedikit keras. "Ja ja jangan."
"Kau sangat menggairahkan sayang," ucap Alex kembali menjilati dagu Fika. "Kau akan menjadi kekasih ku di ranjang sayang, karena papa akan sangat sibuk untuk hal ini."
"Kau fikir aku ini apa?" Fika sangat kesal di buatnya.
"Ayo lah," ucap laki laki itu, mulai menyusupkan tangannya di dalam celana tidur Fika. "Besok kau tidak usah pakai pakaian dalam ya, itu akan lebih seksi di mata ku."
"Kau kau gila," umpat Fika membuat laki laki itu menyeringai. Tangannya segera mengusap pangkal paha Fika, dan mengenai area sensitif Fika. "Apa ya..."
Laki laki itu segera membungkam mulut Fika dengan bibirnya, sementara tangannya terus bermain di bawah sana, tangannya ia masukkan ke dalam ****** ***** Fika, dan mulai mengusap lembut celana area sensitif Fika.
Basah. Alex bergumam di dalam hati.
"Mh," Fika melenguh nikmat ketika tangan laki laki itu masuk dan memijatnya secara perlahan. Laki laki itu menyeringai ketika melihat Fika menikmatinya. Tangan yang satunya tak tinggal diam, dirinya segera memainkan buah da da Fika, memerasnya dengan gemas.
Tin Tin.
Tepat bunyi klakson mobil tersebut terdengar, Fika mencapai puncaknya, Alex menyeringai melihat wajah memerah Fika. Ia kemudian segera mengeluarkan tangannya, dan menjilatinya dengan perlahan memandang ke arah Fika, dan memastikan tidak ada jejak di sana.
"Aku akan membuat mu lebih puas dari ini sayang, papa ku sudah tak sanggup lagi melayani mu. Setelah kau puas dengan papa maka datang ke tempat ku, atau foto tubuhmu akan tersebar kemana mana," ucap Alex segera meninggalakan Fika. "Ganti pakaian dalam mu, papa akan curiga."
Fika menurut saja, dan mengganti pakaiannya. Fika sangat gugup. Setelah berganti pakaian dalam, Fika segera membuka pintu kamar yang di ketuk beberapa kali.
"Maaf ketiduran," ujar Fika sedikit gugup.
"See papa? Makanya jangan terlalu gila kerja, kan ada aku pa," ucap Alex mengedipkan mata ke arah Fika.
"Kamu baru balik dari luar negri Lex. Ya udah kamu istirahat dulu, papa juga mau istirahat," ucap papa Alex, yang kini masuk ke dalam kamar, dan segera menuju kamar mandi.
Fika hendak menutup pintu, hingga akhirnya di hentikan oleh Alex. Alex segera menarik tengkuk Fika, dan me lu mat bibir Fika sebentar. "Kau sebentar lagi akan hamil, tetapi bukan anak laki laki tua itu, tapi anak ku. Kau tahu spermanya sudah tidak berfungsi lagi."
Laki laki itu berlalu, dan Fika segera menutup pintu kamar, menelan ludahnya kasar. Dirinya masih tidak menyangka tentang kejadian yang sangat mengenakkan tadi, bersama Alex.