
"Nita," Haris mengulang nama panggilan Arnita, membuat wanita imut tersebut memandang aneh kepada Chandra.
"Ya?" Arnita memandang Haris bingung, begitupun yang lainnya. Mereka tak kalah bingung melihat sikap Haris setelah penyebutan nama panjang. "Kau sekolah di SMA satu kota C?"
Arnita jelas jelas membulatkan matanya mendengar laki laki itu menyebutkan sekolahnya. "Kok tau?"
"Aku Haris, Haris Morey," kata Haris kembali memperkenalkan nama panjangnya agar gadis imut di depannya mengingatnya.
"Si Pedut, Laras pendek?" Seketika Chandra dan Aliya menahan tawa mendengar nama lama dari Haris.
"Apa Pedut Laras pendek?" Aliya memandang ke arah Haris, wajah sekertaris Chandra dengan garis keturunan India itu memerah. Dia sangat malu.
Dasar ember, dari dulu hingga sekarang kok suka nyeplos. Kesal Haris karena wanita imut itu berulah dengan menyebutkan nama ejekannya.
Sementara Arnita? Wanita itu tersenyum licik, ia akan membalas perlakuan musuh bebuyutannya sejak SMA ini. "Iya punya dia kecil, mungkin kayak perkutut."
Haris semakin ternganga di buatnya, apa apaan ini, wanita di hadapannya itu benar benar mempermalukannya di depan bos nya.
"Pernah lihat?" Chandra kini ikut bersuara, terkejut mendengar penuturan sekertaris istrinya.
"Bukan, saya ga pernah lihat pak, idih merinding disko pak, amit amit amit," Arnita segera mengusap lengannya, seolah benar benar merinding. "Satu sekolah SMA sana juga tahu, saya khawatir dia itu IM POR TEN," ucap Arnita membuat mata Haris benar benar membulat.
"Kau..." Haris menggeram melihat tingkah Arnita yang tak pernah berubah. Rasanya ingin sekali menghilang saat ini juga, tidak lupa membawa gadis itu, agar bisa dia beri pelajaran. Enak saja gadis mengatai dirinya impoten.
Chandra jangan di tanya lagi, tawanya sudah pecah saat kata kata impoten itu di ucapkan Arnita, bahkan dengan menekan setiap hurufnya.
"Maaf nona, saya harus kembali karena masih ada berkas lagi yang harus saya selesaikan," ucap Arnita cepat, ia harus menghindari singa mengamuk, karena termakan omongannya.
"Iya silahkan," kata Aliya tersenyum jahil, sepertinya ia akan lebih sering meminta Arnita untuk datang. Wanita yang tengah hamil muda itu tengah mendapatkan hiburan baru.
"Kak Nita pakai mobil atau taksi?" Aliya bertanya sembari memakan cemilan dari mertuanya.
"Mobil nona muda, soalnya saya baru saja selesai makan siang tadi di kafe depan," ucap Arnita tersenyum manis.
"Ya sudah hati hati kak," Aliya tersenyum, sebenarnya dirinya sejak tadi menahan tawa. Melihat wajah Haris sungguh sangat kasihan. Lelaki itu meringis kala Arnita mengatakan kata impoten. "Kak Haris tolong antar."
Chandra memandang istrinya, tersenyum, sungguh ia mengerti maksud dari wanita itu. Pastinya wanita yang tengah hamil muda itu akan selalu membuat keadaan mereka selalu bersama, dengan keadaan terpaksa dan kebetulan yang di but buat.
"Tapi nyonya muda, pekerjaan saya masih ada," Haris mencoba untuk mengelak, tak ingin mengantar Arnita. Wanita itu terlalu menyebalkan untuknya. Bahkan sangat menyebalkan.
"Sudah tidak akan menunda pekerjaan kamu kok, kalau kamu mengantarkannya," Chandra bersuara semakin membuat Haris tersudutkan. Aliya tersenyum manis ke arah Chandra.
Dasar suami istri somplak. Gumam Haris dengan wajah masa.
Kali ini ia tak punya alasan untuk menolak mengantarkan wanita ini ke bawah, sungguh sangat mengesalkan. Tapi tunggu, bukan kah itu berarti dirinya punya kesempatan untuk membalas perbuatan Arnita? Ah bagus juga, jadi tidak perlu cari cari timing yang tepat.
"Baik nyonya, ayo Nit," kata Haris dengan senyum liciknya. Arnita hapal itu, ia harus lebih berhati hati.
Mau menjahili ku lagi? Aku sudah hapal semua trik mu. Mari kita lihat apa kau punya trik baru? Arnita tersenyum tak kalah sinis, kali ini ia tak akan tertipu lagi dengan laki laki itu. Ia akan mengalahkannya kali ini. Ya, ia akan menang.
Setelah pintu ruangan Chandra tertutup, Aliya segera meminta Chandra untuk mendekat. "Sini sini sini."
Jari jemari Aliya mulai mengakses beberapa cctv di kantor tersebut, termasuk lobi dan parkiran. Aliya mencari tempat yang kemungkinan di lalui oleh Arnita dan Haris. Chandra mendekat dan melihat sepasang musuh bebuyutan itu adu mulut, walaupun mereka tak dapat mendengarkannya, tampak dari gerak tubuh Haris yang mengejek wanita itu.
Sementara itu yang di pantau tengah bertengkar, beradu mulut. "Dasar pendek, aku mengira kau sudah tinggian, rupanya pakai high heels, berapa centi itu? Sepuluh?" Haris terus meledek Arnita, dengan meletakkan lengannya di atas kepala Arnita.
Arnita yang kesal segera memukul lengan Haris yang memang menjulang tinggi, dari atas kepalanya. "Sana kau dasar Pedut, senjata laras pendek pula. Tampaknya kau benar-benar IM_POR_TANT" ketus Arnita, dengan menekan setiap suku katanya.
Arnita sungguh kesal, karena tingginya terus menjadi bahan ejekan Haris. Bagaimana tidak Haris dengan tinggi seratus delapan puluh dua, sementara dirinya yang hanya seratus lima puluh, itupun kalau sampai. "singkirkan tangan kotor 'mu dari kepala 'ku."
Haris semakin tertawa dan menekan tombol lift, sementara tangannya terus mendorong tubuh Arnita yang terus mencoba memukul Haris. Namun lengannya yang pendek, dan tenaga Haris yang jauh lebih besar, membuatnya kesulitan untuk menjangkau harus. "Pendek pendek saja, Tak usah sok mau memukul, tidak akan sampai dasar miniatur."
Sementara itu di ruangan Chandra, Aliya dan Chandra terus tertawa melihat tingkah kedua orang yang tengah berada di layar cctv. Mereka mengingatkan tingkah masa lalu mereka, yang sempat mendapat gelar kucing dan tikus, alias tom and Jerry.