SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Teror



Chandra datang membawa makan siang mereka ke dalam kamar, Aliya baru saja bengun tepat pukul satu siang hari. Semua orang di bawah sibuk membicarakan suara mbak Kunti, yang bersumber dari tv semalam. Sementara si pelaku, sejak pagi telah beranjak dari rumah mewah tersebut, bersamaan dengan kakek Rio. Rencananya mereka hari ini akan mengunjungi makan kedua orang tua Chandra. Mereka sengaja tak mengajak Aliya karena kondisi Aliya yang saat ini tengah hamil muda.


Aliya tampak masih enggan bangun, wanita cantik yang tengah hamil muda itu asyik memainkan ponselnya. Chandra mendekati Aliya, dan melihat wajah wanita itu sedikit mengkerut.


"Kenapa? Urusan kantor?" Chandra segera mengusap lembut wajah Aliya.


"Memangnya kenapa kalau urusan kantor? Tenang saja, gue punya suami super genius untuk itu," ucap Aliya terkekeh segera meletakkan ponselnya. "Malam kita tidur di lantai bawah aja ya."


"Eh kata maid di bawah lebih kencang lagi suara nya, jadi kita tidur di sini aja, tapi semua lampu di hidupkan," usul Chandra, dengan informasi yang tepat. Namun unsur yang salah.


Aliya mengangguk hendak mengambil alih nampan air yang di berikan Chandra, namun Chandra menahannya. "Biar gue suapin," ucap Chandra segera meletakkan nampan di samping tempat tidur.


Chandra dengan telaten menyuapi Aliya, dan Aliya dengan senang hati tentu saja menerimanya.


"Enak?" Chandra bertanya kepada Aliya, ketika suapan terakhir untuk Aliya. Aliya mengangguk, pasalnya di mulutnya masih penuh makanan. Chandra mengusap lembut pinggir bibir Aliya, kemudian mengecupnya. Setelah makanan di mulut Aliya habis, Chandra segera memberi Aliya air putih.


Setelah air putih tandas, Aliya menyerahkan gelas tersebut kepada Chandra, kemudian memeluk Chandra. Jika sudah begini Chandra hafal betul, pasti ada sesuatu yang membuat istrinya sedih.


"Kenapa hm?" Chandra mengusap lembut kepala Aliya mengecup puncak kepalanya sejenak.


"Hari ini tepat dua belas tahun meninggalnya papa sama Mama," ucap Aliya dengan sedihnya. Sejenak Chandra terdiam mengecup puncak kepala Aliya lama, hatinya bergetar terlebih ketika nyonya Mona menceritakan penyebab kepergian orang tua Aliya, untuk selamanya.


"Maaf," Chandra memejamkan matanya kuat kuat, tak kuasa menahan sesak di dadanya. "Seandainya waktu itu mereka ga nolongin gue."


"Kalau mereka ga nolongin Lo, gue ga ada jodoh dong," jawab Aliya, yang merasakan tubuh suaminya sedikit bergetar, menahan tangisnya. Aliya tak ingin suaminya terus merasa bersalah.


"Hm Iya juga sih, tapi gue minta maaf ya," Chandra yang mengerti maksud dari perkataan istrinya. segera memandang Aliya, dan mengecup seluruh wajah Aiyla.


"Hm, semua sudah takdir," ucap Aliya setelah Chandra mengentikan kecupannya.


"Lo tau ga? Semenjak gue tahu tentang orang tua lo, gue merasa bersalah sendiri," Chandra kembali membawa Aliya ke dalam pelukannya, kali ini Chandra meraih tangan Aliya, menggenggamnya erat, dan menciumnya dengan penuh cinta.


"Kenapa?" Aliya menyenderkan kepalanya di dada bidang Chandra.


"Lo ingat kan waktu lo nolongin gue mabuk? Gue sempat ngata ngatai lo, sama bokap nyokap lo," Chandra semakin menenggelamkan kecupannya ke jari jari Aiya. "Tiap kali gue ingat itu, gue selalu merasa bersalah."


"Hm, udah berlalu juga," Aliya mencoba menghibur suaminya.


"Iya lo yang kuat ya, kan udah ada gue yang bakal jagain lo," Chandra segera memandang wajah Aliya dengan dalam.


"Hm, pasti. Lagian kalau gue ga kuat, gue ga akan bisa jalanin sampai sejauh ini," Aliya meyakinkan kepada suaminya, agar laki laki yang tengah berada di hadapannya ini tidak merasa bersalah lagi.


"Hm, kan istri nya Chandra ini wanita terkuat, dan yang paling tangguh," ucap Chandra mengecup bibir Aliya.


"Iya dong."


"Buat apa?" Aliya kembali memeluk erat tubuh suaminya.


"Buat ngusir dedemit, biar nanti malam ga di ganggu mbak Kunti," jawab Chandra mengeratkan pelukan merek. Perut Aliya yang belum membesar, membuat Chandra masih leluasa mendempetkan tubuhnya.


"Hm jam Nita di undang juga ya, Angel kalau ga salah udah selesai juga UTS nya, Brayen sama Juwita juga kayaknya ga sibuk," usul Aliya, mendongak ke arah Chandra.


"Hm, ya undang aja," Chandra sedikit mentoel hidung mancung Aliya.


Saat menjelang sore hari, mereka segera turun, tampak sudah ada Angel, Juwita yang sepaket dengan Brayen, Haris dan Arnita.


"Baru bangun bos?" tanya Haris tersenyum ke arah Chandra.


"Iya semalam ga bisa tidur," jawab Chandra ambigu.


"Kak suami lo bisa di rem ga mulutnya? Aku ini masih polos loh," Aliya merengut memandang Chandra dan Aliya bergantian.


"Ck, kalian fikir kami ngundang pak ustadz komplek ini buat datang kesini, mau ngapain?" Chandra memandang kesal ke arah sahabat istrinya. "Tadi malam tu terdengar suara mbak Kunti."


Tiba tiba ada sebuah paket yang lumayan besar untuk Aliya, Aliya tersenyum melihatnya.


"Paket untuk Al ya bik?" Aliya bertanya dengan semangat.


"Iya non," ujar maid yang mengantar paket tersebut.


"Sini, kayaknya Al tau deh isinya apa," jawab Aliya sedikit bersemangat.


"Ini non," maid itu tersenyum, memberikan kado tersebut untuk Aliya


Aliya dengan santainya membuka kado tersebut di hadapan yang lain, Aliya tersenyum melihat bungkusan paket tersebut yang terlihat rapi. Chandra baru saja hendak membantu Aliya, ketika penutup jadi tersebut di buka.


Hoe... Seketika Chandra hendak memuntahkan isi perutnya, karena tak tahan melihat isi paket tersebut. Bagaiman tidak di dalam kotak hadiah tersebut, terdapat ayam yang telah mati, berlumuran darah.


"Bereskan," Aliya segera menyusul suaminya ke dalam kamar mandi. Aliya memijit tengkuk suaminya agar segera merasa baikan.


Chandra segera menutup pintu kamar mandi, dan membuka baju Aliya. Menempelkan seluruh wajahnya tepat di da da Aliya. "Hah leganya."


"Modus lo ya?" Aliya segera mencubit gemas pipinya.


"Engga, tapi kok lo biasa aja?" Chandra penasaran melihat wajah istrinya yang terlihat tak terkejut sedikit.


"Karena gue tahu itu dari siapa."