SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Ketahuan.



"Jadi anak mu yang mau melamar anak ku?" Pak Andre memulai kelakarnya, sungguh sudah lama ia tidak berkelakar bersama dengan sahabat SMA-nya itu.


"Hahaha... Iya bagaimana menurut mu?" Pak Shing tak mau kalah, ia membalas ucapan sahabat nya, yang otaknya satu jalur dengannya. Sungguh jika berdua saja, maka banyak yang tidak menyangka mereka sudah seorang dokter dan seorang pegawai kantoran.


"Aku sih Anang," ujar pak Andre meniru gaya Anang Hermansyah saat tengah menjuri di salah satu pencarian bakat.


"Ok aku sih Buncit," pak Shing tidak mau kalah, membuat pak Andre memandang pak Shing dengan menggeleng.


Haris dan Arnita diam diam menarik nafas lega, pasalnya acara lamaran yang ia kira akan lama, kini menjadi santai, dan lebih menyenangkan.


"Ngomong ngomong kapan kita makan di warung mie ayam lagi?" pak Andre tiba tiba teringat kebiasaan lama mereka yang suka sekali makan mie ayam.


"Sudah lama sekali. Setelah acara ini lebih baik nanti malam kita makan mie ayam lagi," usul pak Shing membuat pak Andre mengangguk setuju.


"Ehm... kalian membicarakan apa ya?" Kedua nyonya besar tengah datang dari arah belakang, nyonya Shing datang membawa puding, dengan santainya, seolah sudah biasa masuk ke dalam rumah tersebut.


"Oh, dulu kan kami suka makan mie ayam," ujar pak Shing terkekeh mengingat masa lalu.


"Eh kok mau jadi istirnya Shing? Dia kan jorok, suka kentut sembarangan, suka mengupil," pak Andra memandang nyonya Shing, yang sebenarnya teman masa SMA juga dahulu.


"Kau lebih parah, aku lebih kasihan kepada istri mu," pak Shing jelas saja tidak terima, sungguh pak Andre tak berubah, suka sekali mengejeknya, dan mencoba memancing pertengkaran di antara mereka.


"Hei kenapa? Dokter tampan seperti ku banyak yang suka, hanya saja aku yang tak mau," Pak Andre menyombongkkan dirinya.


Anak anak mereka yang agaknya terdiam sejak tadi, kini mulai menggelengkan kepalanya. Mereka tak menyangka pertemuan keluarga yang akan berbesan akan seheboh ini, penuh drama, dan perdebatan yang tidak jelas.


"Cih, aku lebih tampan. Untung saja calon menantu ku mirip mama nya, kalau mirip dengan mu, kasihan sekali," pak Shing tak mau kalah, kini gilirannya yang mengejek pak Andre. Kelakuan mereka persisi seperti jaman SMA dulu, sungguh membuat nyonya Shing yang jelas tahu kelakuan mereka menjadi menggeleng.


"Bisa kalian berhenti? Kenapa sejak SMA kalian suka sekali bertengkar? Aku pusing mendengar nya," nyonya Shing memutar bola matanya malas. "Ayo calon besan kita ke belakang saja, tinggalkan mereka berdua, mereka akan berdebat sepanjang waktu, aku sudah menghafal sifat mereka."


"Ngomong ngomong, sebelum kalian melanjutkan pertengkaran aneh kalian, lebih baik kita tentukan kapan kalian akan menikah?" nyonya Andre memandang ke arah suaminya, agar segera berhenti berdebat.


"Minggu depan saja! Itu pun paling lama," Haris tiba tiba membuka suaranya.


"Wah... hahahaha... anak mu sungguh seperti mu, tidak sabaran," pak Andre tergelak mendengar permintaan dari calon menantunya, sungguh dirinya tak menyangka calon menantunya itu akan meminta secepat itu.


"Kenapa begitu terburu buru? Kalian tidak bobol duluan kan?" nyonya Andre bergumam, sontak saja membuat Arnita dan Haris menahan nafasnya.


"Eh... em... itu mah..." Arnita tiba tiba tergugup, membuat semua memandang ke arah Arnita dan Haris bergantian, dengan pandangan curiga.


"Nit... jujur sama mama, kamu belum melakukannya kan?" nyonya Andre memandang tajam ke arah Arnita. Arnita tak mampu menjawabnya, sungguh ini sangat sulit untuknya. Ingin berbohong namun juga tak bisa, ingin jujur namun lidahnya keluh.


"Nita..." Bambang yang sejak tadi diam, menatap tajam ke arah Haris, kini mengeluarkan suaranya menggelegar.


"Nit... jangan jangan kalian!" pak Andre kini berdiri hendak mendekat ke arah Arnita.


"Om... ini tidak seperti yang om pikirkan..." Haris segera berucap, takut takut pak Andre melakukan sesuatu hal yang membuat Arnita sedih.


"Om..."


Bugh... belum sempat Haris menyelesaikan kata kata nya, namun pak Andre melayangkan tinjunya terlebih dahulu. Pak Shing tak mencoba melerainya, ia membiarkan pak Andre meluapkan emosinya, dirinya juga akan melakukan hal itu, jika hal yang sama terjadi kepada putri putrinya.


"Andre... Andre sabar. Aku benar benar minta maaf, tapi sebaiknya kita bicarakan baik baik," setelah melihat pak Andre memukuli Haris hingga anaknya tersungkur, pak Shing segera menenangkan pak Andre.


"Apa?! Dan kau Nita... Kenapa? Apa yang pernah papa lakukan sehingga kau melakukan ini semua?!" pak Andre memandang ke arah Arnita, dengan meninggikan suaranya, membentak putri yang tak pernah ia bentak selama ini. Kekecewaan memenuhi hatinya, kecewa kepada anak gadisnya, kecewa kepada diri sendiri.


"Pa... Nita minta maaf, Nita benar benar tak tahu..." Arnita mencoba mengatakan sejujurnya, tapi entah kenapa dirinya tak bisa, hanya air mata yang terus mengalir.


"Tak tahu apa? Apa jangan jangan kalian pulang tadi? Dan semalam kalian melakukannya?!" pak Andre memijit kepalanya yang benar benar pusing.


"Nita!" nyonya Andre melembutkan suaranya, mencoba membujuk Arnita. Nyonya Andre tahu betul watak akan perempuan nya.


"Ma... maaf Nita benar benar tak tahu ini terjadi," Arnita mencoba menjelaskannya dengan sesegukan.


"Apa maksud mu?" kini Bambang juga mulai menurunkan nada suaranya, ikut mencoba membujuk adiknya.


"Om... Nita ingin di jebak oleh seseorang, minumannya kemarin malam di campur obat pe*rang*sang, dan maaf saya tak bisa menahannya," jelas Haris dengan cepat, ketika melihat Arnita sesegukan tak bisa menjelaskannya.


"Kenapa?!" pak Andre memandang ke arah Haris dengan tatapan tak percaya.


"Saya menyukai Nita, saya tidak bisa menahannya, meski saya sudah mencobanya sekuat tenaga, tapi tetap tidak bisa," jelas Haris meyakinkan.


"Lalu... Kalian melakukannya?" pak Andre semakin memijit kepalanya.


"I... Iya pa..." ujar Arnita semakin menjatuhkan air matanya.


"Nita... maaf papa tak tahu," pak Andre memeluk Arnita mencoba menenangkan anak nya. "Siapa yang melakukan hal ini dengan mu."


"Papa..." Arnita mempererat pelukannya.


Haris diam diam tersenyum, melihat Arnita kini tak tertekan lagi.


"Sudah sudah..." pak Andre semakin memeluk tubuh Arnita.


Pak Andre membawa Arnita duduk di sofa, semua terdiam melihat hal itu, pak Shing yang biasanya sangat suka mengeluarkan kelakar kini ikut terdiam menyaksikan pemandangan di hadapannya. Pak Shing tahu betul posisi pak Andre yang mata besar, anaknya di colong star sebelum waktunya, namun pak Shing juga tak bisa marah pada Haris, pak Shing tahu betul efek samping dari obat yang di maksudkan Haris. Jika saja bukan Haris yang bersama dengan Arnita, mungkin saja keadaan akan lebih parah dari ini.


Sayup sayup suara tangis Arnita mulai menghilang, tergantikan suara dengkuran halus. Ternyata Arnita tertidur di dalam pelukan pak Andre. Pak Andre menghela nafas segera memandang anak sulungnya.


"Bambang, bawa Nita ke kamarnya," pak Andre memandang ke arah Bambang.


"Iya pa," Bambang segera mendekat dan mengangkat Arnita yang tertidur di dalam pelukan pak Andre.


Bambang membawa Arnita masuk ke dalam kamarnya, dan membaringkan Arnita di kasur. "Kasian kamu pimoy, siapa sih yang mencoba menjebak kamu, untung saja dia yang bersama dengan mu, jika tidak... Kami tak tahu harus bagaiman," Bambang mengecup singkat kening Arnita, sebelum akhirnya keluar dari kamar Arnita.