
...I wonder how, I wonder why....
...Yesterday you told me 'bout the....
...Blue, blue sky....
"Curut hp gue bunyi," Aliya segera mendorong suaminya yang tampak tak perduli dengan bunyi ponselnya yang nyaring. Bahkan kini Chandra sudah asyik dengan permainannya sendiri. Bermain menandai di bagian leher hingga bahu sebelah kanan.
Ah, tanda itu tampak sangat pantas untuk istrinya, sangat serasi, sangat cocok, sangat kontras dengan warna kulit istrinya. Chandra bahkan berpikir itu akan sangat nampak se ksi di tubuh Aliya.
...And all that I can see....
...Is just a yellow lemon tree....
"Curut gue mau ngangkat telfon, lo denger ga sih?" Aliya berusaha menjauhkan Chandra dari tubuhnya, yang saat ini masih berada di posisi berdiri. Aliya tak bisa keluar, Aliya di himpit di dinding, dengan pergerakan yang di kunci oleh Chandra.
...I'm turning my head up and down....
...I'm turning, turning, turning, turning....
...Turning around....
...And all that I can see....
...Is just another lemon tree....
Chandra bak tuli, atau entah menulikan telinganya. Nada panggilan dari ponsel Aliya benar benar seolah silent di buatnya, Chandra terus mengunci pergerakan Aliya di dinding, hingga ponsel itu berhenti berdering, dengan lagu lemon tree yang di populerkan oleh Fools Garden.
Chandra segera mengangkat tubuh Aliya menuju tempat tidur, melewati satu sekat, yang memisahkan pintu utama kamar mereka dengan tempat tidur mereka. Suara cecapan dan le*ngu*han terus melambung. Beriringan dengan bibir Chandra yang terampil di sekitar gunung Alpeniya.
^^^Ah untung saja pengganggu ga datang lagi, awas saja kalau menelfon, gue santet online, lengkap dengan gambar pocong potongannya, di stiker wa. Chandra berucap kesal di dalam hati.^^^
Terlebih tadi ketika hendak menyambangi gunung Alpeniya tiba tiba terdengar suara ponsel, dan membuatnya menjadi menyerang pundak dan leher saja.
...I wonder how, I wonder why....
...Yesterday you told me 'bout the....
...Blue, blue sky....
ponsel Aliya kembali berbunyi untuk kedua kalinya, hal ini semakin membuat Chandra kesal. Ah, rasanya benar benar akan ia cabik cabik si penlfon.
"Huh, awas aja kalau ga penting, gue kirimin gambar pocong nangkring di atas pohon tu orang," umpat Chandra segera menjauh dan melihat siapa sih yang menelfon istri cantik nya di malam penuh syahdu ini.
"Curut itu pocong atau kuntilanak?" Aliya bingung sendiri dengan umpatan suaminya, antara pocong, atau kuntilanak. Atau itu kuntilanak yang menyamar menjadi pocong, untuk nge_prenk para pocong yang suka ribut kalau melewati pohonnya? Atau itu pocong tapi salah pergaulan? Atau itu sebenarnya pocong jatidiri kuntilanak? Dan masih banyak lagi pertanyaan di benak Aliya mengenai pocong nangkring di atas pohon.
"Itu persilangan, ada gen pocong dan kuntilanak nya," jawab Chandra asal membuat Aliya mengangguk angguk, bak burung kutilang berbunyi.
"Pernah liat di mana?" Aliya bingung sendiri, sekaligus penasaran. se abstrak abstrak nya makhluk itu, baru kali ini Aliya mendengar ada yang se abstrak dan se aneh itu.
"Pocong kesurupan kuntilanak, udah ah hp lo mana?" Chandra akhirnya kesal Aliya terlalu banyak pertanyaan, dan terlalu penasaran. Seperti calon anak mereka nanti kalau masuk TK, dengan banyak pertanyaan.
"Ah, ini," Chandra sedikit malu ketika menggenggamnya.
Ah, pantas saja tadi Chandra merasakan seperti ada sesuatu yang bergoyang di bawah dua karung oleh oleh Joko, untuk kekasihnya Jubaedah. Ternyata itu adalah ponsel Aliya, yang ia kira itu adalah bentuk kemarahan Joko, yang harus menunda bertandang ke rumah Jubaedah.
Chandra segera mengecup puncak kepala Aliya, setelah menggeser tombol hijau ke atas, dan membesarkan suaranya.
"Halo," Aliya segera menerima telfon tersebut, sembari mengambil ponselnya dari tangan Aliya. Chandra membiarkan nya saja, itu dari Brayen. Chandra akan mendengar percakapan mereka, mungkin saja itu tentang Juwita.
"Hm... Al gue boleh nanya ga?" Chandra dapat mendengar jelas suara ragu ragu dari Brayen, Chandra dapat menebak itu. Menjalin hubungan yang cukup lama, membuatnya mengenal bagaimana sebenarnya sikap Brayen.
"Kenapa? Tanya aja, ga apa apa kok," jawab Aliya santai.
"Hm, makasih ya," kata Brayen masih diliputi rasa sedikit bimbang.
"Iya jadi lo mau nanya apa?" Aliya kini berusaha menjauhkan tubuh suaminya dari, pasalnya saat ini Chandra justru asyik menanjak, di puncank gunung Alpeniya. Jika terus begini maka dirinya akan mengeluarkan suara yang mampu menggoyahkan iman dari Brayen.
"Hm, lo tau ga Juwita di mana?" Chandra seketika melepaskan gunung Alpeniya, dan segera memandang Aliya yang tengah balas memandangnya.
"Apa?" Aliya tampak bertanya nyaris tanpa suara, saat suaminya memandangnya dengan pandangan bertanya.
"Dia lagi galau?" Chandra berbisik juga dengan suara yang nyaris hilang, seolah takut ada yang akan mendengarkannya.
"Ga tau, kan belum nanya," Aliya menggedikkan bahunya, mendukung mulutnya yang bilang 'gue ga tau apa apa, jangan tanya gue' begitu lah kira kira.
"Oooo," Chandra hanya menunjukkan bibirnya yang berbentuk bulat, dan kembali kepada aktifitasnya menanjak puncak gunung Alpeniya.
"Al lo masih di sana ya? Gue ganggu ya?"
Ah, Aliya hampir saja melupakan Brayen, karena terlalu asyik bergosip mini dengan suaminya.
"Aaa, iya gue denger kok. Tadi lo nanya si Juwita kan? Gue ga tau Bray, kemarin sih terakhir dia wa sama gue, terus dia bilang mau liburan sebentar, gue ga nanya sama dia mau kemana, terus tadi pagi gue hubungin rupanya nomor nya udah ga aktif," jelas Aliya kepada Brayen, memang begitu lah adanya. Kemarin memang mereka masih bersuah di group, hingga akhirnya Juwita mengatakan bahwa dirinya hendak liburan, dan membuat Aliya dan juga Angel saling meminta untuk di belikan oleh oleh.
Ah, memang bukan sahabat yang baik, di saat temannya hendak liburan mereka justru nitip oleh oleh, bukannya mendoakan keselamatannya. Aliya memang menanyakan alasan Juwita saat itu, namun Juwita hanya mengatakan ingin beristirahat saja, menghilangkan penat yang selalu berkutat dengan pasien luar biasanya.
"Oh, dia ga bilang ke mana gitu?" Brayen tampaknya sangat lesu ketika mengatakan hal tersebut.
"Ga, gue kemarin nanya, dia cuman bilang rahasia, biar baliknya bisa surprise. Gue juga ga bisa nanya terlalu banyak, soalnya gue kenal banget sama dia. Kalau udah bilang gitu, dia tandanya ga mau di tanya lebih banyak, jadi gue sama Angel diam, biar nanti pas balik dia cerita ke mana aja," Aliya kembali berbicara panjang lebar kepada Brayen. "Tapi dia emang gitu kok kalau lagi setres. Emang dia ga ngomong sama lo? Lo lagi berantem sama dia?"
Kini berondongan pertanyaan dari Aliya membuat dirinya sedikit pusing, bagaiman cara menjawabnya, dan jika istri sahabatnya nya ini tahu, apa yang akan dia lakukan? Ah, semua itu membuat Brayen pusing. "Eh iya, biasalah," Brayen akhirnya memutuskan untuk menjawab dengan sedikit kekehan, demi menetralisir rasa gugupnya.
"Oh, jangan lama lama, Juwita itu orangnya setia, tapi kalau dia udah muak dengan sikap orang, biasanya dia akan menjauh, lama kelamaan dia bisa minta putus. Nah kalau sudah putus dia susah di ajak balikan," jelas Aliya.
"Nah sesi curhatnya besok aja lagi Bray, gue lagi mau garap garapan dengan bini' gue," Chandra segera merebut dan mematikan ponsel istrinya, kemudian beralih ke ponselnya, agar tidak ada yang mengganggunya.
Akhirnya sesi ritual sucinya yang sempat tertunda kembali berjalan dengan baik, membuat Chandra dan Aliya kembali menikmati dahsyatnya, tergulung oleh arus kenikmatan.
...Guys tolong budayakan like dan komentar ya, tahukah anda menurut nopidia memberi like dan komentar akan menambah semangat author untuk berkomentar....