
Lama Aliya berada di dalam kamar mandi, dirinya sedikit was was menunggu hasil. Begitupun dengan para pemirsa live yang ada di luar kamar mandi, mereka tampak tak sabaran menunggu Aliya keluar dengan hasil yang di inginkan.
"Halo Al, lo masih lama ya?" Chandra menggedor gedor pintu kamar mandi, yang tengah di isi oleh Aliya.
"Eh, kok gitu nanya nya," nyonya Mona memberikan plototan untuk anaknya.
"Lah kan dia masih di dalam," jawab Chandra dengan polos, sembari memandang bingung ke arah nyonya Mona.
"Iya coba bilang sayang udah selesai ya?" Ingin sekali nyonya Mona meremas wajah tampan anaknya.
"Eh emang beda?" Chandra justru bingung dengan maksud nyonya Mona.
"Ya beda lah, kalian bukan teman bermain, kalian itu suami istri. Manggilnya kok lo gue," kesal nyonya Mona memandang tajam ke arah Chandra. Chandra yang mencoba mencari dukungan segera memandang ke arah kakek Rio dan tuan Omer, mereka serentak menggelengkan kepala.
"Kan kebiasaan mama," Chandra sedikit cengengesan.
"Hais terserah kalian lah," nyonya Mona menyerah menasehati anaknya, yang memanggil istrinya lo gue. Padahal anak jaman sekarang aja kalau untuk pacar itu minimal kamu aku. "Anak tetangga sebelah aja yang masih SD manggil pacarnya ayah bunda."
"Ih serem," kata ketiga lelaki beda generasi tersebut, menirukan salah satu judul film anak anak.
"Sayang, lo udah selesai ya cil?" Chandra kembali memanggil Aliya sembari mengetuk pintunya.
"Tu kan cal cil, cal cil nya ga pernah bisa ketinggalan," kembali lagi nyonya Mona protes dengan panggilan anaknya.
"Kebiasaan mah," kata Chandra menggaruk rambut bagian belakang nya, yang jelas tidak gatal.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka menampakkan wajah Aliya yang masih memegang alat testpack nya. Wajah Aliya tampak sangat tegang ketika memegang alat tersebut. Nyonya Mona yang melihat hal tersebut menjadi penasaran sendiri. Berbagai pertanyaan yang timbul di otak nya.
"Gimana hasilnya?" Nyonya Mona segera mendekati Aliya, dan mencoba mengambil alih test kehamilan dari Aliya.
"Belum mah," Aliya sedikit cemas di nada bicaranya. Chandra segera meraih tangan Aliya, dan mulai mengecup nya.
Aliya yang melihat hal itu menjadi jijik sendiri, begitupun dengan yang lain. Meskipun tangan Aliya tidak mengenai urin, tetapi tetap saja masih ada tersisa rasa jijik di sana.
"Lah kamu ngapain di dalam tadi?" Kini kakek Rio yang bertanya, bingung dengan cucunya yang lama di dalam sana, namun belum menemukan hasil.
"Nunggu pipis, soalnya ga mau pipis, jadi Al mondar mandir aja di dalam," jujur Aliya membuat semua orang bertepuk jidat, tentu saja di jidat masing masing.
"Allahuakbar Aliya, kan bisa minta air minum," ucap kakek Rio menggeleng melihat tingkah cucunya.
"Lupa," jawab Aliya cengengesan, membuat yang lain semakin menggeleng.
"Mana tadi? Sini kita periksa bareng bareng. Ini kamu kencingi kan dua duanya?" Nyonya Mona mengalihkan pembicaraan mereka, dan merebut testpack yang ada di tangan Aliya.
"Apa lo kencingi?" Chandra yang baru tahu cara kerja testpack di buat syok mendengar kata kata kencingi dari nyonya Mona.
"Lah emang gue apain lagi? Gue ****? Lo ga pernah test narkoba ya?" Aliya memandang Chandra heran, begitupun yang lain mereka bahkan kini mulai tersenyum senyum, karena mengingat Chandra tadi mengecup tangan Aliya, yang mereka yakini pasti belum cuci tangan.
"Lah ngapain? Orang gue ga pernah makai," Chandra justru kesal ketika di tanya hal tersebut.
Chandra menggeleng, namun tiba tiba ia diam. Chandra ingat tadi dirinya habis menggenggam bahkan mencium tangan istrinya, membuatnya panik dan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Eh lo mau kemana?" Aliya bingung melihat Chandra yang panik sendiri, dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Gue mau cuci tangan, cuci bibir, jorok banget," ucap Chandra sebelum akhirnya menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
"Dasar sableng belok lo," umpat Aliya segera memandang ke arah nyonya Mona, yang tersenyum senyum sendiri melihat tingkah anak dan menantunya.
Lama mereka menunggu, akhirnya hasil akhir keluar. Semua terlihat begitu antusias, terlebih nyonya Mona yang melihatnya sangat mengharapkan hasil garis dua.
"Tu kan garis dua, sudah mama duga kalau kamu itu lagi badan dua," nyonya Mona berseru semangat ketika melihat ada dua garis biru di kedua alat tersebut.
"Hah serius ma?" Aliya seakan tak percaya, bahwa dirinya telah mendapat garis dua.
"Iya sayang," nyonya Mona segera mengusap lembut kepala menantunya. "Chandra kita ke rumah sakit sekarang," nyonya Mona berteriak tepat setelah Chandra keluar dari kamar mandi.
"Apa? Jadi kamu benar hamil?" Chandra berjalan mendekat ke arah Aliya, yang tengah tersenyum. Aliya segera merentangkan tangan ingin menghamburkan pelukannya ke arah Chandra. "Idih cuci tangan dulu sana, jorok."
Aliya yang kesal segera memegang baju suaminya, dan mengusap tangannya di tangan Chandra. "Ih jorok, mandi aja lah gue, parah banget lo."
Chandra berlari menuju kamarnya, di lantai dua, dan masuk. Blam. Terdengar suara pintu kamar mandi yang di banting oleh Chandra dengan keras.
^^^"Curut awas lo kalau pintu kamar mandinya rusak," umpat Aliya dalam hati.^^^
"Ya udah mah, Al mandi dulu ya, sekalian siap siap buat ke dokter," Aliya segera pamit kepada nyonya Mona, di sambut oleh anggukan antusias nyonya Mona. "Bik tolong suruh yang lain beli strawberry lagi ya, buat pudingnya."
"Iya non," kata bik Ina yang kebetulan tengah melintas di bawah tangga. "Nyonya jadi non Aliya beneran hamil?"
"Iya bik, sebentar lagi saya jadi nenek," nyonya Mona sangat antusias, hingga mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Ah... selamat nyonya," bik Ina juga melakukan hal yang sama, dirinya bahkan menyambut tangan nyonya Mona. "Eh maaf nyonya,"
"Ga apa apa bik," nyonya Mona tak mempermasalahkan hal tersebut. "Papa mau ikut? Kita antarin Aliya dan Chandra," nyonya Mona memandang ke arah kakek Rio, yang masih takjub memasang testpack tersebut.
"Ayo deh, papa mau siap siap dulu," kakek Rio tersadar, dan segera berjalan menuju kamarnya.
Tepat nyonya Mona hendak masuk ke dalam kamar, dirinya melihat bik Imah dengan wajah bingung. "Imah bagaiman? Kamu udah ga penasaran lagi kan? Atau jangan jangan positif ya?"
"Bukan nya, nganu, ini," bik Imah menggaruk tengkuknya.
"Nganu kenapa Imah?" Nyonya Mona semakin penasaran, dan memandang curiga ke arah bik Imah.
"Itu nya, Imah ga tau cara pakainya nya, jadi dari tadi Imah lihatin aja," jujur Imah, menampakkan wajah polosnya. Nyonya Mona tergelatak, ternyata bukan hanya anaknya yang langkah, ternyata ada yang satu spesies dengan anaknya.
"Cari di internet, atau di kulitnya ada tu," kata nyonya Mona segera menutup pintu kamarnya.
"Oh iya ya, ga kepikiran. Pantas tuan sayang sama nyonya, orang nyonya pintar," puji bik Imah dengan khas logat mendoknya.