SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Story of Harish



Haris baru saja pulang ke rumahnya, ia tak seperti anak muda yang lain, yang memilih untuk hidup sendiri di apartemen. Namun ia memilih untuk tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, dan dua orang adik nya yang kembar Tika dan Tiwi.


Keluarga yang cukup harmonis, dan lebih banyak berdebat itu kini tengah makan malam bersama, di meja makan. Haris sebenarnya malas untuk makan, entah kenapa sejak kejadian tadi pagi dirinya tak ada semangat sama sekali. Tika yang peka namun, jahil melihat keadaan kakaknya menjadi tersenyum senyum sendiri, dirinya dapat menduga pasti kakaknya punya masalah. Dan itu bukan masalah pekerjaan, pasti masalah lain.


Tika memutar otaknya, tampaknya ia harus mencari tahu tentang masalah kakaknya.


"Kak ga selera amat makannya, ada masalah ya?" Tika mulai membuka omongan dengan memancing suara kakak nya terlebih dahulu.


"Eh engga," Haris segera menyantap sedikit makanan tersebut, demi menghindari tatapan seluruh keluarga.


"Soalnya ga biasanya kakak gitu, kakak lagi ada masalah kayaknya. Masalah apa ya..." Tika tampak berfikir keras, dirinya ingin memancing saudara kembarnya yang tak kalah jahil dengannya.


"Masalah hati nampaknya, lagi putus ya?" Tiwi ikut bersuara semakin membuat Haris sedikit kalang kabut. Haris memilih untuk menyantap makanannya, dan menghindari pertanyaan dari Tiwi.


"Gimana mau putus orang pacar aja ga punya, nah kalau cewek yang di sukainya udah punya gandengan mungkin bisa jadi," ucap Tika meledek kakaknya.


"Enak saja, kakak tidak suka dengan si Minion, badannya kecil seperti anak SD, paling cuman 150 saja tingginya. Paling juga dia cuman di manfaatin sama lelaki jelek itu," Haris yang terpancing segera mengatakan hal tersebut, sontak saja membuat semu orang menahan tawanya, membiarkan Haris membuka rahasianya sendiri.


Ah, inilah kelemahan Haris, jika sudah dekat sangat dengan orang, maka ia akan lebih mudah membuka rahasianya tanpa perlu di tanya tanya. Karena itu Haris berusaha menutup diri, dan menutup pertemanannya. Dengan benteng dingin dan sok jaim. Namun jika sudah di hadapan keluarganya, maka ia akan berubah.


"Dasar kurcaci, aku jadikan pajangan di kamar baru tahu rasa, sok cantik sama sok imut, padahal baru dekat dengan cowok, dasar pendek," Haris terus saja mengoceh dengan sembari menusuk nusuk kan garpu ke arah lauk. Tika dan Tiwi sudah mulai cekikikan, tampaknya perkiraan mereka memang benar, bahwa kakaknya tengah jatuh cinta, namun sayangnya wanita incarannya sudah memiliki pacar.


"Tenang saja selama jalur kuning belum melengkung si pendek masih bisa di gilir ke gawang kita," ucap pak Shing dengan santai.


Pak Shing merupakan ayah dari Haris. Jangan di tanya dari mana anak anaknya mendapat sikap jahil itu, kalau bukan dari pak Shing, ayah mereka.


"Papa," Haris terkejut, ia baru sadar. Bahwa ia baru saja membuka rahasianya sendiri. Haris mendelik ke arah si kembar Tika dan Tiwi.


"Dasar T2," dengus Haris.


"Cukuplah saja berteman dengan ku jangan kau meminta lebih, kita berteman saja, teman tapi mesra," kedua gadis kembar itu segera menyanyikan lagu keluaran personil ratu dengan judul teman tapi mesra.


Nama mereka merupakan anugrah terbesar yang di berikan langsung oleh pak Shing, karena dirinya merupakan penggemar berat T2, karena itu ketika anaknya lahir kembar segera ia beri nama Tiwi dan Tika.


"Iya ma, kami tahu kok, suara kami seperti Kajol," ucap Tiwi cengengesan, mamndnag kakaknya tanpa merasa bersalah.


"Sudah ayo makan, dan kau kalau mau sama si pendek 150 besok kita susun rencana agar mereka putus, tenang saja masalah tikung menikung papa jagonya. Mama mu juga dulu papa tikung, tapi di pertiga malam," ucap pak Shing bangga, membuat Tika dan Tiwi mengacungkan jempolnya.


"Cih pertiga malam apanya, papa aja kalau subuh Haris di siram air Yasin dulu," ucap Haris berdecik di depan ayahnya.


"Ih kurang ajar, papa bangun di sepertiga malam, papa saja paling baru selesai olahraga malam," ucap pak Shing tanpa sensor, membuat istrinya segera mencubit pinggang pak Shing.


"Papa olah raga apa?" Tika dan Tiwi bertanya serentak, tampaknya pak Shing menurunkan sikap lupa keadaan ketika asyik berbicara kepada Haris.


"Push up," ucap pak Shing cengengesan, mengusap perut yang baru saja di cubit istrinya.


"Alah bohong paling juga molor, mana ada olah raga jam segitu. Kalaupun ada, mana mungkin perut papa hamil tiga bulan," ucap Tiwi tanpa sensor membuat tawa pecah seketika.


Pak Shing tidak marah, dirinya juga ikut tertawa, bersyukur anaknya tak bertanya lebih lanjut. Anaknya masih sekolah menengah, masih polos otaknya, kecuali persoalan duit kedua kembar itu sangat licik, dan matre.


"Tuju bulan lagi melahirkan, ayo kak kapan nikah susul papa," ucap Tika semakin membuat semua orang tertawa.


Usai makan malam Haris segera masuk ke dalam kamarnya, memikirkan tentang Arnita.


"Aggghhhhh, ini bukan cinta iya, pasti aku hanya terkejut, orang dia pendek kayak anak SD aja bisa laku, masa aku belum pacaran juga dari kuliah. Agh... Itu pasti, aku mana mungkin suka dengan si pendek, orang dia itu bukan sama sekali tipe ku, yang seperti Angelina Jolie. Ia itu pasti karena aku terkejut, iya itu pasti," gumam Haris mengacak rambutnya, menghadap ke arah balkon.


Tampa ia sadari ada dua pasang mata yang tengah mengintipnya dari balik pintu. Kedua pemilik mata itu cekikikan melihat tingkah Haris. Haris yang menyadari kehadiran kedua makhluk itu segera berbalik, dan memandang ke arah pintu.


"T2 kalian ngapain disitu," kesal Haris segera menutup pintu kamarnya, dirinya malu sendiri di buat kedua adik kembarnya itu.


"Cie yang lagi galau, kami bisa bantu kok, asal ada bayarannya," Tiwi masih setia cekikikan melihat tingkah kakaknya.


"Tidak tidak usah, kalian tidur sana, gangguin orang saja," Haris segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya, takutnya kedua setan kembar itu kembali mengganggunya.