SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Kegelisahan Haris



Cinta memang tak pernah bisa di tebak kepada siapa akan berlabuh, oleh karena itu kita dilarang untuk terlalu membenci, karena cinta dan benci hanya di pisahkan oleh lapisan tipis dan mudah pecah.


Seperti itulah yang saat ini di rasakan oleh Haris. Kebenciannya dulu terhadap Arnita, yang ia anggap sebagai wanita pembawa masalah untuknya, kini telah melampaui batas, dirinya menerobos dan memecahkan dinding tersebut. Hingga kini dirinya di penuhi oleh cinta, di kuasai cinta, dan membuat hatinya selalu tertuju kepada musuh bebuyutannya, yaitu Arnita.


Di hari minggu yang sangat menyenangkan untuk orang orang, kini menjadi sangat kelabu. Hati Haris sakit, kecewa.


Kecewa pada diri sendiri, mengapa ia begitu ceroboh. Hingga menyebabkan dirinya akan kesulitan mendapatkan restu. Sakit melihat Arnita berjalan dengan seorang dokter muda. Haris terus merutuki kekesalannya. Menenggelamkan wajahnya di bantal kamarnya.


Banyangan Arnita terus melintas di benaknya. Semakin menguatnya frustasi. "Nita, Nita, Nita, kenapa aku menyukai mu? Bahkan belum di mulai saja perjuangan ku, sudah mendapat rintangan yang besar."


Sementara di bawah pak Shing dan mama Wanda baru saja menyegarkan badannya, kini tengah duduk di atas ranjang. Membicarakan masalah Haris putra mereka satu satu nya.


"Ck, Haris itu turunan siapa sih? Kok sebegitu no*doh nya, masa tidak menyelidiki tentang wanita yang di sukai nya. Mana di telah berkata kasar kepada kakak dari gadis itu," umpat pak Shing menggaruk kepalanya yang masih basah.


"Anak bapak nya lah," kesal mama Wanda. "Lagian papa lupa, papa dulu juga begitu."


"Kapan baba tidak begitu," pak Shing sewot sendiri mendengar ucapan mama Wanda.


"Oh ya? Yang dulu mukul abang mama siapa? Gara gara mengira mama selingkuh, dan nyeret mama untuk pulang ke rumah, untuk minta di nikah kan siapa?"


"Mah itu ga sama, mama kan dulu tidak pernah cerita ke baba," kilah pak Shing. Diam diam pak Shing merutuki kekonyolannya dulu, karena di rundung cemburu yang berlebihan, hingga membuatnya kesulitan mendapatkan restu.


"Sama saja, papa kan ga pernah nanya," ujar mama Wanda. "Papa dulu gimana dapat restu nya?"


"Ya melakukan pendekatan, melakukan semua yang di perintahkan abang mama. Ah, badan baba pegal semua," ujar pak Shing, membayangkan sulitnya dirinya mendapatkan restu dulu.


"Terus kenapa itu tidak di pakai Haris juga?" mama Wanda memberikan idenya.


"Nah tu kan mama, habis di suntik vaksin langsung encer otaknya," ujar pak Shing menggoda mama Wanda.


"Apaan sih pa, tidak jelas sekali," mama Wanda menyembunyikan wajah memerahnya, dengan mengalihkan pandangan. "Terus kesulitan lainnya apa?"


"Wanita itu, belum menyukainya,* ujar pak Shing memeluk mama Wanda, dan menciumi pipi istrinya.


"Gampang, seperti yang di film Bollywood yang mama tonton. Kita sewa saja penjahat, kemudian berpura pura menyerang Juwita, kemudian Haris datang sebagai pahlawan, dan akhirnya mereka pun hidup bahagia selamanya," ujar mama Wanda.


"Apa sih papa vaksin vaksin tidak jelas sekali sih papa," ucap mama Wanda segera keluar dari kamar.


"Cie elah, malu malu kayak anak perawan aja," gumam pak Shing, segera menyusul istrinya keluar dari kamar.


Pak Shing melihat mama Wanda tengah duduk memakan cemilannya, sembari menonton TV, membuatnya ikut duduk di samping istrinya. Pak Shing segera merebahkan kepalanya di pundak mama Wanda, dan di saat yang bersamaan Haris turun dari lantai dua.


^^^Cih, sudah tahu anaknya tengah galau, ini malah berduaan, mesra mesraan. Kalau mau mesra mesraan sana di kamar kalian, merusak pemandangan mata ku yang suci ini.^^^


Haris mengumpat kelakuan kedua orang tuanya, yang kadang tak tak tahu tempat. Haris segera melangkah kan kakinya menuju dapur. Perutnya lapar belum terisi.


"Bik tolong siapin makan," ujar Haris kepada asisten rumah tangga, yang bekerja di rumahnya.


Wanita paruh baya itu mengangguk, kemudian pergi ke dapur mempersiapkan makanan untuk tuan mudanya. Haris terus saja mengetik di ponselnya, ingin meminta bantuan kepada bos nya, namun dirinya sedikit ragu.


Haris kemudian membuka kontak Arnita, ia mulai mengetik, hendak meminta maaf, pasal kejadian tadi.


...Nit aku minta maaf, tolong jangan marah padaku, aku akan menemui kakak mu, untuk meminta maaf. Aku akan melakukan segalanya agar dia mau memaafkan ku....


Haris segera mengirim pesan tersebut kepada Arnita.


"Den ini makan nya," wanita itu segera meletakkan makanan Haris, tepat di depan Haris.


Haris mengangguk, Haris segera menyantap makanan tersebut sembari memainkan ponselnya, menunggu Arnita membalas pesannya. Namun sepertinya pesan tersebut tak kunjung di baca. Haris kembali mengirimi pesan kepada Arnita.


...Nit aku benar benar minta maaf atas kelancangan ku....


Haris terus mengirimi pesan, namun tampaknya tak juga ada balasan. Haris menghentikan makannya, yang Barus beberapa sendok itu, kemudian mencoba menghubungi Arnita. Arnita tak menjawabnya, membuat Haris semakin gelisah.


Haris segera mencari nomor ponsel Chandra dan mengirimi sebuah pesan untuk Chandra.


...Bos boleh minta tolong?......