
"Chandra lo marah ya sama gue? Gue minta maaf."
Chandra menghentikan langkahnya, kemudian segera berbalik arah ke pada Aliya, Chandra memandang kesal ke arah Aliya, sontak saja Aliya menghentikan langkahnya. Bukannya menyadari kesalahannya, Aliya semakin bingung di buatnya. "Curut kenapa sih? Bingung deh."
"Sini lo, ngapain lo masih berdiri di situ cepat masuk," perintah Chandra masih mempertahankan wajah garangnya. Ah, bukan garang namun cemberutnya, bahkan kini Chandra mengerucutkan bibirnya karena kejadian tadi. Setelah masuk Chandra segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur, dan menarik selimut hingga ke atas.
"Sayang curut gue, lo kenapa? Lo lagi kesal ya?" Aliya mencoba membujuk Chandra, bahkan kata kata yang sulit untuk di katakan, kini terucap, 'sayang.'
"Engga," kilah Chandra dari balik selimut, sembari menutup matanya. Meredam kekesalan mengingat kejadian tadi, yang menyesakkan dada. Padahal mereka hanya saling bertegur sapa, namun sapaan mereka tidak di mengerti Chandra, dan membuat Chandra kesal. Kesal entah cemburu, atau kesal karena geram tak mengerti.
"Iya lo kesal kan sama gue?" Aliya kembali mencoba menebak isi kepala Chandra yang tertutup oleh selimut. Chandra bahkan kini merasa kepanasan di balik selimut. Untung saja detik berikutnya Aliya membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Chandra.
"Engga ya engga," kesal Chandra kembali menutupi dirinya dengan selimut, ah gengsi memang mengalahkan segalanya. Sehingga dirinya dengan segala kepanasan yang terjadi, memilih untuk kembali mengukus dirinya.
"Ya udah engga, tapi buka selimut dulu dong," pinta Aliya kembali mencoba membuka selimut.
"Ga mau," ah, dasar egois, dan suka sekali mempertahankan gengsi, meskipun sudah bercucuran keringat, di balik selimut. Chandra tetap mempertahankan selimutnya.
"Coba buka dulu," pinta Aliya kini sudah mengenakan tenaganya untuk membuka selimut sang suami.
"Ga mau, di bilang ga mau ya ga mau," Chandra kesal mempertahankan selimutnya demi gengsi. "Ngerti ga sih?"
"Iy, ya udah, kalau ga mau buka ga usah," akhirnya Aliya mengalah kepada Chandra, yang keras kepalanya seperti batu, ah memang Aliya pernah mencoba dan mengukurnya? "Sini peluk dikit," Aliya kembali meminta Chandra untuk memeluknya.
"Ga usah peluk aja sana cowok Korea sok kegantengan itu," kesal Chandra akhirnya keceplosan dengan sumber kekesalannya, yang berujung pada panggangan selimut hangat, yang kini memanas.
"Siapa? Jeong maksudnya?" Aliya berusaha menabrak siapa laki laki itu.
"Engga tau, ga mau tau," kesal Chandra sembari melempar selimut yang tadi menyelimutinya. Chandra benar benar tak suka Aliya menyebut nama itu dari mulut manis Aliya.
"Kenapa? Tadi lo marah karena gue cuekin?" tebak Aliya. Dan ya, tepat sasaran. Chandra memang kesal karena di cueki, namun kekesalan Chandra lebih kepada menjurus yang lain.
"Tau pikir sendiri," kesal Chandra hendak memaki wanita super tidak peka itu. Namun jangankan memaki, bahkan kini Chandra tak punya hal yang bisa di lontarkan untuk wanita yang tidak peak itu.
"Iya tapi kamu jangan ngambek gini dong," Aliya segera menyusup ke dalam dekapan Chandra, sembari memeluk Chandra erat.
"Ga, ga ada gue ngambek," kilah Chandra mengalihkan perhatiannya, memandang yang lain, Chandra tak ingin Aliya melihat wajah nya yang bersemu merah.
"Iya lo ga ngambek tapi cuma kesala," jawab Aliya mengalah berdebat, akhirnya memilih untuk memainkan dagu tanpa bulu Chandra, sembari mengetuk ngetuk tak jelas.
"Siapa yang bilang kesal?" Chandra justru semakin kesal di buatnya, namun tetap membiarkan Aliya memainkan dagunya.
"Jadi lo kenapa? Lo cemburu?"
Ah, tepat sasaran, Aliya tepat mengenai kepala isi kepala Chandra, namun bukan Chandra namanya kalau tidak bisa berkilah. Bukankah Chandra itu raja berkilah?
"Ga, ga ada, buat apa?" Tuh kan, Chandra si raja berkilah kini menunjukkan bakat berkiprahnya, yang tidak ada apa apa nya dengan ratu somplak, yang kini menjadi permaisuri dirinya.
"Tau ah, ga minat gue," Chandra Kemabli lagi mengalihkan perhatiannya, mencoba mencari hal menarik lainnya. Takutnya nanti dirinya tak jadi marah, dan justru luluh dengan tingkah laku istrinya.
"Lo kenapa sih? Makan dulu yuk," Aliya segera mengajak Chandra untuk mengisi perut, dengan makan siang bersama di ruang makan. "Ngambek butuh tenaga loh," goda Aliya segera mencoba melepaskan diri dari Chandra.
"Iya suka suka lo," Chandra mendelik melihat Aliya, tak suka dengan godaan Aliya.
"Makan dulu, nanti baru marahnya."
Akhirnya setelah seribu satu bujukan dari Aliya, akhirnya Chandra bersedia ke ruang makan, membuat Aliya tersenyum puas.
"Kutil gantengan gue apa si Jeong?" Chandra tiba tiba berseru, membuat Aliya terbatuk terkejut, mendengar pertanyaan dari Chandra.
"Ha?" Aliya terkejut, sembari segera meminum air putihnya.
Aduh ada apa lagi dengan si curut ini? Gue harus jawab apa ya? Aliya mengeluh di dalam hati.
"Hm, gantengan lo lah dari mana mana," akhirnya Aliya memutuskan untuk memuji Chandra, sembari tersenyum setulus mungkin.
"Jangan bohong, nanti masuk neraka baru tahu. Membohongi suami," kesal Chandra, karena merasa ada kebohongan di balik kata Aliya.
"Ya Allah, ga bohong curut ganteng gue. Emang ada yang bisa ngalahin persilangan Eropa X timur tengah, dan akhirnya jadi Turki. Kemudian Turki ini kembali kawin silang atau persilangan, antara Turki dan Indonesia? Ya ga lah," jawab Aliya enteng, seolah itu adalah sesuatu yang benar benar, sebuah kebenaran. Tapi bukankah persilangan antar kedua negara itu, tak pernah menghasilkan bibit gagal?
Chandra tersenyum senyum mendengarkan kata kata Aliya, yang jika di dengar sekilas memang membuat kita merasa sangat bahagia, namun di balik itu semua, terdapat pencemoohan dari dalam pikirannya untuk Chandra.
^^^Untung dia masih polos polos manja dengan kata kata yang terdengar manis, tapi mencemooh kan. Gumam Aliya di dalam hati.^^^
"Istri gue manis banget sih mulutnya," Chandra mencuil gemes dagu Aliya.
Ah, tukan Chandra tersanjung mendengar kata kata yang lebih tepatnya untuk para kucing anggora, yang di kawinkan.
Aliya terkekeh mendengar pujian suaminya, membuat dirinya tampak akan aman dari acara ngambek suami sablengnya.
"Kutil, gue nanti boleh minta ga? Soalnya lagi pengen," Chandra menarik turunkan alisnya sembari tersenyum me*sum di hadapan Aliya.
^^^Giliran gini aja, langsung. Dasar sableng. Kesal Aliya mencoba tersenyum, agar suaminya tak lagi kesal.^^^
"Boleh kan?" Chandra mencoba untuk menampakkan wajah imutnya.
^^^Emang ga ada imut imutnya, untung lo ganteng, kalau ga udah gue coret lo dari daftar suami gue. Kesal Aliya dengan berpura pura tersenyum manis.^^^
"Iya boleh kok," oh Aliya, sungguh dirimu menang bisa bermuka dua.
Ah, tapi othor kira si Al juga menyukai ritual sucinya. Kegiatan yang menguras tenaga dan sungguh enak.