
Nyonya Mona, tuan Omer, dan kakek Rio yang baru saja tiba, terkejut melihat Chandra berlari, di susul Aliya, Chandra tampak baru saja menghempaskan sebuah kotak kado. Ketiga orang tua itu segera mendekat ke tempat kerumunan, yang tampak memasang wajah terkejut. Saat melihat isi kotak tersebut, mereka tampak ikut terkejut.
"Siapa pengirimnya?" Nyonya Mona memandang ke arah yang lainnya.
Mereka serentak menggeleng, berantem segera membawa Juwita ke dalam pelukannya. Mengecup lembut kepala Juwita. Brayen tahu pacarnya, yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu terkejut.
"Paket ini tadi katanya untuk siapa?" Kakek Rio terduduk di sofa terdekat, tak kuat melihat isi kotak itu lebih lama.
"Untuk Al kek," jawab Brayen.
Kakek Rio tampak mengusap kasar wajahnya, pikirannya ke mana mana, kakek Rio mulai memikirkan kemungkinan yang berbuat seperti ini, kepada cucunya.
"Perbuatan siapa ini?" gumam kakek Rio menutup matanya rapat rapat. "Apa yang kemarin melakukan penyerangan sebelum mereka menikah?" Kakek Rio mulai mencurigai Riky.
"Tidak mungkin tuan besar, menurut teman Al yang sedang tugas, saat ini Riky berada di USA, sedang melakukan tugas pengawalan. Dan dia sudah berjanji tidak melakukan hal itu lagi," Haris segera menjelaskan kepada kakek Rio.
"Lalu siapa? Pesaing bisnis?" kakek Rio memijit kepalanya yang terasa tidak sakit.
"Mungkin si nenek sihir," Arnita tiba tiba begumam membuat Haris memandang ke arahnya.
"Mengapa kau bilang begitu?" Haris memandang Arnita bingung.
"lalu siapa lagi yang mampu melakukan hal ini? Kalua bukan nenek sihir?" Arnita memandang Haris penuh keyakinan.
"Kau sangat yakin?" Haris memandang wajah Arnita dengan seksama, seketika jantung Haris kembali menunjukan respon yang aneh.
"Ya memang siapa lagi?" ucap Arnita, dengan santainya.
"Ya sih, tapi kan bisa juga dari pesaing bisnis, karena tahu nyonya Al hamil, jadi yang di teror nyonya Al," Haris segera mengalihkan pandangannya, memandang hal lain. Arnita pikir karena Haris tak percaya dengannya.
"Kan kehamilan nona muda di rahasiakan, sampai sekarang orang luar tidak ada yang tahu," sewot Arnita, wanita itu tak suka di remehkan.
Sementara itu di dalam kamar mandi. Chandra tengah baru saja mengangkat kepalanya, hendak memandang istrinya yang tengah berdiri di hadapannya.
"Engga, tapi kok lo biasa aja?" Chandra penasaran melihat wajah istrinya yang terlihat tak terkejut sedikit.
"Karena gue tahu itu dari siapa."
Chandra seketika memperbaiki pakainya istrinya, dan memandang seksama ke arah Aliya. "Siapa?"
"Nanti gue kasi tahu, sekarang kita keluar dulu, biar orang orang tidak panik," Aliya segera memperbaiki baju miliknya.
Chandra menurut, ia segera keluar dari kamar mandi, di susul istrinya. Chandra terlihat masih enggan mendekat karena melihat kotak tersebut masih berada di tempat tadi.
"Engga ma, tapi tadi Chandra muntah muntah," jawab Aliya tersenyum.
"Ya sudah, ini di bersihkan dulu, Bik tolong ya," nyonya Mona segera memberi perintah kepada asisten rumah tangga nya.
"Iya nyonya," jawab asisten rumah tangga yang membawa kado tadi, untuknya.
"Kalian ngapain ngumpul di sini?" Nyonya Mona baru menyadari kehadiran empat manusia yang di hadapannya.
"Oh mau do'a keselamatan, sambil ngusir setan," ucap Chandra menjawab kehadiran mereka.
"Setan?" Nyonya Mona tampak bingung mendengar pernyataan dari anaknya.
"Iya malam kemarin kami dengar ada suara mbak Kunti," jawab Chandra penuh keyakinan. "Bukan cuman kami yang dengar, tapi juga beberapa maid, yang kebetulan belum tidur."
"Masa sih?" Nyonya Mona segera mengusap tengkuknya, bertanda bahwa ia juga takut.
Tuan Omer memutar bola matanya dengan malas, Pasalnya itu adalah perbuatan istrinya. Yang sekarang tampak ikut takut juga. Tuan Omer menarik nafas dalam, kemudian menghelanya.
"Sebenarnya itu bukan suara Kunti, tapi itu suara tv kamar mama sama papa, pasalnya itu mama kalian ketiduran, terus remote nya ga sengaja di tindih mama kalian," jelas tuan Omer, membuat semua terkejut, kemudian memandang ke arah nyonya Mona.
"Mama," ucap mereka serentak.
"Ya mana mama tahu, mama juga ketiduran," elak nyonya Mona,
"Iya tapi ini pak ustadz nya gimana? Udah di panggil, makanan juga sudah tersedia," keluh Chandra. Laki laki itu memang menjadi lebih banyak mengeluh, dan bicara semenjak Aliya hamil anak mereka.
Chandra bahkan terkadang seperti ibu muda, yang juga tak bisa mencium bau aneh, bahkan akan muntah jika melihat sesuatu yang menjijikkan.
"Sudah, nanti kita berdo'a untukmu keselamatan Aliya, saja agar selamat hingga persalinan nanti," imbuh kakak Rio, yang baru di sadari oleh Aliya.
"Kakak," ucap Aliya mendekat ke arah kakek Rio.
"Sudah ya, nanti kita cari tahu, setelah itu kita beri dia pelajaran atas perbuatan mereka," kakek Rio mencoba menenangkan Aliya.
"Iya kek," Aliya segera memeluk kakek Rio, membuat Chandra juga ikut mendekat, dan ikut berpelukan.
"Hm mirip Teletubbies, mau juga," Arnita memecahkan momen haru tersebut, dengan celotehannya yang tidak jelas.
"Aku gundukkan kepalamu baru tahu rasa," ucap Haris kesal dengan tingkah Arnita. Arnita hanya mendengus kesal, mendengarkan ancaman dari Haris.